
Peristiwa naas itu tidak pernah Jackson prediksikan sebelumnya. Dia percaya akan kemampuan mengemudi Edmund. Ini bukanlah kecelakaan biasa. Ya, Jackson yakin karena Edmund merupakan pembalap yang sering memenangkan lomba.
"Potong jalan langsung menuju tempat kecelakaan" Perintah Jackson tegas pada supirnya.
"Baik, Tuan Muda" Supir melirik sekilas melalui spion untuk memastikan tidak ada kendaraan lalu berbalik arah dan mengambil jalan pintas menuju Perumahan CF.
"Lebih cepat lagi"
"Maafkan aku, Tuan Muda. Ini adalah batas kecepatan maksimal yang diharuskan. Kita juga akan masuk Rumah Sakit jika kita melanggar lalu lintas"
"Baiklah terserah kau saja. Aku hanya ingin cepat sampai sebelum ambulans membawa adikku entah kemana"
"Perintah diterima"
Supir dengan santai menekan pedal gas hingga menyentuh lantai mobil. Tidak ingin Tuan Mudanya makin kesal dan mungkin saja mencekiknya.
Tadi bilang tidak ingin melanggar tapi apa ini? Mirip seperti Ed kalau menyetir. Lihat, aku bahkan lebih khawatir lagi sekarang.
"Tuan Muda, mobil polisi di belakang apa kita singkirkan atau membiarkan mereka mengikuti kita?"
"Biarkan saja. Aku punya rencana dengan mereka. Jika tiba di TKP, segera periksa keadaan mobil adikku. Lakukan cepat dan bersih. Paham?"
"Paham, Tuan Muda" Sahut Ray patuh.
Supir itu bernama Samurai. Panggil saja dia Ray. Dia merupakan keturunan campuran. Seorang asisten, supir dan juga bawahan setia milik Jackson Dhawn. Kode penyamarannya adalah ZR-two.
***
Keadaan Edgar sangat memprihatinkan. Dia terjepit dan pingsan. Benturan keras tidak sempat dia hindari sehingga darah dari tubuhnya membanjiri mobil dan aspal.
Tidak jauh beda dengan keadaan Richard. Masih beruntung si Derbaltroz gila itu karena hanya patah di beberapa tempat.
Saat tiba, Ray melakukan apa yang diperintahkan Jackson tadi. Cepat dan Bersih. Hanya saja dia kesulitan mengeluarkan Edmund dari dalam mobil karena bagian kakinya terhimpit.
"Tuan Muda Kedua, bantu saya mengeluarkan Tuan Muda Ketiga. Kakinya terjepit dan mungkin akan kehabisan darah"
"Hmm" Entah sejak kapan Jackson irit bicara.
Dia memegang Edmund di bagian ketiak dan menyangga tubuh Ed yang terbalik, sedangkan Ray mencoba untuk mecungkil dashboard mobil dengan sebatang besi agar kaki Ed bisa dikeluarkan.
Sirene mobil polisi terdengar bersahutan dengan sirene ambulans yang akan mengangkut korban kecelakaan. Jackson dan Ray menghilang sekejab mata.
"Langsung saja ke Rumah Sakit"
Ray tanpa banyak bertanya langsung menancap gas menuju Rumah Sakit yang di maksud Tuan Mudanya. Raut khawatir juga peluh membanjiri seluruh wajah Jackson.
Kubunuh kalian semua jika terjadi sesuatu pada adikku. Jackson menggeram kesal. Buku jarinya memutih karena dia mengenggam erat tempat duduk. Ed di baringkannya di tempat duduk dengan pahanya sebagai bantalan.
Dengan kecepatan tinggi, mereka tiba di Rumah Sakit kurang lebih 20 menit. Dokter telah standby menunggu mereka karena sudah lebih dahulu dihubungi oleh asisten Jackson.
Edgar langsung di masukkan ke ruang operasi untuk menerima tindakan selanjutnya. Raymond berlari menghampiri Jackson dengan raut wajah yang juga tidak kalah cemas. Dia tidak ikut operasi karena bukanlah bidangnya.
"Jadi katakan ada apa ini?"
"Edmund kecelakaan"
"Bagaimana mungkin bocah tengil itu kecelakaan? Dia adalah pembalap"
"Pembalap juga manusia biasa Paman. Ini semua salahku karena meminjamkan mobilku padanya. Seandainya aku menyuruhnya agar tidak mengikuti balapan itu, mungkin saja sekarang dia masih berada di ranjang empuknya"
"Kenapa dia harus balapan liar?"
"Agar Ella tidak diganggu oleh Derbaltroz sial*n itu lagi, Edmund harus menerima tantangan ini"
"Kenapa gadis kecil itu menjadi bahan taruhan?"
"Dia adalah salah satu kandidat yang bisa dinikahi kedua Derbaltroz muda agar mendapatkan harta warisan dari Derbaltroz tua. Edmund selalu menjadi penghalang mereka mendapatkan Ella. Gadis itu juga mendapatkan serangan saat berada di rumah sakit"
"Aku tahu cerita penyerangan itu karena aku adalah dokter yang menangani Ella. Masalah sudah melebar sampai akhirnya kita juga terlibat"
Untung saja aku tidak keceplosan menyebutkan penyakit Ella tadi. Raymond bernapas lega karena mulutnya masih terkunci rapat.
Pintu ruang operasi terbuka menampilkan asisten dokter dengan raut wajah cemas. Mereka meminta tanda tangan persetujuan wali pasien karena melakukan harus melakukan operasi besar. Kepala yang terbentur, beberapa rusuk milik Ed juga patah sehingga harus diadakan penyambungan. Begitupun dengan kakinya yang mengalami retak di bagian tulang kering.
"Lakukan yang terbaik. Yang terpenting adikku selamat"
Asisten dokter mengambil surat yang telah ditandatangani oleh Jackson dan kembali masuk.
***
__ADS_1
"Mami, jangan menangis lagi. Aku mohon" Bujuk Ella melihat Mami Chyntia menangis sesegukan di samping tempat tidur Edgar.
Ella meminta orang lain tidak menangis tapi dia sendiri masih juga menitikan air mata. Ditatapnya Jackson meminta penjelasan tapi Jackson menggeleng.
Emma berdiri di samping Jackson juga dengan perasaan tidak karuan. Dia melihat sahabat tengilnya itu berbaring dengan selang oksigen dan selang-selang lain yang menempeli seluruh tubuhnya.
Bangunlah, Ed. Saat kau bangun, aku janji tidak akan bertengkar lagi denganmu. Aku akan diam mendengar semua keluh kesahmu. Bagaimana kau bisa tidur terus saat Ella meraung di sampingmu? Emma bicara pada Edgar melalui telepati.
Mami Chyntia beberapa kali pingsan hingga harus di opname juga. Tekanan darahnya begitu tinggi. Untung ada Kak Layla yang menanganinya. Papi Romand masih di luar negeri mengurus beberapa kendala di sana.
"Ed, bangunlah. Aku belum menguasai kuncian pada musuh yang kau ajarkan sebelumnya. Kita juga belum mendaftarkan diri di Universitas, lalu aku berencana membuat kencan buta untukmu. Bahkan Emma juga khawatir padamu. Dia sempat histeris saat tahu kau kecelakaan. Kenapa kau bisa seperti ini? Bangun dan ceritakan padaku" Ella menggenggam tangan Edgar erat menyalurkan kekuatan pada sahabat sejatinya itu. Ella masih belum tahu penyebab kecelakaan Edgar.
Dia datang tiap hari untuk menjenguk Edgar. Dan Edgar masih setia dengan tidur panjangnya. Mami Chyntia juga kehilangan semangat hidupnya hingga harus ada dua pasien dari Keluarga Dhawn yang dirawat.
"Aku pulang dulu, Kak. Si kembar mencariku terus karena hampir setiap saat aku di sini. Aku juga belum bisa membawa si kembar kemari karena Ed masih koma"
Jackson hanya menganggukkan kepalanya tanpa bicara. Dia khawatir bila membuka mulutnya, maka cerita tentang kecelakaan Edgar pasti bocor dan Ella mungkin menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab balapan liar itu.
Ella membelai lembut wajah Edgar sebelum berlalu dari tempat itu. Saat membuka pintu, ada Emma di luar.
"Kau mau masuk?"
"Ya dan tidak" Ella menautkan alisnya tidak paham jalan pikiran gadis dihadapannya ini.
" Ya karena aku merindukan Ed. Tidak karena aku hanya akan berduaan dengan Kak Jackson"
"Bertiga dengan Edgar jika kau lupa"
"Tapi Ed kan sedang koma"
"Jadi apa yang kau harapkan Kak Jackson lakukan padamu? Dia sedang sedih karena adiknya jadi dia tidak punya kesempatan untuk menggodamu"
"Tapi.. Aku malu"
"Malu kenapa? Dia mungkin saja sudah melupakan kejadian hari itu"
(Kejadian saat Ella Cs mengira Jackson pedofil yang mau menerkam Emma)
"Baiklah, baiklah. Aku masuk. Oh yah, bawakan si kembar hamburger"
"Emm baiklah"
"Nona Roberto, saya akan mengantar anda pulang" Rey mencegat Ella yang akan memanggil taxi.
"Tapi bisa saja Kak Jackson membutuhkan anda saat ini"
"Ini pesan yang dikirim Tuan Muda pada saya"
Rey memperlihatkan pesan teks yang dikirim Jackson beberapa menit yang lalu. Akhirnya Ella percaya kemudian ikut Rey pulang.
"Tuan, berhenti sebentar di McD. Aku mau membelikan si kembar makanan ringan"
"Jangan memanggil saya tuan karena saya hanya seorang pekerja. Nona bisa memanggil saya Rey atau R-2 bila melakukan panggilan darurat"
"Tidak sopan aku langsung memanggil nama. Bisakah aku memanggil anda Kak Rey?"
"Emmm ituuu.."
"Tidak ada bantahan. Ini perintah"
"Baiklah, nona"
"Jangan panggil aku nona karena aku bukan nona muda Keluarga Dhawn. Panggil aku Ella atau adik, terserah"
Hohoho. Aku bertindak bagai Tuan Putri yang sok berkuasa. Ella tersenyum.
"Baik nona. Kita sudah sampai di McD. Silahkan turun" Rey membuka pintu mobil untuk Ella. Ella berterimakasih kemudian masuk dan memesan menu yang diinginkannya. Dia juga memberi bungkusan makanan pada Rey.
***
"Hay, Kak" Sapa Emma sedikit canggung karena hanya ada mereka berdua.
"Duduklah" Jackson menggeser tubuhnya dan menyisakan sofa yang lumayan luas bagi Emma. Mereka duduk dengan jarak yang lumayan jauh.
Keheningan tercipta di antara mereka hingga keduanya sama-sama membuka mulut untuk bertanya tapi diam lagi karena canggung.
"Kakak ingin bertanya apa?" Tanya Emma pada akhirnya karena tidak tahan akan keadaan bisu di antara mereka.
"Apa kabarmu?"
__ADS_1
"Aku baik-baik saja karena Ella berada di sampingku. Ada Ed juga yang selalu bertengkar denganku"
"Apa wanita itu mencarimu selama ini?"
"Ibuku?"
"Ya. Wanita yang menjualmu. Dia tidak pantas kau panggil ibu"
"Ella selalu mengajarkanku untuk memaafkan orang. Dia memang menjualku tapi dia juga yang telah melahirkanku. Bagaimanapun darahnya sebagian mengalir dalam nadiku"
"Bagus jika kalian tidak pernah bertemu lagi"
"Aku juga berharap demikian. Aku sudah ikhlas akan kejadian itu tapi memang aku tidak siap bertemu dengannya lagi. Mungkin kebencian ini akan tenggelam dengan sendirinya seiring waktu"
"Beritahu aku jika ada sesuatu terjadi pada kalian berdua"
"Baiklah, Kak. Tapi mengapa Ed bisa mengalami kecelakaan?"
"Aku juga tidak tahu. Tidak ada bukti. Hanya beberapa saksi di pinggir jalan melihat Edmund menabrak beberapa mobil"
"Tidak mungkin Ed sembarang menabrak orang kan? Lapor polisi dan selidiki apa yang terjadi sebenarnya. Pasti ada beberapa petunjuk di TKP. Kemudian juga pasti ada CCTV yang merekam kejadiannya kan?"
Emma seketika mondar-mandir tidak jelas memikirkan beberapa kemungkinan penyebab kecelakaan Edgar.
"Jika saja ada. Tempat Kejadian adalah daerah padat penduduk dengan lalu lintas padat tetapi tidak terdapat CCTV"
"Bagaimana mungkin daerah padat begitu tetapi tidak punya CCTV?"
"CCTVnya tidak menyala saat kejadian"
"Tidak mungkin kebetulan tidak menyala saat kecelakaan kan?"
"Bisakah kau duduk? Aku pusing melihat kau lalu lalang"
"Aku sedang memikirkan jalan cerita kecelakaan ini"
"Duduk"
"Tidak mau. Jika duduk, aku tidak bisa berpikir"
"Aku bilang duduk!"
"Diamlah, Kak. Ini pasti sebuah kesenga..."
Jackson yang tidak tahan akan mondar-mandirnya Emma segera menariknya duduk tapi ketidakseimbangan badan Emma membuat dia jatuh menubruk tubuh Jackson. Sesaat keduanya diam menikmati posisi itu. Nostalgia 4 tahun lalu terulang kembali di kepala mereka.
Jackson memajukan kepalanya menghirup feromon yang menguar dari tubuh Emma. Sangat memabukkan. Pikir Jackson saat tau itu adalah harum mawar. Dia sedikit mengecup leher Emma. Sialnya Emma menikmati kecupan di lehernya. Pelukan Jackson di pinggangnya sangat nyaman.
Ceklek! Bunyi pintu yang di buka menyadarkan Emma. Dia segera mendorong Jackson kemudian duduk di sofa paling ujung. Jackson hanya menatap datar pria yang masuk tanpa rasa bersalahnya itu.
"Kenapa menatapku bengis begitu?"
"Paman mengganggu saja" Jawab Jackson ketus sedangkan wajah Emma bersemu.
"Mengganggu apa? Aku ingin melihat keponakan tengilku" Raymond menatap Jackson curiga. Masih belum menyadari kehadiran Emma di sana.
"Aku dan dia sedang membahas kecelakaan Edmund" Tunjuk Jackson pada Emma.
"Hay, Kak" Sapa Emma pada Raymond.
"Oh ada Emma juga. Kalian tidak sedang melakukan sesuatu yang mendebarkan bukan?" Selidik Jackson melihat Emma yang bersemu.
"Tidak ada" Jawab Emma dengan cepat.
"Aku kan sudah bilang kami sedang membahas kecelakaan"
Aku hampir menciumnya tadi. Entah Paman ini datang sebagai malaikat atau setan. Menyelamatkan atau mengganggu. Jackson bermonolog.
"Ed, kau pasti tersiksa melihat kemesraan mereka kan? Biar Paman temani kau" Raymond kemudian duduk di salah satu kursi yang tersedia sedangkan Jackson memilih keluar kamar untuk memantau kinerja para bawahannya.
Fiuh! Emma lega karena Raymond datang dan menggagalkan kegiatan mereka tadi.
****
Jadi apa penyebab kecelakaan Edgar? Lalu siapa yang menjadi ZR-One? Bagaimana keadaan Richard saat ini?
Episode selanjutnya akan semakin seru. 😊
Jangan Lupa tinggalkan jejak🙏🙏 Kritikan dan Saranpun boleh. Bahkan nama pemeran lain pun Author mengijinkan🤭🤭
__ADS_1
Salam ELughta😍😘