
"Kevin, harusnya kamu pertimbangkan bagaimana memasukkan karyawan yang bekerja di tempatmu. Disesuaikan menurut kemampuan yang dimiliki, pertimbangan juga prestasinya lalu tempatkan pada bagian yang semestinya," ujar Soraya yang tiada henti-hentinya mengomeli saudaranya. Menyayangkan sikap yang menurutnya telah asal dilakukan oleh seorang pemimpin pada salah satu karyawannya.
Kevin menipiskan bibir, dengan arah pandang masih menatap lurus pada jalanan. Beberapa menit yang lalu mereka baru saja pulang dari tempat kos Ayu.
"Aku kecewa padamu Vin," ucap Soraya yang menghela napas lelah setelah mengoceh panjang lebar tapi sikap yang Kevin tunjukkan hanya datar-datar saja.
Sama-sama menatap ke arah depan, Soraya kembali berujar, "Apa yang ada dalam benakmu setelah menyaksikan apa yang tadi kamu lihat?"
Kening Kevin mengernyit, melirik sekilas Soraya dan yang jelas membuat Soraya kesal. Dirinya hendak memukul lengan Kevin sebab sikap yang saudaranya tunjukkan dirasa kian menyebalkan.
"Aku sedang menyetir, belum cukup memukul, mencubit dan menjewer telingaku. Lihat bahkan bekas jeweranmu saja masih terasa panas," ujar Kevin mencekal lengan Soraya lalu menunjukan telinganya yang masih nampak merah.
Soraya berdecak. "Kamu pantas mendapatkannya. Lagi pula apa kamu gak ada rasa simpatik sedikitpun pada Ayu. Kamu lihatkan dengan mata kepalamu sendiri, bagaimana tempatnya tinggal lalu kondisi adiknya. Oh ya dan aku belum menjelaskan akan kedatanganku tadi kesana. Kevin adiknya mengalami —,"
"Salah sasaran kalau kamu menanyakan, apa aku ada rasa kasihan kepadanya. Karena jawabannya tidak," tegas Kevin membuat Soraya menatap geram padanya.
Tepat disaat lampu merah mobil yang mereka kendarai berhenti. "Aku bukan dari instansi pemerintahan yang harus peka terhadap keadaan maupun kondisi rakyatnya —"
"Tapi kamu seorang pemimpin, yang bahkan dari perusahaan besar. Dia karyawanmu. Apa tak sedikitpun hatimu tergugah dengan kondisi yang kamu lihat tadi?"
Kevin menyoroti Soraya, keningnya mengerut dalam sebelum kembali dirinya menginjak gas dan fokus menatap arah jalanan.
__ADS_1
"Maksudku kamu bantu dia, beri Ayu fasilitas seperti karyawan lain. Kan ada tuh karyawan yang diberi tempat tinggal bahkan juga kendaraan selama bekerja dan bisa digunakan untuk anggota keluarga selama karyawan itu masih mengabdi pada perusahaan kita."
"Memang prestasi apa yang dimiliki oleh orang yang kita temui tadi? Semua harus dipertimbangkan sesuai dengan jabatannya di perusahaan. Kalau kita memberi seorang karyawan dengan fasilitas cuma-cuma dan tak seharusnya, lalu bagaimana dengan karyawan lain. Mau perusahaanmu didemo?"
Ucapan Kevin membuat Soraya seketika terdiam. Memang benar apa yang diucapkan Kevin sesuai logika. Sedangkan Soraya memakai perasaannya. Tak tega, rasa itu yang terlintas di benaknya. Dan belum lagi tadi Ayu sempat menjelaskan bahwa terpaksa memasukkan adiknya ke sekolah biasa sebab terkendala masalah biaya. Dia sungguh tahu, memang benar jika sekolah khusus untuk anak penyandang autisme tidak mengunakan biaya yang sedikit.
Soraya menghela, kemudian menoleh dan memanggil Kevin. Berharap usulnya yang satu ini bakal langsung diterima oleh saudaranya tanpa bantahan. "Kevin— Bagaimana kalau kamu mendonasikan sedikit tabungan yang kamu miliki pada mereka," ucap Soraya dengan penuh harapan.
Kevin mengernyit, menarik sudut bibirnya. Kemudian menyahuti ucapan Soraya, "Kenapa tidak kamu saja."
Soraya berdecak. "Kalau saja tabungan yang kumiliki belum aku donasikan untuk pembangunan gedung baru di yayasan panti jompo, aku tak akan perlu meminta padamu," ucap Soraya sinis. "Tapi kalau kamu memang benar gak mau bertindak, tunggu saja besok aku akan datangi kantormu!" tegas Soraya tersenyum puas. Sebab dia berfikir hanya inilah jalan satu-satunya, mencarikan pekerjaan yang layak untuk Ayu.
"Kamu gak mampir?" kata Soraya bersamaan dengan melepas sabuk pengamannya.
"Kapan-kapan saja, aku masih harus kembali ke perusahaan," sahut Kevin menoleh ke arah Soraya.
"Sayang sekali, padahal keponakanmu sering menanyakanmu."
Kevin tersenyum. "Pasti nanti akan kuusahakan untuk mengunjungi Lyra."
"Ok, nanti aku akan tagih janjimu," ucap Soraya yang membuat Kevin terkekeh.
__ADS_1
"Oh ya aku ingin menanyakan sesuatu padamu," ucap Kevin yang membuat Soraya mengurungkan niatnya membuka pintu mobil. Dirinya menoleh menatap Kevin.
"Apa kamu bahagia dengan pernikahanmu?"
Awalnya kening Soraya mengernyit, kemudian dia justru tertawa. "Pertanyaan macam apa itu Kevin? Tentu saja aku bahagia. Sangat bahagia," tegasnya mengeja kalimat.
"Bagaimana suamimu memperlakukanmu?"
Soraya menarik napas kemudian menjawab dengan senyum mengembang di wajahnya. "Dia suami terbaik. Dan kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu? Apa jangan-jangan kamu sudah ingin menikah. Ah... sekarang katakan siapa wanita yang akan kamu nikahi?" justru Soraya kini yang beralih bertanya curiga.
Kevin berdecak. "Sudah kalau begitu turunlah," ucap Kevin yang malah mengibaskan tangannya.
"Kamu mengusirku?"
"Sudah sampai depan rumahmu. Jadi turun!" tegas Kevin.
Soraya mendengus. "Baiklah aku turun. Dan besok aku masih akan membuat perhitungan padamu!" ucap Soraya dengan nada ancaman setelahnya dia keluar dengan bantingan pintu dan hanya ditanggapi Kevin dengan geleng kepala.
To be Continue
Next bakal ada Akram
__ADS_1