
Aku ditempatkan di bagian laundry. Sedikit kecewa, namun aku bisa apa selain menjalaninya.
Kalau pihak HRD sendiri mengatakan aku bisa saja dipindah tugaskan pada pekerjaan yang lain jika saja kinerjaku bagus. Tapi nyatanya ini sudah tiga bulan berjalan dan aku hanya begini-begini saja, yakni berkutat dengan linen, seperangkat material kain yang digunakan pada operasional pelayanan kamar tamu hotel.
Berada dalam lingkup ruangan tempat mencuci, pengeringan serta penyediaan linen sampai siap pakai mengakibatkanku tak beranjak dari manapun. Dan lebih ngenesnya lagi aku sampai tak bertemu dengan Pak Akram.
"Ayu!"
Aku menoleh saat ada seseorang yang memanggilku. "Kenapa Co?"
Rico datang dengan masih berpenampilan ala koki, celemek masih terikat di pinggangnya dengan memakai topi tinggi di atas kepala. Tugasnya disini memang adalah sebagai asisten koki, namun kepiawaiannya dalam memasak dan meracik menu-menu baru membuatnya dipercaya untuk memegang kendali pesanan tamu.
"Sore ini aku gak bisa bareng ke kampus. Aku pulang agak malem," ujarnya membuatku mengangguk paham.
"Ada event lagi?"
Rico mengangguk. "Pemilik hotel, Ibu Soraya merayakan ulang tahun. Harusnya kamu ikutan saja, gak usah masuk kuliah dulu," usulnya.
Aku mendesah. "Hari ini ada tugas yang harus dikumpulkan dan aku gak mau menyia-nyiakan kesempatanku untuk kuliah. Cuma setahun dan aku gak mungkin mau ngulang," kataku dengan tekad kuat menyelesaikan pendidikanku disini tepat waktu.
__ADS_1
Hanya satu tahun beasiswa yang kuperoleh dari management hotel Kartika. Apalagi hidup di Jakarta amatlah keras. Meskipun nominal uang yang diperoleh disini terbilang besar tapi semua setara dengan nilai biaya hidup tinggal disini. Meskipun aku sudah berhemat nyatanya bila tiba di akhir bulan aku pasti kalang kabut.
"Malah ngalamun!" lagi-lagi Rico menepuk pundakku. Tangannya kini terlihat merogoh sesuatu dari dalam saku lalu menyodorkannya padaku.
"Kamu pasti belum sarapan?" tebaknya.
Dua potong brownis yang dibungkus dalam plastik transparan kini diletakkan di atas meja tepatnya di hadapanku.
"Terimakasih," ucapku yang entah sudah berapa kali kutujukan padanya. Entah bila bukan Rico orang yang bersamaku di Jakarta, mungkin aku telah jadi gelandangan.
Rico berdecak. "Kok, malah mewek?" ucapnya mengejek.
Aku terkekeh dan cepat menghapus air mataku yang merembes. "Gak tahu harus ngomong apalagi sama kamu Co. Pokoknya makasih banget buat kamu yang selalu bantuin aku," ujarku tulus.
Dan memang benar makanan yang Rico beri padaku adalah dari sebagian yang dia ambil dari dapur hotel.
***
Pukul setengah empat sore aku baru selesai dengan pekerjaanku dan mulai berkemas menuju keluar dari area hotel. Tujuanku kali ini adalah menuju halte bus sebab aku tak berbarengan dengan Rico.
__ADS_1
Waktu yang kumiliki untuk sampai ke kampus adalah satu setengah jam. Bila biasanya aku berangkat dan pulang bersama Rico, kami mampir ke rumah terlebih dahulu. Istirahat sejenak membersihkan diri kemudian berlanjut ke kampus mengendarai motor.
Namun kali ini sepertinya aku tak punya banyak waktu karena sudah pasti naik bus membutuhkan waktu yang lama karena terkendala macet.
Saat sudah hampir mendekati bahu jalan aku melihat bus rute arah tempatku tinggal tengah melintas. Aku tersenyum sumringah dan dengan langkah cepat aku bergegas mengejarnya. Setengah berlari aku berharap bisa menaiki bus itu agar segera sampai tempat kos.
Namun kala langkahku sudah berada di bahu jalan dan tak melihat pada arah sekitaran tiba-tiba aku tersentak kaget dengan tubuh terpental pada aspal jalanan.
Baru saja ada mobil yang melintas tepat di hadapanku. Aku terserempet dan sekarang dalam keadaan tersungkur. Rasa sakit terasa pada kakiku. Aku meringis kala menaikkan sedikit rokku melihat ada darah yang keluar berasal dari dengkulku.
Aku berdesis kala seseorang telah berjongkok di hadapanku, memeriksa kakiku.
"Kita ke rumah sakit," ucapnya dengan berusaha membantuku berdiri.
Tapi dengan cepat aku menepis tangannya. "Ini cuma luka ringan," kataku mencoba berdiri. Iya aku meyakini ini hanya luka ringan seperti luka yang kudapat saat aku jatuh dari sepeda.
"Aku yang akan bertanggungjawab membawamu ke rumah sakit karena tadi aku yang menabrakmu," tegasnya bersikeras membantuku.
Aku menggeleng dengan masih menunduk, dan sorot mataku kini terhenti pada sepatu pantofelnya yang terlihat mengkilap juga celana bahannya. Dan akupun semakin penasaran kemudian mengangkat wajahku mencoba menatap orang di hadapanku.
__ADS_1
Berpakaian begitu rapi dengan setelan jas mahal, dan dia adalah....
To be Continue