
"Non, Den Kevin sudah nungguin di depan," ujar seorang asisten rumah tangga kepada Ayu.
"Iya Bik. Sebentar lagi Ayu turun," sahut Ayu yang masih tak beranjak dari depan meja riasnya.
Usai asisten rumah tangganya menutup pintu kamarnya, Ayu kembali memutar badannya untuk menghadap ke arah cermin.
Lingkaran hitam di bawah matanya nampak samar. Mata bengkak akibat menangis semalam begitu kentara, dan untuk menutupinya Ayu berusaha menebalkan riasannya.
Tapi— malah justru terlihat berlebihan. Menghela napas pasrah, Ayu pun menarik botol pembersih lalu menuangnya pada kapas.
Gak mungkin berpenampilan layaknya badut di tempat umum, batinnya. Segera Ayu membersihkan wajahnya dari riasan yang menempel di wajahnya, lalu memoles kembali make-up tipis sesuai biasanya.
Tak peduli jika nanti Kevin menyadari sisa tangisan semalam terlihat, karena tentu saja dalam pikirannya Ayu telah merangkum kata-kata sebagai jawaban bila saja kekasihnya itu menanyakan sebab dari wajahnya yang tak enak dipandang.
Ayu turun dengan membawa hanya membawa tas selempang yang menggantung di bahunya. Dari arah ujung tangga pun kini telah telihat punggung yang menyander nyaman pada sofa ruang tamu.
"Maaf lama menunggu," ucap Ayu yang sontak membuat Kevin menoleh menatap Ayu. Melemparkan senyum kemudian lelaki itu menggeleng memaklumi.
"Kita langsung berangkat saja ya," pinta Ayu.
"Pamitan dulu sama Kakek?" sahut Kevin menegakkan posisi duduknya.
Menggeleng dan sedikit mengalihkan tatapannya dari Kevin, Ayu berujar, "Gak perlu. Kakek sudah berangkat ke Rumah Sakit bersama Abang. Kalau Mbak Soraya sudah berangkat ke Yayasan. Jadi gak ada orang rumah, tapi tadi pagi Ayu sudah pamitan kok."
__ADS_1
Mengangguk paham segera Kevin bangkit dari duduknya. "Gak ada barang lagi yang mau dibawa?" tanya Kevin memperhatikan barang bawaan Ayu, karena Ayu biasa membawa satu buah koper kecil.
Menggeleng singkat. "Gak. Ini saja Pak, barang saya gak banyak," ujar Ayu yang sudah tak nyaman dari tempat berdirinya. Ingin segera keluar, lebih tepatnya menghindar dari tatapan Kevin.
Kevin menghela melangkah mendekat hendak menggandeng tangan Ayu untuk keluar bersama, tapi yang didekatinya justru menampakkan sikap berbeda. Ayu menggeser badannya membuat kening Kevin serta merta mengernyit dalam.
"Ka—kalau kelamaan nanti kita bisa terlambat Pak," sahut Ayu cepat. Mengangkat wajahnya sejenak menatap Kevin. Dia merutuki diri atas tindakannya tadi yang terkesan refleks.
"Hmmm. Baiklah, Ayo," ucap Kevin yang langsung merangkul pundak Ayu. "Tapi bisakah kata-kata "Saya" dihapus saja, ganti kata lain," ujar Kevin yang serta merta membuat langkah kaki Ayu terhenti. Menatap Kevin.
"Kenapa?" ucap Ayu lirih. Apa ada yang salah, batinnya.
"Kata "Saya" itu terdengar cukup formal," Sahut Kevin yang balas menoleh menatap wajah Ayu. Dari jarak yang sedekat ini dapat dilihat olehnya mata Ayu nampak sembab.
Ayu sontak memutar, menggerakkan kepalanya berusaha menepis jemari Kevin yang menunjuk ke arah matanya. "Sa—saya kemarin nonton drama yang kisahnya said ending. Nangis deh. Jadinya kayak begini. Memang kelihatan banget ya Pak kalau saya habis nangis?" ujar Ayu mengusap dan meraba matanya yang terasa masih membengkak.
Bukan menanggapi ucapan Ayu barusan tapi Kevin justru memincingkan matanya. "Masih diulangi lagi kata "Saya". Kamu bisa kan ganti pakai kata Aku atau bila perlu panggil calon suamimu ini sayang," ujar Kevin gemas.
"Idih..." Ayu yang malah mendengar kata sayang justru geli. Mencibirkan mulutnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dasar kamu ini memang! Kalau bukan calon istri, sudah aku..."
"Sudah aku apa?" sahut Ayu cepat memotong ucapan Kevin.
__ADS_1
Melirik ke arah sekitar ruangan yang memang benar-benar sepi Kevin berujar mendesis gemas di telinga Ayu. "Sudah kuterkam hidup-hidup!"
"Aisstttt..." desis Ayu mendorong kepala Kevin agar menjauhkan dari kepalanya. Sebab permukaan bibir kekasihnya menempel di telinganya membuatnya geli.
Kevin sontak terbahak dengan masih mengeratkan rangkulannya di pundak Ayu. Mengajak kembali gadis itu melangkah keluar dari rumah menuju ke dalam mobilnya.
Masih ada beberapa kilometer yang ditempuh setelah mobil memasuki area jalan tol menuju Bandara. Kevin dari tadi melirik ke arah Ayu yang semenjak masuk ke dalam mobil tak mengeluarkan banyak suara.
Sebenarnya dia tak mempercayai alasan kenapa wajah Ayu nampak begitu kacau. Kalau hanya karena nonton drama dengan kisah yang sedih, maka juga tak akan mungkin terbawa suasana hingga sekarang, hingga menyebabkan gadis itu nampak murung.
Setelah memasuki area Bandara, mobil berputar mencari tempat parkir dan saat sudah mobil berhenti Kevin sengaja tak langsung turun.
Bahkan hingga hampir dua menit berlalu Ayu menyadari bahwa mobil telah berhenti. Sedikit terperanjat dan menoleh ke tempat sekitar. "Sudah sampai ternyata?"
Ayu menoleh menatap Kevin sejenak, tangannya pun kali ini bergerak sibuk melepas sabuk pengamannya. Tapi dengan cepat Kevin mencekalnya menghentikan pergerakan tangan Ayu yang mencoba melepas sabuk pengaman.
"Kamu kenapa?" ucap Kevin masih kuat memegangi pergelangan tangan Ayu, sebab gadis itu mencoba untuk memberi perlawanan. Menepisnya.
"Ayu! Kalau kamu gak mau bilang tentang masalah yang menimpamu, kita tak turun!" tegas Kevin yang terdengar seperti suara bentakan. Sontak satu tangan Ayu yang dari tadi mencoba ingin melepas sabuk yang sulit dan tak kunjung terlepas dan satu tangannya lagi yang dipegang oleh Kevin mendadak melemah tanpa pergerakan.
Ditatapnya Ayu, gadis itu tetap saja menunduk. Kevin jadi makin paham kalau Ayu memang benar-benar memiliki masalah. Dan tentu sebagai orang yang sudah menjalin hubungan dekat dengan gadis itu, Kevin merasa berhak untuk tahu.
"Sekarang katakan, aku perlu tahu," ujar Kevin dengan satu tangan mengusap sisi wajah Ayu dan mengangkatnya. Namun yang didapatinya justru mata Ayu sudah nampak berkaca dan hal itu semakin menjadikan diri Kevin diselimuti rasa kekhawatiran.
__ADS_1
To be Continue