
"Kamu terlambat!"
Tubuhku seketika kaku usai menarik kartu absensi. Tepat di belakangku terdengar suara datar namun tegas mengintrupsi. Aku mengenali suaranya, dan saat aku membalikkan tubuhku sekilas menatapnya. Benar saja dia adalah atasanku Pak Kevin.
Segera aku menunduk berupaya meminta maaf, namun nyatanya tak semudah itu dia mau melepasku begitu saja. Dia bahkan berujar memberi perintah, "Ikut denganku!"
Tak mau membantah dan membuat masalah aku pun menurut mengikuti langkahnya membawaku menuju floor supervisor.
"Selamat pagi Pak," sambut Bapak Jayadi selaku pengawas seksi kamar ketika kami masuk menuju ruangannya.
Pak Kevin hanya mengangguk dengan tetap menampilkan wajah datar. Tanpa basa-basi dirinya meminta pada Pak Jayadi buku jurnal absensi karyawan area sini kemudian mulai mengeceknya.
Tak lama sorot mata Pak Kevin beralih menatapku. "Tiga hari mengajukan cuti dan lebih dari satu minggu bolos absensi."
__ADS_1
"Surat ijin telah saya lampirkan bersamaan dengan permohonan pengajuan kerja partime di hotel ini," sahutku menunduk.
"Kamu pikir hotel ini milik anggota keluarga kamu, bila di perhitungkan lebih dari sepuluh hari absensi kamu kosong!" ujar Pak Kevin dengan melempar kasar buku jurnal ke atas meja. "Lalu, apa alasan kamu tidak masuk bekerja lebih dari sepuluh hari dalam satu bulan."
Perasaan gugup dan juga bercampur kesal bercampur menjadi satu, sebab berpikir bisa-bisanya seorang General Manager mengurusi absensi karyawan yang jabatannya paling bawah.
"Kenapa tidak menjawab?" Tanyanya yang kian menuntut membuat Pak Jayadi kali ini bersuara, "Maafkan atas tindak kurang baik dari Ayu selaku karyawan bagian dari area saya. Memang Ayu tidak masuk bekerja itu berdasarkan dari cuti yang diambil, dan penambahan masa absensi selama lebih dari seminggu menurut keterangan, keluarganya sedang dalam keadaaan berduka."
Susah payah aku menelan salivaku. Memahami ucapan Pak Jayadi yang bisa saja aku tak akan bertahan untuk bekerja disini.
"Di bagian departemen mana Ayu di pindahkan?" tanya Pak Kevin yang justru keluar jalur dari apa yang tadi dibicarakan.
Pak Jayadi pun juga menatap bingung, dia menatap bergantian antara aku juga Pak Kevin dan samar aku geleng kepala karena belum tahu nantinya akan ditugaskan dimana.
__ADS_1
"Ikut saya!" perintah Pak Kevin yang makin membuatku merasa bingung.
"Ngapain masih berdiri disitu?" ucap Pak Kevin yang memberhentikan langkahnya di ambang pintu, matanya menyorotiku tajam. Sedangkan Pak Jayadi memberi isyarat agar aku lekas mengikutinya.
Aku pun memberi salam menunduk kembali pada Pak Jayadi untuk berpamit, kemudian mengikuti langkah Pak Kevin menuju lorong lift, dan yang kutahui lift yang dipakai ini adalah lift khusus bukan untuk karyawan maupun tamu hotel.
Setelah kuamati nomor yang ditekan pada tombol lift adalah lantai teratas. Apa mungkin Pak Kevin membawaku kembali ke ruangannya, tapi untuk apa? batinku yang semakin waspada.
Refleks aku memundurkan langkah hingga punggungku bersandar pada dinding lift. Mengamati dari belakang tubuh Pak Kevin yang berdiri menjulang tepat di hadapanku. Aku juga semakin menggigit kuat bibir bawahku, apa lagi yang akan terjadi nanti?
To be Continue
Mau dibawa kemana?????
__ADS_1