
Entah mimpi apa semalam, dan yang jelas malah Ayu tidak tidur sepanjang malam. Tapi kini dirinya seakan dihadapkan pada kesialan yang bertubi-tubi.
Jika saja dua orang yang tengah asyik saling bercumbu itu tak mengetahui kehadirannya, bisa saja Ayu pergi melarikan diri. Namun sekarang yang terjadi sorot mata Kevin menusuk tajam ke arah Ayu. Menjadikan gadis itu berdiri kaku di tempatnya dengan tangan yang masih kuat mencengkeram handle pintu.
Sementara perempuan yang diyakini Ayu adalah sekertaris dari bosnya perlahan bangkit berdiri dari posisinya yang menindih tubuh besar Kevin.
Seperti tiada kecanggungan, Kevin dan sekertarisnya saling membenahi pakaiannya di hadapan Ayu.
"Katakan, ada kepentingan apa kamu masuk ke ruangan saya tanpa mengetuk pintu?" ucapan itu terlontar dari mulut Kevin. Tangannya bergerak mengancingkan kemejanya dengan sorot mata yang masih menatap Ayu tajam.
"Sa—saya kesini karena mau mengerjakan tugas yang Bapak beri tadi pagi," sahut Ayu dengan suara gelagapan. Aura panas menyelimuti sekujur tubuhnya sebab di hadapkan pada situasi seperti ini.
Dirinya tak menyangka, hal-hal yang pernah dibacanya pada buku-buku novel tentang kisah orang kaya dan memiliki jabatan tinggi ternyata benar adanya mempunyai kisah kasih yang entah apa hubungannya diantara mereka. Karena yang jelas dan yang dirinya ketahui bosnya belumlah menikah.
__ADS_1
Dan yang tadi itu apa? batin Ayu terus bertanya, sebab yang dirinya ketahui hubungan antara pria dan wanita yang belum memiliki ikatan resmi itu disebut dengan pacaran. Tapi dalam kamusnya bukan hal yang seperti itu, melainkan pacaran yang dia ketahui hanyalah sebatas dari kencan, bergandengan tangan, atau yang lebihnya adalah saling memberi ciuman. Yang dilihatnya tadi apa mungkin kisah cinta antara bos dengan sang sekertaris, tapi kenapa—
Prakk... Lamunan Ayu seketika terhenti, baru saja dirinya tersentak kala Kevin melemparkan kunci tepat di hadapannya. Untung Ayu sigap menangkapnya dan kembali menatap Kevin yang telah berpindah tempat duduk di kursi kerjanya. Sedangkan sang sekertaris dengan pakaian yang cukup ketat dan minim itu baru saja melewatinya untuk keluar dari ruangan.
Terlihat dari ekor mata yang baru saja tertangkap oleh Ayu, lipstik pada bibir sang sekertaris telah berantakan dan yang pasti itu adalah ulah bosnya.
"Astaga, kenapa pikiranku jadi seliar ini," batin Ayu merutuki. Dirinya geram sendiri akan hal ini, sampai-sampai bibirnya terkatup rapat dengan geraham yang saling mengerat.
"Cuci mobil saya, sampai bersih. Dua jam. Kurasa waktu itu cukup," perintah Kevin tanpa menatap Ayu, sebab dirinya tengah kembali membuka layar laptop.
Namun saat handle pintu baru saja ditarik, dirinya mendengar Kevin berucap, "Jangan berpura-pura menampilkan wajah terheran atau terkejut dengan apa yang kamu lihat barusan. Bukankah itu yang kamu lakukan usai berpindah tempat dari sini."
Sungguh ucapan Kevin benar-benar terdengar menusuk. Apa maksudnya, apa karena semalam? Ayu yang tak terima sontak saja memutar langkah dengan melepas handle pintu dan berjalan mendekat ke arah Kevin.
__ADS_1
"Apa maksud Bapak?"
Kevin menghentikan aktifitasnya. Membalas tatapan Ayu yang terlihat marah. Senyum mengejek terukir pada bibirnya. "Kenapa tak terima, apa kurang jelas ucapan saya. Masih beruntung kamu, saya ditempatkan disini."
Ayu masih terdiam, dia memang membalas tatapan Kevin yang tampak sekali mengejek dirinya. Namun tak ada satu patah kata pun yang keluar untuk menampik ucapan tak enak itu.
Hingga suara ketukan pintu terdengar, dengan Kevin yang menyahuti perintah untuk masuk.
"Kebetulan kamu disini. Apa pekerjaanmu telah selesai? Bila iya, aku tugaskan kamu untuk mengawasinya," ujar Kevin yang memberi perintah pada seseorang yang ada di belakang Ayu.
Ayu yang sudah tak ingin berlama-lama di ruangan itu pun kemudian berucap permisi dengan suara yang terdengar nyaris tercekat, sebab dirinya menahan kuat agar tidak menangis. Dan disaat yang bersamaan saat dirinya membalikkan badan tepat di belakangnya justru ada orang yang di kenalnya, Akram.
Hingga entah kenapa laju air mata yang tadi sempat ditahannya kini mengalir saat keduanya kini tanpa sengaja saling bertatap.
__ADS_1
To be Continue