
Tangannya mendorong dada Kevin kuat. Manik mata Ayu menatap Kevin tak percaya akan tindakan yang terkesan lancang. Dalam hati Ayu terus menyerukan kata umpatan. Lantas apa Kevin menganggapnya seperti wanita-wanita yang sering ditemuinya?
Menggeleng. Ayu tak mampu berfikir jernih lagi sebab Kevin telah memperlakukannya seperti seorang wanita murahan. Memutar tubuhnya Ayu pun memilih membuka pintu di sisinya kemudian beranjak pergi meninggalkan mobil Kevin tanpa berkata apa-apa.
Kevin tak mampu mencegah Ayu pergi. Atas perbuatannya yang spontan tadi menjadikan tubuhnya kaku. Wajahnya pasi dan lidahnya kelu. Dia menyadari telah melakukan kesalahan besar. Sekali pun itu tadi sudah menjadi hal yang lumrah baginya tapi sikapnya tadi sungguh sangat memuakkan. Dia tak bisa mengontrol diri sebagaimana semestinya.
Membuang napasnya yang tertahan, Kevin sontak mengusap-usap wajahnya. Mengutuk atas perbuatannya dan sudah pasti dirinya yakin Ayu akan marah atas tindakannya.
Lebih lagi dirinya merasa pengecut bila membiarkan Ayu pergi begitu saja. Sontak Kevin membuka pintu mobilnya hendak menyusul langkah Ayu yang mungkin saja belum terlalu jauh. Dan yang dilihatnya kini justru Ayu telah masuk ke dalam mobil taxi yang baru saja berhenti tepat di hadapan gadis itu, yang tak lama melaju menghilang dari penglihatannya.
Sial terlambat! Kevin kesal kemudian kembali ke arah mobilnya. Berhenti sesaat sebelum memasuki mobil— Kevin justru menendang ban mobilnya dengan sekuat tenaga.
***
Tepat hari terakhir Ayu masuk kerja adalah ketika kejadian sialan itu. Kejadian yang masih saja terngiang dalam benak Kevin, padahal bila dihitung sudah satu tahun kejadian itu berlalu.
Kejadian yang justru membuatnya mengubah sedikit jalan hidupnya. Kevin lebih banyak menghabiskan waktu untuk merenungi perjalanan hidupnya. Bila menghitung usianya baru saja menginjak di angka ke tiga puluh tahun.
Pria dewasa dengan kemampuan memimpin beberapa perusahaan yang diwariskan dari orangtuanya. Dan sebentar lagi dirinya akan mencalonkan diri sebagai CEO untuk menggantikan posisi Papanya. Lalu dalam waktu satu tahun terakhir ini ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya yakni belum terucapnya permintaan maaf atas tindakannya kepada Ayu. Sebab gadis itu terus saja mengusik sisi batin Kevin.
"Ngalamun lagi Vin?"
Kevin menoleh saat Mamanya datang dan menepuk pundaknya. Sudah beberapa minggu ini Kevin sengaja tinggal di rumah orangtuanya dengan alasan rindu akan suasana rumah.
__ADS_1
Kevin menoleh, menegapkan duduknya lalu menerima cangkir berisi teh yang baru saja Mamanya sodorkan. Kemudian sedikit menyesapnya.
"Bagaimana urusan kantor?"
"Lancar Ma," ucap Kevin menanggapi lalu meletakkan cangkir ke atas meja.
"Yakin gak ada masalah?" tanya Mamanya lagi yang masih tak percaya.
Kevin menggeleng. Tak ada permasalahan di kantor, bila ada Kevin dan orang-orang kepercayaannya mampu menanganinya.
"Lalu kenapa kamu mendadak tinggal disini? Mama jadi merasa ini sedikit aneh?" ucap Mamanya menyampaikan rasa curiganya. Sebab biasanya anak laki-lakinya ini susah sekali diatur.
"Tinggal disini kan Kevin ada yang mengurusi."
Kevin terdiam sesaat, sebelum akhirnya ikut tersenyum. "Memang Mama sudah siap memiliki menantu?"
Alis Mamanya bertaut, melirik pada Kevin kemudian mengangguk. "Tentu," sahut Mamanya antusias. "Kamu tahu, rumah sepi kalau tak ada Lyra," ungkap Mamanya Kevin, dan yang dimaksud Lyra, tentu adalah anak Soraya yang sudah dia anggap seperti cucunya sendiri.
Mamanya Kevin kemudian beralih menggenggam tangan putranya. "Mama juga berharap segera memiliki cucu dari kamu."
Kevin menahan senyumnya, hingga Mamanya menepuk-nepuk punggung tangannya. "Segera perkenalkan pada Mama dan Papa, wanita yang kamu ajak serius untuk kamu jadikan istri nantinya."
"Mama ada permintaan khusus?"
__ADS_1
"Ya?" Tahu apa yang dimaksud putranya Cindy pun menggeleng. "Gak. Kamu udah memiliki semuanya. Mama hanya berharap wanita yang kamu pilih benar-benar bisa mendampingi kamu. Bukan hanya diwaktu senang tapi juga susah. Tahu kalau kamu sibuk dan bersedia memberikan pengertian untuk kamu, juga tahu bahwa kesibukan yang kamu lakukan itu juga untuknya," ujar Mamanya memberi nasehat.
"Mama juga berharap kamu meniru sikapnya Papa, perlakukan wanita yang akan kamu jadikan istri layaknya Papamu memperlakukan Mama, yang menerima Mama apa adanya," ucap Mamanya lagi dengan mata menggenang.
Kevin paham dan mengangguk. Papanya, Bramantyo memang sosok yang pantas untuknya dijadikan panutan. "Iya Ma, Kevin akan berusaha," sahut Kevin tersenyum kemudian mengecup sayang pada kening Mamanya.
***
Malam menjelang, Kevin merebahkan tubuhnya di ranjang berukuran king size di kamar pribadinya. Rasa kantuk belum dirasainya, membuatnya menarik ponsel untuk sedikit mengusir rasa kejenuhan.
Telah lama Kevin tak membuka akun sosmednya, mungkin terakhir adalah pada masa masih berada di bangku kuliah.
Menscroll beberapa kali, jari jempolnya kali ini terhenti pada postingan yang menampilkan wajah saudaranya, Soraya. Dimana saudaranya itu mengunggah foto bersama dengan suami dan putrinya, Lyra yang berusia dua tahun. Tak ada niatan jarinya untuk mengetuk emoticon berlambang hati, Kevin kemudian menscoll ke bawah lagi. Tapi yang terjadi kali ini Kevin justru menajamkan penglihatannya.
Dalam layar berisi unggahan masih milik akun instagram Soraya memperlihatkan sosok saudaranya itu bersama Ayu tengah tersenyum lebar menatap layar dengan background Universal Studios Singapore.
Tak hanya satu postingan, ada beberapa foto-foto lain yang menunjukkan pose Ayu yang telah lama dia tak temui. Parasnya jelas masih nampak Ayu seperti namanya, tapi setahun tak bertemu gadis itu nampak lebih berbeda dari penampilan sebelumnya.
Entah apa yang membedakan, Kevin masih bingung mengungkapkannya. Dan makin dipandang wajah gadis dalam layar itu justru memunculkan getar-getar halus yang merambat di dadanya.
Menghela, berharap mampu menormalkan apa yang dirasakannya. Kevin pun memilih mencukupkan diri, menutup layar ponselnya dan meletakkannya di atas nakas. Mematikan lampu utama kemudian mulai mencari posisinya nyaman untuk tidur.
Memejamkan mata Kevin justru bergumam, "Apa jadinya bila aku datang menemuimu? Akankah kamu mau membukakan pintu, atau justru memilih lari menghindariku?"
__ADS_1
To be Continue