Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 123


__ADS_3

"Cucu Kakek berhak bahagia," bisik Kakek saat Ayu masih terisak dalam pelukannya.


Ayu menggeleng tak bisa membendung perasaan haru dari dalam dirinya. Dirinya begitu bersyukur bahwa ternyata Kakeknya begitu peduli padanya, sampai-sampai di saat berada dalam jarak yang begitu jauh Kakeknya tahu dengan apa yang dia lakukan.


Benar saja dia merasa bahagia tapi juga merasakan rasa malu bersamaan, apalagi jika dia mengingat apa saja yang telah dialaminya bersama Kevin.


"Maaf Kek," ujar Ayu di tengah isakan yang sedikit mereda. Ayu menarik diri dengan tatapan yang masih menunduk.


Namun Kakek yang memperhatikan mimik wajah Ayu menahan senyum.


"Ayu bahkan belum bisa membalas budi baik Kakek," ujar Ayu dengan suara lirih.


Sontak Kakek menggeleng. "Kamu sudah sampai disini, membawa serta Zahra dalam keadaan sehat dan berjuang dalam keadaanmu yang susah, Kakek sudah bangga," ujar Kakek membuat Ayu kembali menangis.


Ayu benar-benar tak menyangka, perjuangan dalam bersusah-susah atas keadaan yang dulu menimpanya ternyata tak selamanya berakhir dengan duka. Dia amat begitu bahagia, hatinya pun tak hentinya berucap syukur.


"Terimakasih Kek," ujar Ayu dengan mata berkaca, dan tangan Kakek terulur untuk menyeka airmata di pipinya.


Kevin turut tersenyum dengan yang tengah dilihatnya. Menyadari orang-orang terfokus melihat tangis haru dari Ayu, kini giliran dirinya kembali mengulangi kalimat permohonannya tentang meminta restu dari kedua orangtuanya.


"Gimana Pa, Ma? Kakek sudah menyetujui dan memberi hak kepada Ayu untuk berbahagia, yang itu artinya tugas Kevin sebagai pacar adalah membahagiakannya. Jadi— Kevin mohon restui kami berdua ya?" kata Kevin mencoba merayu kedua orangtuanya.


Cindy menatap anaknya dengan gelengan kepala. "Jadi hanya Mama dan Papa yang gak mengetahui hubungan yang terjalin di antara kalian berdua?" ucap Cindy menatap kesal pada putranya.

__ADS_1


Kevin melirik ke arah Ayu. "Niat Kevin sudah dari dulu mengenal Ayu kepada Mama, tapi Ayu selalu mengatakan bahwa dia belum siap. Mama tahu itu karena apa?"


Kening Cindy mengerut dalam lalu menoleh ke arah Ayu sejenak dan kembali menatap putranya untuk menggelengkan kepala.


"Karena Ayu ingin mempersiapkan diri untuk tampil di depan Mama sebagai calon menantu yang Mama banggakan. Sebagaimana Kevin yang juga berusaha berjuang buat menungguinya, Kevin rasa bila Mama mengharapkan menantu yang sesuai dengan Mama sebutkan tadi yang memiliki profesi seperti layaknya pramugari atau yang lain sebagainya, justru Kevin rasa Mama gak akan kunjung segera melihat anakmu ini untuk naik ke pelaminan. Meski Kevin yakin bahwa Ayu juga mampu untuk mengejar profesi itu, tapi bila dipikir lagi bukankah itu masih memerlukan waktu yang lebih lama lagi? Sedangkan bila dihitung saja sekarang Kevin sudah berusia tiga puluh tiga tahun. Bahkan Mama lihat saja Keponakan Kevin sudah sebesar ini," ujar Kevin yang sejenak menatap Lyra.


"Jadi jangan biarkan Lyra yang lebih mendahului Omnya untuk menikah," ujar Kevin yang justru mendapat toyoran langsung di kepala atas ucapannya.


"Sembarangan ngomong saja, Lyra itu masih balita," ujar Soraya yang tak terima.


Kevin meringis sambil mengelus tengkuknya, dia tak bermaksud dan hanya mengemukakan perumpamaan agar segera mendapat restu dari orangtuanya. Sebab dia tahu betul dengan perubahan sikap Ayu sewaktu Mamanya menyebutkan beberapa kriteria wanita yang sempat dikenalkan untuknya, sehingga Kevin berkata demikian sebagai upaya memberi dukungan dan membangun kepercayadirian untuk Ayu.


Cindy yang mendengar penjelasan dari putranya pun tampak berfikir lalu sejenak mengalihkan tatapannya kepada Ayu yang telah duduk kembali pada kursinya semula. Memang untuk mencari sesuatu yang sempurna di dunia itu tak akan mungkin.


Dari luar memang bisa dikatakan sepadan tapi dalam hati siapa yang mengerti. Menilik kembali ke arah putranya yang menampilkan sorot mata permohonan dan ucapan tulus, Cindy paham memang putranya menaruh hati kepada gadis yang duduk di seberangnya.


Putranya telah menjatuhkan hati juga pilihan, dan tak bisa dipungkiri bahwa Cindy kali ini harus menuruti keinginan putranya dan sebagai kata lain dia akan berusaha menerima pilihan putranya. "Mama memberikanmu restu, selebihnya keputusan Mama serahkan kepada Papa," ucap Cindy memaksakan senyum.


Kevin yang mendengar ucapan Mamanya begitu merasa bahagia. Senyum mengembang dia arahkan kepada Ayu, kemudian dia berucap tulus menanggapi Mamanya. "Terimakasih Ma. Terimakasih Mama sudah memberi restu."


Kevin pun berdehem. "Jadi Papa gimana? Setuju juga kan?" kata antusias Kevin yang sudah tak sabaran.


Bramantyo menanggapi putranya dengan senyum. "Kamu sudah ngebet begitu

__ADS_1


Papa bisa apa selain berpesan, segera halal kan Ayu."


Sontak usai mendengar ucapan itu Kevin menghambur memeluk Papanya dan berucap terimakasih yang di ulang-ulang. Karena kebahagiaan benar-benar sudah tak bisa Kevin bendung lagi. Padahal kedatangannya kesini tadi adalah memberi kejutan kepada Ayu, tapi kini seolah dirinya merasa seperti yang tengah diberi kejutan.


"Terimakasih Ma," ungkap Kevin saat melepas pelukan dari Papanya. Kini Kevin beralih memeluk dan mencium tangan Mamanya.


"Kamu bahagia?" ucap Cindy menyoroti raut wajah putranya yang menampakkan ekspresi begitu sumringah.


Dan Kevin tentu menanggapi dengan anggukan antusias hingga Cindy pun membatin bahwa dia juga turut berbahagia.


Kevin beralih beranjak hendak memeluk saudaranya, Soraya. Namun hal itu segera ditepis oleh Soraya yang berujar mencibir, "Sudah yakin, memang Kakek memberimu restu?"


Sontak wajah Kevin pun mendadak pias. Kepalanya menoleh menatap Kakek dan Ayu. "Kan Kakek tadi bilang, cucunya berhak untuk bahagia," ucap Kevin dengan apa yang didengarnya beberapa menit lalu.


"Belum tentu kan, orang yang ditunjuk untuk membahagiakan Ayu itu adalah kamu," ucap Soraya yang mendadak menarik energi kepercayaan diri dari dalam diri Kevin. "Atau sana tanyakan dulu kepastiannya. Keburu kegirangan ternyata Kakek sudah nyiapin orang lain duluan, kan malu. Ah bukan, malah malu-maluin," kata Soraya lagi berbisik menimpali.


Akibat ucapan itu sungguh mendadak badan Kevin diserang rasa panas dingin. Sisi hatinya padahal telah meyakini bahwa yang didengarnya tak salah. Memang Kakek telah memberi restu, apalagi kan Kakek juga ternyata tahu tentang hubungannya yang terjalin sembunyi-sembunyi bersama Ayu.


Namun sisi batinnya yang lain yang terngiang akibat ucapan dari saudarinya membuatnya seperti hendak menggoyahkan kepercayaandiriannya. Bisa saja kan bukan dia...


Tapi Kevin menggeleng, menepis segala isi pikiran positif dan negatifnya. Dan mulai bertindak untuk menyuarakan isi hatinya, "Kakek, saya berdiri disini dengan segenap hati dan niat baik saya hendak melamar Ayu. Menjadikannya istri serta pendamping hidup."


Yang mau ceritanya lanjut komentar dibawah ya.....

__ADS_1


__ADS_2