
"Tok..tok..tok..." Pintu yang diketok berbunyi sedari tadi tapi tidak ada sahutan dari dalam.
Kemana sih anak ini pergi? Padahal jelas-jelas bibi memberitahuku bahwa dia pulang bersama Emma. Jangan-jangan? Mami Chyntia sudah bertraveling kemana-mana memikirkan kemungkinan terburuk.
"Jackson Jinorich Dhawn..... Buka pintunya!!!" Mami Chyntia menggedornya sekuat tenaga.
Cklek! Jackson yang baru habis mandi dan berganti pakaian segera membuka pintu bagi mamanya yang ingin menjebol pintu itu.
"Di mana Emma?" Melihat Jackson yang baru habis mandi? Mami Chyntia tahu mereka baru habis berkegiatan panas.
"Emma? Hah? Emma??? Mami bertanya tentang Emma?" Jackson gelagapan sendiri sebab Emma tertidur di ranjangnya.
"Minggir biar Mami cari sendiri" Mami Chyntia mendorong Jackson dan melenggang masuk. Matanya langsung tertuju pada ranjang."Bisa kau jelaskan ini?" Mami Chyntia menunjuk Emma yang tertidur di balik selimut tanpa menggunakan baju.
"Mam, ini tidak seperti yang ada dipikiran Mami. Aku belum melakukan apapun padanya. Dia masih menggunakan celananya"
"Tidak melakukan apa-apa bagaimana? Bajunya kau apakan sehingga dia tidur tanpa mengenakannya?" Mami Chyntia memelankan suaranya takut membangukan Emma.
"Itu... itu...." Jackson tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya. Seketika tangan Maminya bertengger dengan manis ditelinganya.
"Mami tidak mau tahu. Kau telah melakukan hal itu entah sama seperti yang mami pikirkan atau tidak tapi karena kau sudah melepas bajunya maka nikahi dia atau kau tidak akan menjadi putraku lagi. Anak-anakku orang yang bertanggungjawab terhadap perkataan mereka"
"Menikah? Mami serius kan mengatakan ini? Mami tidak akan menarik kata-kata mami lagi kan?" Jackson memeluk Maminya erat.
"Iya. Lepaskan Mami dahulu. Jadi apa yang kau rencanakan?"
"Sebenarnya aku ingin melamar dia minggu depan tapi karena mami menyuruhku menikah sekarang maka aku dengan senang hati melanjutkan kejadian yang tertunda tadi baru kami menikah"
"Kejadian tertunda apa?"
"Kami belum sempat membuatkan cucu untuk Mami karena Mami terus menggedor pintu. Tapi aku salut padanya. Dia selalu bisa membuatku menginginkannya tapi juga segera menghentikanku bila aku kelewat batas"
__ADS_1
"Jadi kalian belum melakukan 'itu'??"
"Belum. Jadi aku mohon lain kali jangan mencoba untuk merobohkan pintu kamarku saat kami sedang memprosesnya"
"Hehehe... Ingat nikahi dia sesegera mungkin. Mami sangat senang jika Ella juga mau tinggal di sini"
"Akan aku usahakan agar ada tiga orang gadis yang menemani Mami saat putra-putra Mami sedang bekerja"
"Jangan bermain terlalu kasar" Mami Chyntia mengedipkan sebelah matanya lalu keluar dengan wajah sumringah. Tangisan bayi sedikit lagi akan menghiasi rumah itu.
Jackson menutup pintu dan berbaring di samping Emma.
"Kau dengar itu sayang? Mami menyuruhku menikahimu secepatnya" Jackson mencium pelipis Emma sayang. Dia tahu Emma sudah bangun. Hanya saja Emma malu untuk bicara dengan Mami Chyntia.
"Kak, kita akan menikah?"
"Mami sudah memberikanku tugas. Bila aku tidak menikahimu segera maka aku bukan putranya. Lihat, Mami bahkan lebih sayang padamu daripada aku anak kandungnya"
"Sayang, jika kau seperti ini terus maka aku tidak bisa menahan diri lagi. Sungguh aku malas jika harus mandi berulang kali"
Emma masa bodoh dengan rengekan Jackson karena dia kembali memejamkan mata. Tapi mata indah itu harus kembali terbuka saat tangan Jackson merayap naik di atas dadanya dan m*r*m*s gundukan itu dengan lembut.
"Ughhhh.." lenguhnya tertahan. Sejurus kemudian mencoba menutup bibirnya rapat-rapat karena malu dengan suara asing yang keluar.
Kepala Jackson sudah berpindah dan menikmati puncak gunung dengan rakus.
"Kak, hentikan!"
Suara Emma yang mendayu tidak bisa mengembalikan akal sehat Jackson yang sudah teracuni adegan iya-iya.
"Emma.... Ayo menikah!!"
__ADS_1
Ajakan menikah di atas ranjang tersebut sangat tidak elit tapi benar-benar romantis. Cincin yang indah seketika melingkar di jari Emma.
"Kak??" Emma terkejut memandang jari manisnya yang berkilau indah.
"Kau suka?"
"Berapa harganya? Apakah mahal? Berikan aku yang murah saja..."
"Mahal? Tidak ada yang mahal bila dibandingkan dengan memperjuangkan dirimu. Memang selama ini tidak terlalu banyak rintangan tapi kedepannya mungkin akan selalu ada. Cintamu itu lebih mahal daripada harga cincin ini. Malahan ini cincin yang paling murah"
"Jack, terimakasih karena mau menerimaku yang yatim piatu dan miskin ini" Emma memeluk erat Jackson lupa bahwa tidak ada penghalang antara dadanya dan dada Jackson yang menerbitkan geraman dari mulut Jackson.
"Kau ingin kita lanjutkan sampai tuntas, atau berhenti di sini?"
"Menurutmu kak?"
"Aku benar-benar ingin melanjutkannya karena kau lihat di bawah sana sudah sangat sesak. Aku tidak tahu bisa bertahan berapa lama untuk tidak menggerayangimu"
"Sejujurnya aku takut karena ini pengalaman pertamaku tapi aku juga kasihan denganmu yang terus-terusan kutolak. Hanya saja. Aku ingin kamu mengambilnya saat malam pernikahan kita, Kak. Apakah aku egois?"
Cup! Kecupan itu mendarat di kening Emma.
"Terimakasih mau menjaganya. Oke aku akan mengalah lagi dan lagi sampai kita menikah. Ughhh... Tunggu lagi di sini karena aku harus menenangkannya"
"Apa aku boleh ikut untuk melihat prosesnya?"
"Jangan!! Jika kau ikut maka aku pastikan kau keluar dari dalam sana dengan langkah tertatih. Pakai bajumu sekarang. Aku harus melihatmu pakai baju barulah aku masuk"
Akhirnya Emma memakai bajunya kembali setelah mencari branya kemana-mana karena dilempar asal oleh Jack. Syukur Mami Chyntia tidak melihatnya tadi.
"Ingat, tunggu di sini"
__ADS_1
Dan akhirnya benih-benih berbentuk kecebong itu harus terbuang percuma di kamar mandi karena tempat penampungannya belum siap dikerumuni.