
Wajah Kevin berubah cemas saat sorot matanya mengarah pada tangan Ayu yang saling tertaut dan meremas.
Dia tak marah atas tindakan Ayu yang melayangkan tamparan pada pipinya. Dia justru menyalahkan dirinya sendiri yang bersikap tak sabaran.
Pembuktian? Rasanya dia ingin mengumpat atas kejadian tadi. Harusnya dia bisa lebih menahan diri, bersabar sedikit lagi untuk mendengar segala ucapan dari Ayu, kemudian baru bisa memahami, batinnya berseru.
Menghela napas berkali-kali, Kevin berusaha untuk menenangkan diri.
"Bisa kamu jelaskan letak ketidak bahagianmu dimana?" ucap Kevin usai mereka sama-sama terdiam.
Ayu masih menunduk, justru dengan pertanyaan Kevin itulah dia terisak. Menggeleng, perasaannya diselimuti rasa bersalah dengan makin meremas jemarinya Ayu menyalurkan penyesalannya yang telah melayangkan tangannya pada Kevin.
"Bicara lah, biar aku tahu salahku," ujar Kevin lagi. "Tolong Yu, kalau kamu tetap diam seperti ini, bagaimana bisa aku tahu letak salahku!" kata Kevin yang meremas ke dua pundak Ayu, memaksa agar gadis itu segera bersuara.
Dengan napas tersekat Ayu mendongakan kepalanya menatap Kevin. Matanya memerah. Airmata yang belum sempat dihapus olehnya menganak menuruni pipi. "Saya baru tahu alasan Bapak kenapa mau jalan dengan saya. Semua karena obsesi kan? Lalu nanti setelah Bapak puas bermain-main dengan saya—Bapak pasti akan dengan mudah buat mencampakkan saya. Harusnya... Harusnya gak semudah itu saya mau menerima Bapak. Harusnya saya lebih jual mahal. Mengabaikan Bapak meski benar... Meski benar bahwa saya ada rasa sama Bapak, tapi..." Ayu kian tecekat dan terbata saat mengungkapkan perasaannya. Tangannya pun bergerak menghapus airmatanya dengan kasar, yang walau sialnya airmata itu terus saja turun tak mau dicegah.
"Tapi harusnya saya mengabaikannya saja. Karena bila dipikir-pikir berjalan pun hubungan kita akan mustahil. Mustahil untuk bertahan dan mustahil... Mustahil. Dan pada ujungnya saya yang akan tercampakkan!" Ayu justru mengeraskan tangisannya. Kedua tangannya dipergunakan untuk menangkup wajahnya. Menutup wajahnya yang menangis di hadapan Kevin.
__ADS_1
Kevin seperti kehabisan kata. Hatinya mencelus mendengar penuturan Ayu. Menatap kian cemas kondisi Ayu yang sekarang. "Ayu... Tak sedikit pun aku membual. Aku—"
"Kita akhiri saja ya?" ucap Ayu usai menarik tangan dari wajahnya, menatap Kevin berucap dengan nada memohon.
"Kalau aku salah, aku minta maaf," sahut Kevin menatap dalam manik mata Ayu. Meyakinkan gadis itu bahwa dia memang benar bersungguh-sungguh.
Ayu menggeleng. "Awalnya Bapak akan bersikap manis. Tapi Ayu gak yakin Bapak bisa mempertahankannya. Jelas saya gak akan mau bersuka rela menggadaikan hati saya buat Bapak. Lebih baik saya merasakan sakit yang sekarang dari pada nanti saya memergoki Bapak dengan wanita lain di luaran sana. Sudah Pak, saya ingin berhenti," ujar Ayu memutar tubuhnya hendak turun dari dalam mobil Kevin.
Namun Kevin justru menarik lengan Ayu. Menyentaknya kuat, bersamaan dengan suara bentakannya yang begitu keras. "Ayu!"
Jelas hal itu membuat Ayu kaget atas perlakuan Kevin, tapi wajah Kevin yang tadinya marah kini berubah menjadi rasa bersalah. Dia hanya refleks, tak suka dengan sikap Ayu yang selalu kabur sebelum menyelesaikan masalah.
"Tapi ini cuma akan menyiksa diri saya."
"Kamu belum sepenuhnya percaya padaku?"
Ayu mengangguk dengan masih menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Lalu dengan cara apa agar kamu bisa percaya? Aku mencintaimu. Apa itu belum cukup."
"Bapak pasti mengatakan hal itu pada wanita-wanita Bapak di luaran sana?" ujar Ayu mendongak menatap Kevin.
"Aku akan jamin mengatakannya hanya untuk kamu," kata Kevin meyakinkan.
"Saya gak percaya," sahut Ayu cepat.
Kevin mengusap-usap wajahnya. Sudah dia katakan apa yang dia rasakan tapi tak mendapat kepercayaan, itu jelas membuatnya emosi. Dan berulangkali Kevin menahannya agar tak lepas kendali. "Seribu kali, apalagi sekarang aku bilang cinta ke kamu, aku yakin kamu tak akan percaya. Aku melihatmu yang sekarang adalah Ayu. Wanita yang satu tahun yang lalu, yang telah mengacaukan pikiranku. Dengan aktivitas yang kulalui selalu ada kamu. Kamu—Ayu si wanita konyol yang bahkan tak bisa dibandingkan dengan wanita manapun. Lalu, apa salah dengan perasaanku yang cenderung kepadamu. Atau kamu melarang aku untuk mencintaimu dan yang jelas-jelas kamu juga memiliki perasaan sama sepertiku?"
Air mata semakin deras mengalir di pipi Ayu, dadanya kian berdebar tak karuan.
"Kalau kamu tanya apa jaminannya hubungan kita sampai kapan akan bertahan— Ya, kita harus menjalaninya. Tentu aku juga akan berusaha mempertahankannya."
Ayu berusaha kuat menahan isakannya dan berujar lirih, "Sampai kapan?"
"Sampai aku mempersuntingmu. Menjadikanmu istriku, hingga menemani sampai masatuaku. Hanya itu..." ucap Kevin yang menatap lekat Ayu, terdapat kepedihan bercampur harapan dalam sorot matanya.
__ADS_1
Sedangkan Ayu juga membalas tatapan Kevin, berusaha melepas segala ketakutannya dan mencari sisa-sisa kekuatan dari harapan yang dibangun oleh Kevin.
To be Continue