
Di Mansion Keluarga Dhawn.
Untuk merayakan kelulusan Putra mereka, keluarga Dhawn sengaja menggelar pesta sederhana yang hanya di hadiri anggota keluarga saja. Ella dan Emma hadir tanpa di undang karena memang mereka yang menginginkan pesta kecil ini. Nyonya Chyntia Dhawn tampak Bahagia karena ada dua gadis di rumah itu. Selama ini rumahnya hanya dipenuhi suara pria.
"Mom, berhenti menempeli mereka" Edgar sudah bosan melihat ibunya dari tadi sibuk mengobrol dengan dua gadis itu.
"Berubah jadi gadis dan duduk bersama kami" Mami Chyntia melotot pada putra bungsunya itu.
"Tapi aku butuh Ella, Mom" Edgar mulai merengek.
"Untuk apa?"
"Ella ingin diadakan pesta di rumah ini, jadi apa yang harus kita lakukan untuk menyenangkannya?"
"Kalian berdua duduklah dengan manis di sini. Biar Mami yang mengurus pesta ini"
"Kita pesta Barbekyu saja, Mi. Biar semua orang rilex dan juga pesta kekeluargaan akan mendekatkan kita" usul Ella setelah melihat satu-satunya tamu yang hadir.
Selain Ayah dan dua orang kakak Edgar, ada juga Paman dokter dan beberapa pelayan.
"Itu ide yang bagus. Edmund, segera perintah pelayan menyiapkan semuanya. Kami akan kembali mengobrol. Jika sudah selesai, panggil kami" Perintah Mami Chyntia.
"Baiklah" Edgar pasrah saja.
***
Obrolan hangat menemani makan malam mereka. Taman belakang Mansion itu disulap menjadi tempat pesta bakar-bakar. Aroma daging panggang menguar dan membuat cacing-cacing di perut meronta. Saus asam manis menjadi pilihan untuk menjadi bahan olesan daging.
__ADS_1
Entah kenapa yang menjadi bos besar malam itu adalah dua gadis yang duduk manis sambil menikmati hidangan. Edgar bahkan sibuk bolak balik mengipasi daging panggang. Dia tidak keberatan berbau asap.
"Paman Ray, kemarilah" Ella melambaikan tangan pada Dokter Raymond. Masih ingatkan Dokter yang mengobati penyakit Hemofilia yang di derita Ella? Dia adalah Paman Edgar.
"Aku duduk di mana jika kau memanggil paman? Dan Emma kenapa kau makan sedikit saja? Apa karena kurang enak?" Edgar sedikit khawatir melihat Emma.
"Tidak. Aku akan makan perlahan sehingga kau juga akan terus mengipasi daging" jawab Emma acuh.
"Hay Kakak Ipar, Ella, Emma, dan bocah tengik" Sapa Raymond pada mereka yang ada di situ.
Tak lama kemudian, Tuan Romand Dhawn juga ikut bergabung. Ketika duduk di sebelah Paman Raymond, mereka tampak mirip walaupun terpaut usia cukup jauh. Sekitar 15 tahun.
"Papi, apakah Edgar akan berkuliah di luar negeri?" tanya Ella pada Tuan Romand.
"Jika dia ingin. Anak ini yang paling susah di atur. Dia mungkin masih ingin memanjakan kalian berdua" Tuan Roman kemudian menuangkan wine ke gelas dihadapannya.
"Sayang, jangan minum banyak"
"El, kau sakit? Kenapa pipimu merah sekali?" Emma menelisik pipi Ella yang merah dan menempelkan punggung tangannya di kening Ella.
"Emm tidak. Mungkin karena kita duduk cukup berdempetan sehingga udara sedikit panas"
Tidak mungkin kan aku berkata aku mendengar Tuan dan Nyonya Dhawn membahas adik untuk Edgar? Terlalu memalukan.
****
Setelah makan malam yang luar biasa itu, mereka duduk mengobrol dan juga bercanda ria. Jackson juga sudah mulai teler karena efek minuman anggurnya. Dia duduk sambil merangkul Edgar.
__ADS_1
"Dua gadis yang kau bawa hari ini sangat cantik"
"Yayayaya... Mata Ayam kampungmu itu akan aku cungkil, Kak"
"Di antara mereka siapa yang kau sukai?"
"Tidak ada yang aku sukai di antara mereka berdua. Kami sudah bersahabat sekian tahun. Aku bahkan lupa mencintai gadis lain karena terlalu memperhatikan mereka berdua"
"Jadi tidak ada cinta segitiga di antara kalian begitu?"
"Apa yang Kakak harapkan? Mereka berdua pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku"
"Gadis kecil yang jatuh dalam pelukanku waktu itu sudah berubah menjadi gadis yang cantik mempesona"
Jangan bilang Kakak juga suka pada Emma. Bagaimana ini? Aku tadi mengatakan tidak suka pada mereka berdua. Aku tidak rela Emma menjadi pacar Playboy cap ayam kampung ini. Tidak, aku akan menghasut Emma untuk membenci Kakak. Edgar berperang dengan Bathinnya dimana kebohongannya justru menjadi boomerangnya sendiri.
"Pegang kata-katamu bahwa kau ti...dak.. menyukainya.. hueeekkkkk" Jackson muntah dan terkapar di taman.
Di sudut lain, Emma berjongkok mendengarkan dua pria yang saling curhat tersebut dengan wajah yang tidak pasti.
Kenapa aku merasa sedih dia tidak menyukai kami berdua? Emma bangun dari jongkoknya dan merasakan kesemutan di kakinya.
Jangan tanya Ella di mana. Ella sudah menuju alam mimpi akibat bir yang diminumnya. Ella mabuk karena segelas bir.
***
Membohongi perasaan itu tidak baik. Tapi mungkin juga perkataan Edgar hari ini justru berdampak baik kedepannya. Siapa tahu??
__ADS_1
๐๐Readersku tersayang, yang kece badai, jangan lupa like, comment, vote, dan rating. Pokoknya secuil jejak untuk Otornya biar Otor tambah semangat ๐คญ๐๐
Salam ELughta๐๐