Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 23


__ADS_3

Aku sebisa mungkin menenangkan diri, menghapus air mataku juga membenahi sedikit penampilanku saat masih diperjalan menaiki bus menuju ke sebuah Mall tempat janjianku bersama Pak Akram.


Namun wajahku tetap saja samar terlihat sembab saat aku melihatnya dipantulan cermin kecil yang tengah kupegang.


Aku mendengus. 'Ini semua gara-gara Zahra, kalau saja dia tak pakai acara drama merengek dan menangis untuk ikut pasti tak akan jadi begini,' gumamku kesal dalam hati.


Menyadari aku akan sampai ke tempat tujuan, aku pun segera memasukkan cermin dan sisir kecil ke dalam tas kemudian beranjak dari dudukku menuju pintu keluar yang disana terdapat seorang petugas kondektur yang akan membantu membukakan pintu sesaat setelah bus berhenti pada halte.


Saat aku sudah turun dari bus kulirik jam di pergelangan tanganku, sudah menunjukkan pukul satu siang dan artinya aku sudah terlambat dari waktu janjian. Segera kurogoh ponselku dari dalam tas yang nyatanya telah ada beberapa pesan darinya.


Tanpa membuka pesan itu aku pun mendial nomornya, tak butuh waktu lama panggilan telponku kini telah tersambung.


"Bapak ada disebelah mana?" tanyaku setelah menjawab salam darinya. Namun mendengar jawabannya aku begitu tersentak sebab Pak Akram mengatakan sudah tak berada disini.


Tentu saja hal itu membuatku merasakan rasa kecewa yang teramat sangat dan setelah Pak Akram menjelaskan dirinya kini telah berada di Bandara Adi Soemarno Solo, dan hal yang membuatku bersedih adalah dirinya tadi memintaku datang ketempat ini hanya untuk berpamitan kepadaku sebab ini adalah hari terakhirnya tinggal disini.


"Bapak, boleh saya menyusul kesana?" tanyaku dengan suara nyaris bergetar, Pak Akram pun memberitahukan pesawatnya akan berangkat empat puluh lima menit lagi dan segera setelah sambungan telpon tertutup aku mencari ojek online yang kebetulan mangkal tak jauh dari tempatku berdiri.


"Pak ke bandara," ucapku setelah menghampiri Bapak ojek online dan menyalakan aplikasiku, setelahnya aku baru bisa menerima uluran helm darinya.


Selama dalam perjalanan hatiku merasa tak begitu tenang, aku takut waktunya tak bisa terkejar. Aku berulang kali meminta pada Pak Ojol mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Tapi ya begitulah jalan raya yang padat juga lampu merah yang berulangkali menyala membuat motor yang kami kendarai berhenti berulang kali. Sontak hal itu membuatku tak kuasa untuk menggerutu juga panik.


Sesampainya di gedung bandara, aku segera berlari masuk tak memperdulikan orang-orang yang menatapku bingung akan ulahku yang sudah lari kesetanan mencari sosok seseorang yang aku takutkan tak bisa kutemui lagi di masa mendatang.


Itu, dengan perasaan meyakini saat orang yang sangat kukenali kini terlihat hampir memasuki terminal bandara mengantri guna pemeriksaan tiket dan dengan lantang akupun bersuara.

__ADS_1


"Pak Akram!" teriakku berusaha menghalau nafas tersengal akibat ulah berlariku tadi dan beruntung kini langkahnya terhenti, tak hanya dia orang disekitarnya pun menoleh ke arahku.


Dengan menghalau air mataku aku pun melangkah ke arahnya begitu juga Pak Akram dengan senyum yang mengembang dari bibirnya dia mulai berjalan menghampiriku.


Aku yang sudah berdiri di hadapannya kini pun tak kuasa untuk menangis hingga tersedu-sedu tapi hal berbeda justru Pak Akram lakukan, dia terkekeh disertai tangannya mengulur mengelus kepalaku.


"Kenapa secengeng ini?" ucapnya bertanya.


"Kenapa Bapak pergi begitu saja?" bukannya menjawab pertanyaannya justru kini aku merengek sedih sebab dirinya yang akan pulang secara tiba-tiba, tak mengabariku sebelumnya.


Pak Akram menggaruk pelipisnya kemudian berujar, "Masa Training saya disini telah habis dan saya harus kembali menerima tugas di tempat sebelumnya."


"Dimana?" tanyaku mendongak menatapnya dengan mata berkaca.


"Hotel Wijaya di Jakarta," ucapnya tersenyum simpul.


Pak Akram menipiskan bibirnya lalu mengangguk sedikit ragu dan berujar, "Saya usahakan untuk berkunjung ke sini sebab banyak teman-teman yang sudah seperti kerabat dekat bahkan sudah saya anggap sebagai keluarga."


Aku mengangguk dan kini Pak Akram menepuk pundakku sambil berkata, "Termasuk kamu, Bapak sudah menganggap kamu seperti adik sendiri bagi saya. Dan saya gak menyangka sampai kamu menangisi saya." Ucapnya dengan tangan mengulur menghapus jejak sisa air mata di pipiku.


"Pak—," kataku terasa tercekat ditenggorokan. Hanya adik, batinku.


"Ya," sahutnya seraya menaikkan alis sebelah.


Aku yang tak kunjung berucap kini Pak Akram terdengar menghela nafasnya. "Ini pasti beratkan buat kamu, saya juga merasakan hal yang sama," ucapnya kemudian.

__ADS_1


"Ketahuilah ada pertemuan juga ada perpisahan, semoga di hari kelak kita bisa bertemu kembali dalam kondisi yang lebih baik lagi. Dengar!" ucapnya menangkup wajahku untuk kembali menatapnya.


"Jika kita dipertemukan kembali, Bapak ingin melihat kamu menjadi lebih baik lagi. Jaga diri baik-baik, belajar yang rajin dan raihlah cita-citamu," ucap Pak Akram menasehati dan akupun mengangguki ucapannya.


Pak Akram pun mulai memundurkan langkahnya, membuka tas ransel yang dia bawa kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam sana. Lalu setelahnya mengulurkan kepadaku.


"Apa ini Pak," kataku melihat kunci motor dari tangannya.


Pak Akram menarik sudut bibirnya kemudian menarik tanganku dan menggenggamkan kunci motor miliknya pada genggaman tanganku. "Saya yakin kamu yang lebih perlu," ucapnya disertai tersenyum.


"Saya sengaja gak jual motor saya, karena itu untuk kamu. Kamu yang lebih membutuhkannya. Ingat pesan saya, jaga diri baik-baik dan jangan pulang terlalu larut," jelasnya kemudian Pak Akram melirik jam di pergelangan tangannya.


"Sudah waktunya saya berangkat. Saya akan kirim alamat tempat kos saya ke ponsel kamu, untuk kamu nanti bisa ambil motornya. Belajar yang rajin dan selalu menjadi anak kebanggaan orang tua," ucapnya namun malah membuat mulutku mencebik ingin menangis lagi.


"Sudah jangan menangis, tambah jelekkan," ucapnya dan malah membuatku kini tak kuat menahan tangis hingga Pak Akram menarik diriku untuk dipeluknya.


Pak Akram menepuk punggungku lembut, dan aku berusaha mengontrol diriku sebab aku sadar Pak Akram sudah tak punya banyak waktu lagi disini. Berulangkali petugas informasi sudah memberi pengumuman pesawat dengan tujuan penerbangan ke Jakarta akan segera berangkat dan para penumpang dipersilahkan segera bersiap agar tentunya tak ketinggalan pesawat.


Setelah tangisku reda kini Pak Akram dan aku menarik diri hingga terciptalah jarak diantara kami.


"Bapak hati-hati dijalan," ucapku dan hanya kata itu yang bisa kuucap sebab sudah jelas dia hanya mengganggapku sebagai seorang adik dan jelas tak akan lebih.



Pak Akram mengangguk. "Kamu juga," ucapnya kembali mengelus kepalaku lembut. "Kalau begitu saya pergi dulu," ucapnya setelahnya dab akupun menjawabnya dengan anggukan disertai air mata.

__ADS_1


Pak Akram melambaikan tangan begitu pula aku membalasnya demikian, hingga kini punggungnya sudah tak mampu lagi terlihat olehku.


To be Continue


__ADS_2