
Ella tidak ingin pulang ke rumah padahal pelajaran telah selesai 10 menit yang lalu. Dia ingin berjalan-jalan di pusat kota.
"Ayo pulang" ajak Emma
"Aku duluan ya?" Pamit Adriana. Richard pasti telah menunggunya di bawah.
"Hati-hati di jalan. Awas buaya buntung" Teriak Emma karena tahu Adriana pulang bersama Richard.
"Tenang saja" Balas Adriana dari jauh.
Sepeninggal Adriana, mereka semua beranjak. Membangunkan beruang kutub yang tertidur pulas. Edgar bangun dan merenggangkan ototnya kemudian mencari kunci mobilnya.
"Ayo, aku antar kalian berdua pulang" Tawar Edgar pada Ella dan Emma. Mereka berdua hanya mengangguk saja. Ella masih takut memberitahu Edgar bahwa dia ingin jalan-jalan. Takut merepotkannya.
Setelah tiba di lantai bawah, mereka menuju parkiran. Mobil yang menjemput Renay telah menunggu. Jadi Renay pamit pada sahabatnya kemudian pulang.
"Aku akan naik taksi hari ini. Sudah lama tidak merasakan empuknya tempat duduk taksi. Kalian berdua silahkan berdua terus, aku pamit" Emma menjauh dengan segera. Kata hatinya memerintahkan dia membiarkan dua insan itu sendirian.
"Hey, jangan tinggalkan aku" Teriak Ella tapi sayang Emma sudah menyetop taksi dan masuk dengan cepat. Terlambat untuk mengejar. "Maaf merepotkanmu untuk mengantarku pulang" Ella menatap wajah Edgar sungkan.
"Ayo jalan-jalan. Aku tahu kau jenuh karena berada di sekitar rumah, sekolah dan rumah sakit terus-menerus"
"Bolehkah?" Tanya Ella antusias.
"Tentu saja. Setelah itu kita ke mall membeli sesuatu untuk kakakku. Dia akan berulang tahun"
"Baiklah" Ella tersenyum manis kemudian melompat masuk mobil Edgar. Duduk manis di samping Edgar. "Wow, apa yang kau lakukan?" Ella menahan napas dan memejamkan matanya.
Edgar menyentil jidat Ella gemas dan tertawa pelan. "Aku memasang sabuknya. Dasar bodoh. Memasang sabuk sendiri pun tak bisa"
"Untuk pertama kalinya kau menyebutku bodoh" Ella malu sendiri mengira Edgar akan berbuat sesuatu yang iya-iya.
"Buka matamu, bodoh"
"Aishhh... Menyebalkan. Harusnya Emma juga ada di sini pasti akan menyenangkan" Semburat merah muda itu muncul di kedua pipi Ella.
"Dia sudah kabur dan membiarkan kita hanya berdua. Jadi manfaatkan waktu yang tersisa dengan baik" Edgar masih tersenyum.
Mobil kemudian melaju dan membelah jalanan kota. Mereka singgah di beberapa tempat hanya untuk berselfie ria. Edgar mengikuti semua keinginan Ella seperti seorang pacar yang menemani kekasihnya yang lagi ngambek. Semua permintaan diturutinya.
"Kalian berdua pasangan yang manis. Mudah-mudahan cepat menikah ya?" Ucap salah seorang yang duduk di taman melihat kemesraan sahabat ala Edgar dan Ella.
"Maaf anda salah paham kami sahabat baik. Dan lihat kami berseragam, kami masih sekolah, jadi tidak mungkin menikah"
"Oh begitu. Maafkan aku. Tapi kalian benar-benar cocok"
"Tapi..."
"Terimakasih" ucap Edgar memotong kata-kata Ella. Ella menatap Edgar sengit, tapi Edgar masa bodoh. "Doa orang jangan ditolak".
Edgar segera menarik tangan Ella agar berpindah tempat. Mereka kemudian menuju mall untuk membeli beberapa hadiah.
"Belilah apa yang kau mau kemudian kita pergi. Dan kenapa kita masuk ke toko perhiasan?"
"Diam. Dasar bodoh"
"Yayaya.. Aku bodoh, kau pintar. Tapi ranking terakhir terus"
"Selamat Sore, Tuan Muda. Ada yang bisa kami bantu?" Sapa pegawai toko dengan sopan.
"Kami mencari cincin"
"Apakah anda berdua pasangan yang baru menikah? Kami memiliki beberapa set cincin pasangan untuk pertunangan maupun pernikahan"
Menikah? Kami bahkan masih berseragam High School. Ella pergi ke meja seberang untuk melihat perhiasan.
"Bukan. Cincin untuk Pria muda umurnya sekitaran 23 tahun"
__ADS_1
"Bisa berikan kami contoh ukurannya?"
"Aku lupa membawa contoh cincinnya. Yah sudah berikan aku cincin yang di sana"
"Baik Tuan Muda." Pegawai berlalu untuk mengambil cincin yang di tunjuk Edgar. Ella juga diam-diam telah membeli cincin yang kemudian segera dia sembunyikan. Entah pada siapa akan dia berikan.
"Ini tuan nota pembelanjaannya, kartu kreditnya dan juga sertifikat berliannya"
Edgar segera mengambil dan menaruh semua itu dalam tas kemudian meronggoh uang kertas dan menyodorkannya pada pegawai toko sebagai bonus. Pegawai itu tersenyum kemudian membungkuk hormat.
"Terimakasih Tuan Muda" Edgar menganggukkan kepala kemudian menarik tangan Ella. Saat mereka keluar, ada pasangan yang masuk. Mereka hanya silih beberapa menit saja.
Ella menghentikan langkahnya ketika ingat bahwa dia lupa sesuatu di toko itu. Ya dia lupa dompetnya.
"Ed, tunggu di sini. Aku akan kembali ke toko tadi. Aku lupa sesuatu. Tunggu saja di restoran sana dan pesan beberapa makanan. Aku lapar soalnya" Ella tersenyum manis kemudian meninggalkan Edgar. Edgar berbalik dan masuk di restoran yang ditunjuk Ella kemudian memesan makanan.
Ella berlari kecil menuju toko tadi. Dia takut dompetnya hilang karena di dalam dompet terdapat kartu kredit dari Tuan Simmons dan beberapa surat penting lainnya.
Matanya terbelalak saat melihat pemandangan indah di depannya. Leon merangkul Renay mesra dan sedang memilihkan dia cincin yang ada di sana.
Deg! Hati Ella mencelos melihatnya. Leon tampak tampan saat itu dan Renay tersenyum malu setiap kali Leon meliriknya. Pasangan itu sedang berbahagia.
Kak. Kau pulang dan tidak ingin bertemu denganku. Tapi kau bisa jalan berdua dan merangkul Renay. Hey, aku cemburu pada Renay yang bergelayut manja di lenganmu. Dia tidak begitu di hadapan kami. Tapi denganmu dia benar-benar menampilkan sisi manisnya yang berlebihan. Oh astaga apa yang aku katakan tentang sahabatku sendiri? Dasar otak ini selalu saja memikirkan yang buruk tentang orang lain. Kak Leon juga berhak bahagia. Dia hanya akan menganggap aku adik kan? Jadi tidak masalah siapa yang bergelayut manja dilengannya. Dan Renay sahabatku yang sudah menemaniku beberapa tahun ini sama seperti Emma jadi stop cemburu pada calon kaka ipar. Bathin Ella berbicara. Ella kemudian berbalik tepat saat pesan masuk di handphonenya.
Kau di mana? Aku menunggumu dari tadi. Edgar.
Ella tidak menjawab pesan Edgar. Ketika dia meletakan handphonenya di dalam tas, ada dompetnya di situ.
Syukurlah aku tidak harus bertemu Kak Leon saat ini. Rasanya canggung dan aku tidak tahu harus bersikap seperti apa dengannya dihadapan Renay. Menyapa? Tersenyum atau memeluknya? Stop ide gila ini. Ella memukul pelan kepalanya.
Ketika Ella telah berlalu Leon menoleh sana-sini untuk mencari siapa yang menguntitnya tapi tidak menemukan siapapun. Mungkin hanya perasaanku saja.
***
"Makanlah. Kenapa hanya bengong dari tadi?" Edgar gemas melihat wajah Ella yang kebingungan.
"Apa ada menu lain yang kau inginkan?"
Ella memutar bola matanya bosan. "Jangan terllau perhatian padaku. Kalau kau punya pacar, dia akan cemburu padaku. Dan aku belum siap berkelahi saat ini"
"Nikmati saja selagi aku masih jomblo. Jika aku punya pacar, mungkin akan segudang. Dan perhatian padamu berkurang. Kau akan merasa merana dan kesepian tanpaku"
"Omong kosong apa sih yang kau katakan?"
Walaupun Ella menyangkalnya tapi dia senang ada Edgar di setiap waktunya. Lelaki tampan itu selalu saja ada waktu untuk menemaninya.
"Ketika aku menghilang suatu saat, kau akan sangat merindukanku. Ayohlah, satu persen hatimu ada aku di sana. Ya kan?"
"Kau tahu ada dua laki-laki itu di dalam sana. Jadi kau sudah tidak muat lagi"
"Jangan bohong. Pasti sedikit berdesakan pun masih tetap ada aku kan?"
"Iya-iya. Ada kau di sana. Kau adalah Ayah, Kakak, Pacar, Suami, dan juga Jongosku. Puas?" Ella bicara dengan nada tinggi.
"Wow. Sejak kapan nadamu naik 1 oktaf? Apa kau akan ikut paduan suara? Aku akan mendaftarkanmu di Kampus Seni Musik jika kau ingin"
"Dasar, cerewet. Diam dan makanlah, Prica"
"Stop memanggilku begitu. Lihat ototku sudah tumbuh banyak. Apa kau mau lihat perut kotakku?"
"Jangan mesum di sini"
"Kalau begitu habiskan makananmu"
Dan mereka berdua menghabiskan makanan mereka diselingi kejahilan Edgar. Untung saja Emma tidak ada. Jika Emma ada, kejahilan itu akan menjadi berlipat ganda.
***
__ADS_1
Saat ini sudah pukul 5 sore. Mereka kembali duduk di taman dekat mall sambil menikmati es krim.
"Edgar, apakah kau pernah jatuh cinta?"
"Ya"
"Bagaimanakah rasanya?"
"Itu indah, sedikit mendebarkan dan salah tingkah juga" Edgar mengingat kembali saat dia bersama Emma. Ya dia merasa jatuh cinta pada Emma.
"Aku juga berdebar saat dekatnya, aku juga salah tingkah tapi mengapa ini sama sekali tidak indah?"
"Siapa yang kau labuhkan hatimu?"
"Dua Lelaki kejam itu. Cinta pertama dan keduaku"
"Kau jatuh cinta pada dua lelaki? Astaga, serakah sekali"
"Siapa yang bisa menolak perasaan ini. Aku cemburu melihat dia menggandeng tangan gadis lain"
"Ceritakan apa yang terjadi"
"Aku malas bercerita saat ini. Aku hanya ingin menangis"
"Pantas saja kau tak selera makan. Jadi apa yang kau lihat saat mengambil dompet tadi?" Edgar berasumsi saja karena sikap Ella mulai berubah saat dia berkata ingin mengambil kembali dompetnya.
"Aku bertemu pasangan yang sedang membeli cincin. Mungkin mereka akan menikah. Aku turut berbahagia tapi aku juga cemburu. Cinta pertamaku berlalu begitu saja. Haiishh nasib"
"Apakah saat ini kau butuh pundak untuk bersandar?"
"Apakah boleh kupinjam bahumu sebentar, Ed? Aku sedih dan bahagia di saat bersamaan. Cinta model apa ini?"
"Hehehehe... Kalian tidak jodoh. Mungkin saja jodohmu masih berkeliaran entah di mana"
"Hiks" Dengan tiba-tiba saja Ella menjadi sedikit cengeng kemudian menjatuhkan keningnya di pundak Edgar. Dia sesegukan.
Berlawanan arah dengan Ella dan Edgar, ada Leon menggandeng tangan Renay. Senyum tak luntur dari wajah Renay. Tadi Leon membelikannya gelang bertabur berlian Limited Edition seharga 9 nol.
Leon sempat menoleh ke bangku taman dan melihat dua sosok yang tidak asing baginya. Warna rambut gadis itu sangat dikenalnya. Ella? Sedang apa dia di sini. Leon curiga Ella berbuat hal yang tidak baik. Tapi bersamaan dengan itu, Edgar menoleh ke arahnya dan menatapnya tajam. Edgar sengaja memeluk Ella dengan erat seolah-olah memberitahu Leon itu adalah gadis kesayangannya. Dia pura-pura mengecup puncak kepala Ella.
Itu adiknya J kan? Sedang memeluk wanita. Mungkin bukan Ella karena Ella tidak pernah keluyuran. El, Kakak merindukanmu. Leon segera memalingkan wajah kemudian menggandeng tangan Renay menuju perkiran.
"Hey, apa yang kau lakukan dengan pucuk kepalaku?"
"Oh itu.. itu.. aku meniup daun yang jatuh di rambutmu" Edgar gelagapan.
Sial! Kenapa aku terlihat seperti maling ciuman pertamanya sih?
"Benarkah? Hemmmhhh.. Aku sudah lega. Ayo kita pulang. Sudah jam setengah 6 jadi di rumah si kembar pasti sudah guling-guling tidak karuan karena maminya keluyuran" Ella menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan menetralkan perasaan galaunya.
Edgar melajukan mobilnya cukup kencang agar Ella tiba di rumah tepat pukul 6 sehingga tak mendapat omelan dari nenek sihir. Edgar tidak mau mampir karena ada nenek sihir di rumah saat ini.
"Terimakasih untuk jalan-jalan dan pundakmu, Ed"
"Sering-seringlah menangis. Jangan lupa siapkan tisu juga. Kau lihat, bajuku penuh dengan ingusmu" Ella segera meraih tisu dan melap baju Edgar yang sedikit basah. Entah karena air mata atau ingusnya. Ella tersenyum kikuk.
"Hehehehe..." Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian berlari masuk ke rumah. Dia malu pada Edgar. Tapi berbeda dengan Edgar yang senang bahwa Ell menangis di pundaknya. Setidaknya dia masih berguna untuk gadis itu.
Menangislah jika kau ingin. Aku akan selalu menawarkan sandaran untukmu. Edgar
***
Selamat Tahun Baru 2021 untuk para Readers tercinta. Maaf telat update karena sibuk di dunia nyata. Terimakasih untuk dukungannya🤩🤩
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak dan saran untuk perbaikan novel ini😊😊😊
Salam ELughta😍😘
__ADS_1