
Nyatanya satu pesan kabar darinya mampu membuat satu hariku menjadi berwarna.
Selamat pagi, semangat untuk menjalani hari.
Ya, satu pesan itulah yang setiap pagi dia kirimkan untukku bahkan sampai malam pun tak hentinya aku bolak balik mengecek ponselku kali saja Pak Akram kembali mengirimiku pesan dan tak bosan-bosannya aku melihat tulisannya itu, lalu menunggu dan berharap ada pesan lainnya lagi yang mengatakan aku rindu.
"Ha ha ha, mimpi!" gumamku seraya menahan tawa dan ku gelengkan kepala.
'Apa dia punya perasaan yang sama seperti apa yang tengah kurasakan?' batinku bertanya-tanya.
Aku kemudian menghela nafasku, menyandarkan punggungku dikursi seraya kudengarkan sebuah lagu yang tengah berputar di ponselku yang berjudul cinta pertama yang dinyanyikan oleh seorang penyanyi indonesia Isyana saraswati.
Aku tahu
Saat 'ku menatapmu tapi aku masih ragu
Malu aku
Namun hatiku tak mampu menahan rasa itu
Oh, berdebar hatiku
Kini aku tahu rasanya orang jatuh cinta
Seperti terbang ke angkasa
Suasana hatiku pun menjadi berbunga-bunga
Inikah cinta pertama?
Aku menirukan bait-bait lagu menyanyi bersama dengan alunan senada dan seirama suara sang penyanyi aslinya. Tak cukup sekali, aku bahkan memutarnya berkali-kali tak peduli jika aktivitasku menyanyi di dengar oleh orang lain, sebab ku yakin orang lainpun akan menyukai lagu ini.
Lagu yang kuputar kini tiba-tiba terhenti dan setelah aku menoleh ke arah ponselku ada pesan masuk. Seketika mataku membeliak dengan jantung berdebar dan rasa tak percaya aku meraih ponselku. Nama Pak Akram lah yang kini tertera di layar ponsel dan dengan segera aku membuka pesan itu, disana tertera tulisan.
__ADS_1
From: Pak Akram
Ayu, bila hari ini tak ada acara bisakah kita bertemu...
Dengan tangan bergetar aku kini mencoba membalas pesan darinya, mengetik berulang kali tapi aku tak yakin lalu ku hapus hingga berulang-ulang kali. Akhirnya aku menyakini kalimat yang kutulis inilah adalah yang terbaik untuk membalas isi pesannya.
To: Pak Akram
Ayu hari ini gak ada acara Pak, memangnya kenapa Pak?
Tak berapa lama setelah pesanku terkirim kini aku mendapatkan sebuah balasan darinya. Tapi malah jantungku kini berdebar semakin kencang sebab isi pesan yang aku terima adalah,
From: Pak Akram
Surprise, di Mall dekat balai kota saya tunggu saat makan siang.
Dengan rasa tak percaya, senyum mengembang dan hati yang bersorak, aku kini menyanggupi isi pesannya. Kulihat di ponselku kini sudah pukul setengah sebelas siang, itu artinya aku punya waktu satu jam untuk bersiap.
Aku pun beranjak dari kursi yang aku duduki kemudian mencari pakaian di dalam almari. Mencari mana yang paling bagus diantara yang lain, memilih yang paling pas dan enak dipandang oleh orang lain. Karena aku ingin tampil cantik hari ini.
Mengingat aku tak memiliki banyak waktu lagi akhirnya pilihanku jatuh pada kemeja bermotif bunga. Disertai aku kini menarik satu celana jeans berwarna abu muda.
Segera aku bergegas keluar menuju bilik kamar mandi umum. Hari ini tak antri sebab ini adalah hari minggu dan maklum saja ini sudah siang, hari minggu yang biasa dipakai untuk bermalas-malasan seperti halnya denganku kalau mandi rada-rada siang.
Usai mandi aku bersiap juga berdandan sedikit, menabur bedak biar terlihat fress dan enak dipandang mata. Aku memandangi diriku di depan cermin. Seperti ada yang kurang? pikirku.
Saat sorot mataku berhenti tepat menatap bibirku dicermin aku sedikit berdecak sebab bibirku terlihat pucat dan nampak pecah-pecah, maklum saja sebab aku kini sedang mengalami sariawan.
Aku membalikkan badanku berupaya mencari lipstik milik ibu, tapi setelah berhasil menemukannya dan membuka tutup lipstik itu, bibirku melengkung seketika disertai raut wajah kecewa.
"Kenapa Ibu beli lipstik dengan warna seperti ini," gumamku, sebab warna lipstik yang aku pegang berwarna merah menyala.
Dengan langkah menuju ke arah cermin dan gerak ragu aku mencoba memoleskannya pada bibirku. Dan setelah aku menarik lipstik dari bibirku aku seketika berdecak.
__ADS_1
"Astaga, mirip seperti ondel-ondel," ucapku tak percaya.
Menjadi orang tak punya memang gak enak. gerutuku dalam hati namun aku cepat-cepat beristigfar seraya tanganku bergerak menghapus bekas lipstik yang menempel pada bibirku.
Ku lirik jam di ponselku sudah hampir menunjukkan pukul setengah dua belas siang, terlalu banyak waktu yang aku buang ternyata.
Setelah memastikan dan beberapa kali menatap pada cermin bahwa penampilanku telah rapi aku segera beranjak mengambil tas slempang kecil milikku yang biasa aku pakai untuk bepergian. Mengisinya dengan dompet, bedak, tisu dan tak lupa ponsel juga aku masukkan.
Sebelum beranjak keluar menuju pintu aku juga menyemprotkan minyak wangi pada tubuhku, alasannya adalah biar wangi.
Pintu kini terbuka dan saat aku menoleh kulihat ada Ibu juga Zahra disana. Zahra yang baru turun dari gendongan Ibu kini berlari menghampiriku. Aku sudah was-was jangan sampai adikku merengek ingin ikut.
Dan yang kutakutkan benar terjadi, saat aku hendak melangkahkan kaki menuju ke arah pintu Zahra ikut berjalan membuntutiku.
"Zahra dirumah aja ya," ucapku menoleh ke arahnya saat aku berjongkok mendudukkan diri memakai sepatuku.
"Ikut," ucapnya seraya memegangi ujung kaos yang aku kenakan.
"Mbak cuma sebentar kug, nanti pulang Mbak beli oleh-oleh buat kamu," kataku berusaha membujuk tapi Zahra tetap berucap, "Ngin ikut."
"Buk...," kataku memohon agar Ibuku membujuk Zahra agar tak ikut denganku, tapi usaha beliau tak juga berhasil.
Waktu yang sudah begitu mepet menjadikanku kini makin frustasi sebab rengekan Zahra ditambah dengan gerakan tangannya yang tak kunjung lepas dari tubuhku barang sejenak, dia bersikukuh mau ikut dan ikut membuatku hilang kesabaran dan dengan kesadaranku aku membentaknya.
"Zahra! Mbak cuma sebentar gak lama," seruku padanya seraya menyentak tangannya agar melepas remasannya pada pakaian yang kukenakan, namun yang terjadi dia malah menggencangkan tangisannya. Justru kini Ibu mengomeliku sebab aku berlaku kasar pada adikku.
Tak hanya Zahra yang menangis tapi kini aku juga ikutan menangis sebab rasanya mengapa harus dihadapkan pada situasi seperti ini.
"Kamu sebenarnya mau kemana?" tanya Ibu kemudian.
"Ya pergi, Ayu ada janji, sudah mau telat!" ucapku kesal seraya menangis tapi Zahra kembali lagi mencengkeram memegangi kakiku erat.
"Ya sudah kalau begitu kamu berangkat biar ibu yang urus Zahra," kata Ibuku seraya berusaha melepas belitan tangan Zahra pada kakiku. Usai terlepas akupun segera beranjak pergi keluar rumah mengabaikan adikku yang tengah menangis memanggil-manggil namaku untuk ikut.
__ADS_1
To be Continue