Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 31


__ADS_3

Perjalanan dari Solo ke Jakarta kutempuh dengan menaiki Bus. Aku dan Rico hanya berangkat berdua, sebab aku yang memaksanya. Sedangkan Pak Erwin yang berhasil mendapat beasiswa seperti aku dan Rico lebih memilih berangkat mengendarai pesawat.


Untuk melanjutkan pendidikan dalam mengambil prodi jurusan pariwisata butuh perjuangan besar. Lelah, itulah yang kurasakan saat ini. Apalagi ini adalah pengalaman pertamaku bepergian jauh.


Aku yang tak pernah menempuh jarak sejauh ini harus merasakan yang namanya menderita mabuk perjalanan. Jadi sudah pasti Rico lah orang yang aku repotkan karena dia duduk satu kursi denganku. Ditambah setiap kali aku memuntahkan isi perutku beriringan dengan dirinya yang menggerutu.


"Nyusahin! Tahu gitu tadi naik pesawat saja," ucapnya tapi dengan tangan yang tetap bergerak memijat tengkukku. Sedangkan aku masih sibuk menampung bekas muntahan pada kantong plastik.


Aku yang biasanya beradu argumen dengannya kini hanya bisa pasrah dengan keadaan. Berdebat tak mungkin sebab tenagaku sudah hampir habis. Aku yang sudah merasa sedikit enakan kini menyandarkan punggungku pada jok kursi.


Duduk diam memegangi perutku dalam keadaan seperti tersiksa di kendaraan umum begini membuatku seolah-olah kapok tak ingin besok naik bus lagi.


Air mataku merembes. Dalam hati merapalkan doa agar panjangnya perjalanan yang ditempuh ini segera sampai pada tujuan.


"Sorry, aku gak bermaksud tadi. Cuma kesel aja sama kamu yang keras kepala ngajak naik bus. Jadinya ginikan! Baru jalan dua jam saja kamu sudah teler," ucap Rico mengulurkan tisu padaku.


Aku menggeleng. "Uangku gak cukup buat naik pesawat," sahutku menerima tisu darinya lalu mengusap sebagian wajahku yang sudah dipastikan nampak begitu kacau.

__ADS_1


Rico mengusap kasar wajahnya. "Untung aja kamu masih aku anggap temen," celetuknya yang membuatku tak kuasa tersenyum.


"Tapi thanks banget ya karena gak geli punya temen kayak aku dalam kondisi seperti ini," sahutku yang menepuk lengannya.


Rico pun sontak bergaya seperti orang muntah. "Asli bukan geli lagi tapi jijik," ucapnya yang membuatku mencubitnya.


"Tega amat lu!" sahutku gemas.


Rico tertawa terbahak. "Tapi gimana, sudah agak mendingankan?"


"Ya lumayan sih. Perutku sudah gak seperti tadi."


"Emang harus?" sahutku menatapnya.


Serta merta Rico menoyor kepalaku. "Eh dodol, kalau kamu orangnya gampang mabukan kayak gini ya wajib minum obat anti mual!" semprotnya memarahiku.


"Ya mana kutahu. Bepergian jauh aja baru pertama kali," sahutku mencoba membela diri.

__ADS_1


Rico berdecak. "Tapi tadi sudah sarapankan? Perjalanan masih sembilan jam lagi."


Aku yang tadinya mengangguk kini menatapnya horor. "Selama itukah kita akan sampai?" tanyaku tak percaya.


"Iya," ucapnya penuh penekanan. "Dan untuk mengatasi agar penyakit mabuk tak menyerangmu lagi, aku sarankan minum ini," sambungnya menyodorkanku satu botol minuman bersoda.


Aku yang masih tak paham menurut menerimanya. Dan setelahnya Rico kembali berujar, "Biar bisa kentut dan bersendawa."


Aku pun meninju lengannya. "Anjuran kayak begini ilmu dari mana coba?" ucapku tapi dengan masih menuruti Rico membuka tutup botol kemudian menegak minum itu. Dan benar saja, setelah aku meneguk beberapa kali, aku bisa bersendawa dan membuat perutku kini merasa sedikit lega.


Saat aku menoleh menatap Rico, kulihat dirinya tampak bersidekap dan menutup mata. Tapi meski begitu dia kembali berucap, "Kalau sudah agak baikan, pejamkan mata lalu tidur sejenak."


Aku pun tersenyum dan mengangguk menanggapinya, lalu mengalihkan pandanganku ke arah luar jendela. Menatap sepanjang jalan yang terlalui. Kemudian aku menghela napas dengan pikiran yang mulai menerawang.


Perjalanan hidup memang tak semuanya mulus, namun ketika manusia mencobanya untuk memulai biarkan itu sulit pasti kesulitan itu akan juga terlewati.


Dan aku sangat bersyukur, dalam tiap aku menghadapi kesulitanku Tuhan masih memberi pertolongan lewat tangan-tangan kepercayaan-Nya.

__ADS_1


To be Continue


__ADS_2