
Jika ditanya apakah Ella rindu pada keluarganya di negara I, tentu saja dia akan menjawab sangat merindukan mereka tetapi sekarang ini dia hanya bisa bersembunyi di balik bayang-bayang Elleane.
Setelah penyelamatan Clara berhasil dilakukan, dia langsung kembali ke markas menggunakan mobilnya sendiri.
Para pengawal bayangan setengahnya masih membersihkan jejak yang mungkin saja tertinggal di daerah penyekapan Clara.
Clara sendiri kembali dengan Dad dan Grandpa-nya setelah dimintai beberapa keterangan. Akhirnya didapatkanlah laporan bahwa para penculik merupakan sindikat perdagangan manusia.
Hal itu memang benar adanya. Clara tidak sempat memeriksa latar belakang para preman sewaannya tapi langsung saja membayar mereka. Setelah hal ini, mungkin saja dia akan menjauh dari dunia hitam.
***
Ella merebahkan dirinya merasa cukup lelah. Menangani perkara Clara memang membutuhkan sedikit kekerasan karena Clara juga berasal dari keluarga mafia yang bisa saja membuat Ella terluka.
Telepon genggam Ella berdering dan sebuah nama tertera di sana membuatnya segera bangun untuk mengangkatnya.
"Halo, Tuan Willem" sapanya halus.
"Di mana kau sekarang?" Tanya Tuan Willem to the point.
"Di markas. Ada apa, Tuan?"
"Malam ini tidurlah di mansion karena besok akan diadakan pesta kecil. Aku harap kau bisa membawa diri"
Ella tersenyum misterius dan kemudian menjawab.
__ADS_1
"Apa yang Tuan takutkan dari tingkah lakuku? Apakah Tuan takut mereka tahu aku bukan Elleane? Aku harap Tuan tidak membuat trik untuk mengujiku karena aku bisa saja membuat semua ini terbongkar dengan mudah" Ancam Ella.
"Aku hanya memintamu menghadiri pesta"
Suara di seberang sana terdengar cukup tegas.
"Baiklah"
Sambungan telepon terputus kemudian Ella menyeringai halus merencanakan sesuatu.
Ting! Notif pesan singkat masuk. Ella membacanya kemudian mengerutkan dahi.
Keluarga kalian tidak diundang, mengapa? Ella
Tidak. Aku ingin tahu alasannya. Brenda
Aku lupa kalau aku sendirilah yang telah menyinggungnya. Aku kabari lagi nanti jika saja mereka mengirimkan undangan. Brenda
Mereka akan mengirimnya tapi mungkin terlambat karena tadi aku baru saja mengancam Tuan Willem. Ella
Hahaha hanya kau sendiri saja yang berani mengancamnya. Brenda
Demi kelangsungan hidupku. Baiklah aku harus mengurus dua bayiku. Ella
Bayi... Kau sudah melahirkan? Kenapa tidak memberitahuku? Brenda
__ADS_1
Astaga jawab aku El, Brenda
Apakah kau menikah muda? Siapa suamimu? Brenda
Elleane, jawab aku!!! Aku sangat penasaran, ugh! Brenda
Ella sengaja tidak membalas pesan Brenda karena malas menjelaskan lewat pesan. Dia hanya membiarkan rasa penasaran menyiksa Brenda.
Untung aku tidak meneleponnya tadi. Jika itu terjadi maka percakapan ini panjang seperti rel kereta api. Ella tersenyum dan menggeleng pelan mengingat sahabat konyolnya tersebut. Tiba-tiba saja dia merindukan Emma.
Lama panggilan itu tapi tidak dijawab. Apakah Emma sibuk melayani Jackson? Pikir Ella. Sejurus kemudian, dia bangkit dan merenggangkan ototnya yang kaku lalu pergi mandi.
***
Selesai mandi dan bersiap, Ella pergi ke kamar bayinya. Dia punya waktu beberapa jam sebelum pergi ke Mansion Willem.
Ella mengecup pelan pipi dua bayinya yang sekarang telah berumur 7 bulan. Gusi Theya sudah nampak membengkak dan akan tumbuh gigi. Sedangkan Theo sudah lebih dahulu tumbuh.
Kegiatan menyusui bayinya adalah kegiatan paling menyenangkan. Dia dapat membelai dan memandang wajah bayinya itu lama.
Walaupun bukan bayi yang dilahirkannya, tetapi kasih sayang yang dia berikan melebihi seorang ibu kandung. Di usianya yang ke 18 ini dia menjadi ibu muda yang tangguh.
Setelah menyelesaikan ritual mengurus bayi, Ella bersiap untuk pergi ke mansion Willem karena besok malam akan ada acara di sana. Entahlah acara apa?
Ella sedikit ragu hanya saja ini kesempatan dia untuk bisa meretas sistem dari dalam mansion itu sehingga tidak akan dicurigai.
__ADS_1
Setelah mengirim pesan pada Steven, Ella pergi dengan mobil yang datang menjemputnya. Dia memantapkan hati dengan segala sesuatu yang akan terjadi padanya di rumah itu