
Mohon perhatian:
Beberapa adegan di bawah ini tidak layak dibaca bocil.
Yang puasa juga jangan di baca🙏
Kak Komang Bi, aku sudah memenuhi permintaannya😏 Jadi, aku ajuin juga permintaan nanti.
***
Kabar pernikahan antara Emma dan Jackson sudah tersebar. Tinggal beberapa hari lagi upacara digelar tapi Ella belum nampak di kediaman Dhawn. Emma mencemaskan kondisi sahabatnya itu yang sudah beberapa bulan tidak ada kabar.
"Sayang..." Mami Chyntia datang dan langsung duduk di samping Emma."Melamun apa?" Tanya Mami Chyntia lembut.
"Ella belum ada kabar padahal sudah 6 bulan dia pergi. Apa dia sudah melupakan kita?"
"Ella pergi untuk berobat. Apalagi dia sudah bertemu keluarga yang sebenarnya sehingga dia pasti betah di sana"
"Pernikahanku besok tanpa Ella rasanya hambar. Aku ingin dia ada saat aku senang ataupun sedih" Emma memeluk Mami Chyntia dengan sayang.
"Aku tahu gadis itu pasti memiliki rencana. Dia akan datang. Percaya pada Mami"
Akhirnya Emma tenang dan menyiapkan diri untuk upacara pernikahannya besok.
***
"Kak..." Emma mendapat pelukan hangat dari Layla dan Henry.
"Kau menyusul dengan sangat cepat" Layla menggoda Emma yang wajahnya memerah sempurna.
"Lalu kakak kapan menyusul?"
"Belum tahu" Layla panik sendiri saat Emma balas menggodanya karena dia punya hubungan khusus dengan seseorang.
"Apa kau sudah siap?" Henry datang dan mengelus pelan pipi gadis kecilnya. Melihat Emma, seperti melihat Ella dalam balutan gaun pengantin.
"Aku selalu siap"
"Ayo..."
Henry menyodorkan lengan kanannya yang langsung digamit Emma dengan perasaan haru. Sungguh dia tidak pernah menyangka akan ada yang mengantarkannya menuju cinta sejatinya.
"Hey, jangan menangis" Layla dengan sigap melap air mata yang hampir tumpah.
Akhirnya mereka keluar dengan senyum mengembang. Si kembar sudah menunggu mereka di depan pintu memegang keranjang bunga dan sibuk menghambur-hamburkannya di depan pengantin wanita.
Jackson menunggu di depan altar dengan berdegup ria. Dia sudah merasakan tangannya berkeringat. Pujaan hatinya berjalan dengan anggun.
Emma juga merasakan hal yang sama bahkan dia merasa kakinya tidak mampu menopang tubuhnya lagi. Dia sedikit meremas lengan Henry karena gugup. Henry memakluminya dan menepuk tangan itu pelan sebelum menyerahkan jemari lentik itu ke tangan yang berhak.
"Aku titip adikku. Jaga baik-baik. Aku percaya kau bisa"
"Terimakasih..." Jackson tersenyum tulus pada sahabat karibnya lalu mengulurkan tangan berharap Emma meraihnya.
Walaupun berdebar tapi mereka berdua mengucapkan janji dengan lantang. Jackson menatap mata Emma menyalurkan kebahagiaannya sedangkan yang ditatap bersemu merah.
Cincin yang dipegang si kembar kini sudah bertengger di jari manis keduanya. Jackson tanpa diperintah segera mendaratkan ciuman manisnya di bibir Emma bersamaan dengan tepuk tangan tamu undangan.
***
Emma menyalami tamu undangan dengan memerhatikan mereka secara seksama kalau-kalau Ella datang dan menyamar sebagai salah satu undangan tapi sayangnya sampai saat ini belum nampak batang hidungnya.
Sudah pukul 10 malam tetapi tamh undangan belum berhenti menyalami mereka. Hingga Emma sedikit kelelahan dan memanyunkan bibirnya tepat setelah orang terakhir pergi. Emma tertunduk lesu menatap sepatu cokelat milik tamu yang baru datang menjelang acara dansa.
Emma menatap tamu di depannya lama hingga sebuah senyuman manis terukir indah di bibir tamu tersebut. Emma ingin meloncat saking girangnya tapi dia menormalkan kembali ekpresinya.
"Selamat atas pernikahanmu. Aku harap kau berbahagia selalu"
"Terimakasih sudah datang di tengah kesibukanmu"
"Aku sudah janji, kan?" Ella mengedipkan sebelah matanya kemudian beralih menyalami Jackson kemudian pergi untuk mengambil minuman.
"Siapa itu?" Tanya Jackson penasaran melihat gadis bule yang menyalaminya tadi.
"Teman saat Junior School " jawab Emma sekenanya heran saat Jackson tidak mengenali Ella.
__ADS_1
"Oh. Dia mirip Ella"
"Benarkah? Mau berkenalan dengannya?"
"Tidak sempat karena kita harus turun berdansa dan aku mohon jangan injak kakiku"
"Tenang saja..."
Musik dansa yang diputar sungguh menimbulkan suasana romantis. Tapi bagi Ella hidangan adalah kekasihnya. Dia masa bodoh dengan tatapan orang-orang yang menganggapnya rakus.
"Mereka baru melihatku makan sebanyak ini sudah kaget apalagi jika bertemu Edgar yang selera makannya tidak kalah dariku" Ella berbisik pada dirinya sendiri sambil terus mengunyah.
Jackson dan Emma bergerak seirama musik. Saling menarik dan berputar. Merangkul dan berputar lagi dengan manis. Jackson berkesempatan memeluk pinggang Emma dan merapatkan tubuh mereka yang berakhir dengan adegan ciuman memabukan.
"Rasanya aku tidak bisa menahan diri lebih lama lagi"
Emma hanya tersenyum mendengar ucapan Jackson yang mengajaknya bertempur.
Ella yang menyaksikan kedua sejoli itu berciuman hanya terkikik geli. Dulu saja mereka meneriaki Jackson pedofil sekarang malah salah satunya menyerahkan diri dengan sukarela. Jodoh tak kemana. Ella meraih gelas minumannya dan menenggaknya habis.
"Ugh!! Kadar alkohol ini sangat tinggi. Sial" Ella memegang kepalanya yang sedikit pusing.
Lantai dansa sudah berubah menjadi panggung disko, membuat Ella beringsut maju dan mulai meliukan tubuhnya mengikuti irama musik. Camael sengaja dia matikan karena dia tahu keamanan Mansion Dhawn sangat terjaga.
Gio dan Vico juga ikut menari di samping sambil menggoda dirinya. Dua makhluk tampan itu benar-benar tidak menyadari kehadiran Ella. Saat Vico ingin meraih tangan Ella, sebuah cekalan membuatnya terkejut.
"Lepaskan" Perintah yang tegas itu langsung dilaksanakan Vico tanpa banyak bicara. Steven menatap mereka berdua dengan tatapan menghujam.
"Ayo...." Gio sigap menarik Vico menjauhi mereka karena tahu bahwa gadis manis itu milik seseorang.
Steven hanya berdiri diam di depan Ella memandang gadisnya yang semangat berpesta. Setelah berubah menjadi Elleane, Ella juga menyukai pesta. Dulunya, Ella hanya fokus belajar tanpa memusingkan pesta pora ataupun perkumpulan sosialita.
"Kau mulai nakal, gadisku!!" Bisik Steven di telinga Ella.
Ella yang dalam pengaruh Alkohol hanya tertawa dan mulai mengalungkan tangannya di leher Steven. Sangat menenangkan mencium aroma yang dikenalinya.
"Ed, kau kembali, hm?? Ini sangat membahagiakan"
Hembusan napas Ella di ceruk lehernya membuat Steven harus banyak bersabar. Dia tergoda akan suara serak Ella.
"Berhenti menghembuskan napas di sana sebelum aku menjadi ganas"
***
Ketika lantai dansa berubah menjadi panggung disko, Jackson sudah menculik pengantin wanita. Ayah ibunya yang melihat itu hanya terkikik geli. Jerremy sendiri hanya menyesap wine tanpa mau merilekskan tubuhnya dengan bergoyang.
Sedangkan Paman Raymond berpesta ria bersama Layla dengan bayang-bayang Henry. Carol, Jay dan si kembar sudah lebih dahulu masuk kamar untuk tidur karena tidak baik bagi mereka tidur terlalu larut.
Di Kamar Jackson yang kini berubah menjadi kamar pengantin, Emma duduk dengan gelisah karena menunggui Jackson mandi. Dia sudah melepas semua aksesoris di tubuhnya. Bahkan gaun pengantinnya teronggok begitu saja.
"Mandi sana" Hanya sepenggal kalimat yang Jackson ucapkan kepada Emma.
Emma bangkit dan langsung kabur menuju kamar mandi tanpa mau melihat wajah Jackson. Karena terlalu lama menunggu, akhirnya Jackson lebih memilih untuk memungut gaun yang teronggok dan merapikannya.
Emma keluar dengan wajah yang bersinar cerah. Dia menampakan senyuman manisnya yang disambut Jackson dengan sebuah ciuman.
"Hah.. hah..." Napas Emma tersenggal karena ciuman maut Alpaca tersebut benar-benar membuatnya kehabisan napas.
Jackson duduk di tepi ranjang dan membiarkan Emma duduk diatas paha berhadapan dengannya. Emma malu akan posisi ini hingga wajahnya merah tomat.
Cup! Kecupan mendarat di pipi Emma yang merona. Jackson sengaja menyesapnya sedikit membuat wajah itu makin memerah.
"Sayang..." Jackson mendekap Emma lembut.
"A... Ada.. A..pa?" Gugup bertambah ketika Jackson memanggilnya sayang. Dia terbata dengan sendirinya.
"Bolehkah?"
"Bo..Boleh apa?" Tanya Emma pura-pura tidak tahu.
"Membuat Jackson junior. Lebih bagus membuatnya sekarang. Mungkin saja bulan depan akan ada kabar baik"
"Itu.... terserah Kakak saja" Emma pasrah menyerahkan dirinya.
Jackson tersenyum. Bahkan dia berhasil menampakan deretan giginya yang putih berkilau. Merasa Jackson terlalu lama senyam-senyum, Emma akhirnya lebih dahulu menyesap bibir suaminya.
Jackson yang awalnya kaget sekarang begitu menikmati sapuan lidah Emma di dalam rongga mulutnya. Mereka berperang lidah. Saling memilin dan menghisap. Bertukar saliva dan menenggaknya habis seolah-olah itu adalah vitamin pembangkit hasrat.
Emma merasakan sela pahanya ada yang menyeruduk seperti tongkat pemukul yang ujungnya tumpul. Ketika dia sibuk dengan pikirannya, Jackson sudah beralih mengecup lehernya.
__ADS_1
Jackson kemudian merebahkan Emma diranjang tanpa kelopak mawar tersebut karena Emma tidak menyukainya. Sekali tarikan, handuk yang Emma pakai terlepas dan dibuang ke belakang tubuhnya.
"Indah..." Sebuah kata yang mewakili kemolekan tubuh Emma yang menurutnya sangat pas untuknya. Jeruk yang pernah dirasakannya waktu itu terpampang dengan manis dihadapannya seolah-olah berbisik untuk segera menikmati mereka.
Jackson mengecap salah satunya dan membelai yang lain mengabaikan suara halus Emma yang terbuai akan sentuhannya. Ciuman itu kini turun menyusuri perut rata Emma makin ke bawah menuju surga dunianya.
Emma tidak berani melirik apa yang Jackson lakukan di bawah sana karena dia sibuk mengatup mulutnya yang kini mengeluarkan erangan nikmat.
"Kak..." Emma terperanjat saat membuka mata, tubuh polos dihadapannya dengan pedang mengacung sempurna menatapnya intens seolah-olah bertanya apakah dia siap.
Emma mengalungkan tangannya di leher Jackson sambil mengira-ngira apa yang sedang dilakukan Jackson dengan pisangnya tapi kemudian,
"Akh!!!" Refleks sebuah gigitan mendarat di bahu Jackson.
"Ermngh!!!" Jackson juga meringis sakit. Pedangnya dijepit kuat dan bahunya sasaran gigitan.
"Tahan sedikit, ok?" Jackson berusaha lagi karena sebelumnya belum berhasil.
"Aku mencintaimu..." Ucap Jackson saat dirinya berhasil memasuki Emma seutuhnya. Dia mengelap peluh dan air mata Emma.
"Ughhhh!!" Emma merasa terbelah, sungguh sakit. Ini lebih sakit daripada pukulan pelatih saat di markas.
"Apakah sangat sakit? Kalau begitu kita berhenti saja"
Ketika akan mencabut pedang berbentuk pisang tersebut, Emma menahan pinggang Jackson.
"Lanjutkan saja. Akan lebih sakit jika berhenti sekarang. Ermmm.. maksudku nanggung" Emma menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Hehehe" Jackson hanya tertawa pelan saat tahu Emma juga menginginkannya.
Dan Jackson mulai menggerakan pinggulnya pelan dengan Emma yang juga mulai bersuara indah. Semakin cepat Jackson bergerak, Emma makin terlena hingga sebuah hentakan berhasil membawa keduanya menuju puncak gunung.. Eh salah, puncak kenikmatan surga dunia. Jackson ambruk di samping Emma dengan Emma yang ngos-ngosan.
Setelah mencabut pedangnya, Jackson menyelimuti mereka dan merelakan lengannya sebagai bantalan Emma. Sungguh romantis.
"Selamat malam, sayang.." Kecupan hangat mendarat dikening Emma.
"Selamat tidur, suamiku" Tangan Emma langsung melingkar di tubuh Jackson. Tak butuh waktu lama, keduanya terlelap.
***
Dengan susah payah, Steven menggendong Ella menuju kamar Edgar. Kamarnya dahulu tempat dia membuat Ella berhasil keluar dari traumatis mendalamnya.
"Kau makin berat karena banyak minum" Komentar Steven.
Dia harus pandai menyembunyikan diri karena belum saatnya orang lain tahu bahwa dia masih hidup. Dengan langkah cepat dia melangkah.
"Lain kali tidak kuijinkan kau minum lagi" Kata Steven merebahkan Ella kemudian beringsut untuk mengunci pintu karena memang awalnya pintu itu terkunci.
"Hufhhh... Sangat panas!!" Ella berusaha bangun kemudian melepaskan coat yang dipakainya.
"Jangan buka!!"
Peringatan itu tidak di dengar Ella karena kini hanya tinggal baju dalamnya saja.
"Gadis ini kalau mabuk sangat rese dan memusingkan" Steven berusaha memasangkan Ella selimut tapi sayang ia ditarik Ella hingga jatuh menimpanya.
"Apa yang.... emmghh"
Ciuman yang manis itu mendarat dengan mulus di bibir Steven. Ella menikmati ciumannya dengan mata terpejam seolah-olah dia bermimpi. Mau tidak mau, Steven juga menyalurkan rasa rindunya melalui ciuman tersebut. Dia membalas ciuman Ella. Sejurus kemudian Ella melepaskannya dan kembali tidur tanpa rasa berdosa menyisakan umpatan kecil yang keluar dari mulut Steven menyadari sesak di celananya.
"Lain kali aku tidak akan melepaskanmu"
Steven memilih kamar mandi untuk mendingin suasana, tak menghiraukan Ella yang tersenyum karena bermimpi mencium Edgar.
***
Hareudang.. Panas.. High Temperature.. Author butuh kipas angin dan juga eskrim, manis tapi dingin kayak Suga BTS😅
Ella sedikit mulai mewarnai rambut hitamnya agar sama dengan milik Elleane.
Steven dengan pose manjanya🤣
Emma sebelum upacara pernikahan
__ADS_1