Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 110


__ADS_3

Di hadapan Ayu telah ada dua buah cake dengan rasa yang berbeda. Satu miliknya yang dia beli kemarin sore dan satu lagi hadiah dari Kevin, cake rasa coklat kesukaannya.


Satu bungkusan lagi Ayu sengaja tak membukanya. Ayu letakkan kotak itu di rak meja.


Menghabiskan sarapan pagi dengan waktu yang cukup lama, Ayu menahan napas ketika menyadari waktu hampir menunjukkan pukul sembilan. Bersamaan dengan itu ponselnya berdering, pada layar tertera nama Ida.


"Iya Da..." sahut Ayu saat menerima panggilan telpon.


"Kamu gak masuk?"


Menghela. "Aku masih di apartemen."


"Bukan kah kamu bilang hari ini ada ujian?" sahut Ida mengingatkan.


"Ah... Iya kah? Aku lupa..." ucap Ayu kelabakan. Mulai panik, dia lalu beranjak bangkit berdiri dari duduknya.


"Iya ini aku siap-siap!" ucap Ayu lagi masuk ke dalam kamarnya, kemudian melemparkan ponselnya begitu saja di atas kasur. Mengambil pakaian dan masuk ke dalam kamar mandi.


Tak berlama-lama, ujian yang akan berlangsung hari ini akan diadakan pada pukul sepuluh lebih. Begitu persiapan Ayu dirasa cukup dirinya bergegas keluar dari apartemen dan mencari taxi yang melintas di jalan utama depan gedung apartemennya.


Berlari begitu keluar dari mobil taxi yang dia tumpangi, berharap segera sampai di kelas dan beruntungnya lagi saat tiba di kelasnya dosen pembimbing belum datang.


Peluh membanjiri dahinya, baju yang dia kenakan juga basah akan keringat belum lagi dengan napas ngos-ngosan membuatnya seketika meletakkan kepala di atas meja.


"I'm tired..." gumam Ayu ketika teman di bangku sekitar menatap ke arahnya.


Berselang kemudian dosen pembimbing datang memberi materi yang akan diujikan kepada mahasiswa. Sampai disini dengan tepat waktu membuat Ayu begitu bersyukur. Nyaris dan hampir kesempatannya tergerus akibat urusan asmara yang belakangan ini membuat risau hatinya.

__ADS_1


***


Pulang, ini adalah kali ke dua Ayu pulang ke Indonesia setelah setahun lebih tinggal di Singapura. Kepulangan pertama adalah ketika dia menyelesaikan semester duanya dan untuk kepulangannya hari ini dia sendiri tak dijemput layaknya dulu.


Tinggal sendiri membuatnya lebih mandiri dalam mengatur waktu juga keuangan yang tentu didapat dari keluarganya. Ayu hanya diperbolehkan menuntut ilmu tanpa diijinkan bekerja tentu hal itu ditunjang dengan fasilitas juga jatah bulanan yang Ayu rasa lebih dari cukup.


Adab dan budaya tinggal disana nyatanya mampu merubah sedikit penampilan yang ditambah dengan pengaruh dari beberapa temannya. Mungkin orang lain akan melihatnya pangling sebab Ayu telah piawai memoleskan make-up di wajahnya.



Tiba di bandara Ayu segera memesan taxi dengan tujuan pulang ke rumah kakeknya. Ijin cuti yang dia miliki hanya dua hari, jadi tak banyak barang bawaan yang dia bawa karena Soraya telah mempersiapkan segala keperluan untuk acara resepsi nanti malam.


"Loh kok gak kasih tahu kalau Neng mau pulang? Mang kan bisa jemput," ucap Mang Yayat ketika membuka gerbang, mendapati ada Ayu berdiri di hadapannya.


"Gak apa Mang. Lagian ini juga sudah sampai rumah dengan selamat," sahut Ayu seraya tersenyum.


Mengangguk mengiyakan, Ayu pun segera masuk. Tak banyak yang berubah dari rumah kakeknya. Hanya... Ketika dia mulai melewati pekarangan rumah, Ayu menghentikan sejenak langkah kakinya. Dilihatnya interaksi kakeknya bersama dengan dua bocah kecil, Zahra dan juga Lyra.


Nampak senyum mengembang dari Kakeknya yang terlihat sangat bahagia melewati kebersamaan dengan cucunya. Apalagi Zahra dia nampak begitu akrab dengan kakeknya yang tentu membuat hati kecil Ayu merasa iri.


"Kapan sampai?" Soraya tiba-tiba muncul dan membuat Ayu tersentak.


"Mbak," sahut Ayu menoleh. "Barusan," sambung Ayu menampakkan senyum.


"Lihatin apa?" tanya Soraya penasaran sebab dilihatnya tadi Ayu yang tak kunjung masuk ke dalam rumah. Sekarang Soraya justru mengedarkan pandangannya dan paham dengan apa yang Ayu perhatikan.


"Kakek?" tanya Soraya memastikan dan diangguki oleh Ayu. "Kesana, beri salam dulu sama Kakek."

__ADS_1


Ditatapnya Ayu dan Soraya mendapati kalau saudari iparnya itu hanya tersenyum tipis, nampak enggan.


"Kakek juga merindukanmu," ujar Soraya membuat Ayu serta merta menatapnya. "Sekeras apapun batu pasti akan terkikis oleh keadaan dan waktu. Kakek butuh waktu dan yang Mbak ketahui selama kamu pergi Kakek kerap menanyakan kabarmu."


Ayu kian menatap dalam pada Soraya yang kemudian mengangguk. "Kakek peduli padamu, meski awalnya Kakek menentang kamu belajar disana. Dan dengan hasil dari belajarmu dua semester ini, Kakek nampak bangga terhadapmu," jelas Soraya yang tak mampu Ayu membendung lagi rasa harunya.


"Itu artinya Kakek menyayangi—ku?" ucap Ayu dengan mata berkaca.


"Tentu," sahut Soraya membenarkan. Tangannya pun bergerak menggandeng Ayu menuju tempat Kakek yang tengah duduk pada papan gazebo.


"Kakek, Ayu sudah tiba di rumah."


Serta merta Kakeknya menoleh saat Soraya bersuara. Tak ada ekspresi apapun, namun dengan dorongan dan perintah Soraya, Ayu bergegas memberi salam pada Kakeknya serta cium tangan.


Dirasakannya tangan Kakek bergetar, hingga membuat Ayu mendongakan kepala menatap Kakeknya.


Mata kepedihan dan luka nampak jelas dari dalam bola mata Kakeknya, dan tanpa banyak kata Kakeknya justru menarik dan memeluk Ayu. Tubuh Kakeknya semakin bergetar, tangis tapi masih mampu di tahan. "Maafkan Kakek. Tapi Kakek benar-benar merindukan Ibumu. Putri Kakek," gumam Kakeknya yang tentu membuat Ayu menangis.


"Maaf kan Ibu jika terlalu banyak membuat kesalahan pada Kakek," sahut Ayu yang turut menangis.


Menggeleng. Kakek melepas pelukannya lalu menatap Ayu. "Semua sudah berlalu. Kakek juga salah karena terlalu mengekang putri-putri Kakek. Jadi sudah seharusnya Kakek menanggung kesalahan yang telah Kakek buat sendiri. Lalu bagaimana dengan keseharianmu tinggal di luar negri? Apa kamu mengalami kesulitan?" ucap Kakek yang membuat Ayu sesaat tercenung.


Begitu cepat Kakeknya mengubah topik pembicaraan dan dalam hatinya tentu dia merasa amat bahagia sebab pertanyaan yang baru saja diluncurkan dari mulut Kakeknya adalah bentuk dari rasa kepedulian. Untuk itu kini Ayu mengangguk dan menampilkan senyum mengembang di bibirnya dan berujar, "Meski sulit tapi Ayu menikmatinya."


Menikmati senandung perjalanan hidupnya dalam menggapai impian.


To be Continue

__ADS_1


NEXT BAKAL ADA KEVIN DAN AKRAM


__ADS_2