
Berjalan tergesa Ayu dan Kevin memasuki gedung Bandara, kerena mereka nyaris berfikir akan ketinggalan jadwal penerbangan. Namun nyatanya pesawat yang akan ditumpangi mengalami delay.
Kelegaan membanjiri hati Ayu. Sempat dirinya tadi berfikir tiketnya hangus tak bisa terpakai. Dengan napas yang masih ngos-ngosan Ayu mendudukan diri di kursi tunggu yang ditunjuk oleh Kevin. Sementara kekasihnya itu hanya berdiri di sampingnya sebab sudah tiada lagi kursi di ruang tunggu yang kosong.
"Hampir saja..." ucap Ayu bersamaan dengan menghela napas panjang.
"Kenapa?" sahut Kevin melirik ke bawah tepat di wajah Ayu yang menampilkan sorot mata memincing membalas lirikannya.
"Masih tanya kenapa," ujar Ayu menggerutu dan mengerutkan bibirnya kesal.
Berdecak, bayangan yang tadi dilakukannya di mobil bersama Kevin terlintas di benaknya. Sungguh gila dan ingin rasanya Ayu merutuki diri karena hampir kebablasan sebab terbuai dengan perlakuan Kevin. Dan segera dengan cepat Ayu menepis bayangan-bayangan mesum itu.
"Ketinggalan pesawat pun aku tak berkeberatan, kita masih bisa sewa jet pribadi tanpa harus bersusah-susah mengantri," ucap Kevin yang makin membuat Ayu menatapnya sebal.
Ayu makin mengeratkan giginya. Gak akan mungkin hal itu terjadi. Tadi saja kekasihnya itu berusul demikian mencegah Ayu yang hendak turun dari mobil karena hasrat yang kian tersulut dari yang awalnya hanya berciuman sampai menjadikan mereka hampir lupa daratan. Tapi berkat sedikit kewarasan yang masih tersisa di pikiran Ayu, dengan tegas dirinya menolak. Menjaga satu-satunya yang berharga dalam dirinya.
__ADS_1
Memang tak dapat dipungkiri status hubungan yang telah diberi lampu hijau dari kedua belah pihak dan sebentar lagi masuk ke jenjang lebih serius terdapat banyak godaan. Termasuk godaan dalam melakukan kontak fisik yang berlebih. Kala hati yang sama-sama saling menggebu, meski hanya berawal dari saling bertatap yang dialami dalam situasi yang hanya saling berdua hingga bisa saja menjadikan putusnya prinsip yang harus mereka pegang, yakni saling menjaga sebelum kata halal tiba. Dan hampir saja mereka tadi hilang kendali.
"Iya saya percaya, uang Bapak banyak!" ucap Ayu mengiyakan saja berusaha pula mengalihkan topik. Dan kini dibalasi Kevin dengan kekehan, juga tangan lelaki itu terulur gemas mengacak puncak kepala Ayu.
"Hentikan, rambut saya jadi berantakan nih!" ujar Ayu menggerutu menepis tangan Kevin yang jahil.
Memasang tampang kesal, Ayu memincingkan matanya menatap Kevin. Menilai lelaki di sampingnya yang dia akui amat mesum. Typikal playboy tapi di saat hubungan yang dilaluinya bersama Kevin dirinya belum mendengar kekasihnya itu dekat dengan wanita manapun. Sungguh Kevin bukan lah tipe dari sosok lelaki idamannya.
Kalau ditanya apa alasan dia bisa jatuh cinta kepada Kevin, Ayu mungkin akan menjawab kalau dirinya mengakui lemah berhadapan dengan lelaki itu. Begitu mudah menangis juga mengadukan apa yang menjadi isian dari dalam hatinya. Dan beruntungnya lagi lelaki di sampingnya itu tak berkeberatan untuk sedikit pun menghadapi tiap keluh kesahnya.
Sebenarnya dalam hati dia merasai rasa bersalah, tak seharusnya dan belum saatnya kejadian beberapa menit lalu terjadi. Dalam hati dia mengutuk diri dan akhirnya Kevin kali ini meluncurkan kata, "Maaf."
Sontak Ayu justru mengerjap dan tak lama mengalihkan tatapannya.
"Hei, aku serius," ujar Kevin dengan nada rendah tapi mampu di dengar oleh Ayu sebab di sekitaran terdapat orang banyak. "Gak seharusnya kan aku begitu," ucap Kevin lagi.
__ADS_1
Tapi dalam wajah yang berpaling dari Kevin, Ayu justru meringis. Dalam hati dia menyuarakan bahwa gak seharusnya masalah yang tadi dibahas disini, karena sebenarnya Ayu pun juga tengah menyalahkan dirinya sendiri.
"Ayu—," saat Kevin hendak berujar, suara pengumuman pemberitahuan bahwa para penumpang sudah bisa memasuki pesawat pun terdengar hingga membuat semua para calon penumpang yang berada di ruang tunggu bersiap bangkit dari duduk untuk mengantri begitu pula dengan Ayu.
Masih dalam kondisi terdiam saat dalam antrian dan ketika Kevin menepuk pundak Ayu dan hendak membuka mulut, Ayu cepat berujar, "Please gak usah bahas disini."
Sontak Kevin yang telah memajukan wajahnya dalam jarak dekat ke arah Ayu menggelengkan kepala dan menunjuk beberapa deretan antrian yang terdapat seseorang yang begitu mereka berdua kenal.
"Pak Akram?" ucap Ayu usai mengerti maksud Kevin dan menoleh tepat di wajah kekasihnya itu. "Bukan kah itu Pak Akram, kenapa dia juga ke Singapura?"
Kevin justru mengangkat kedua bahu dan berujar, "Barangkali menemui kekasihnya."
"Apa?..." sahut Ayu dalam keterkejutan.
To be Continue
__ADS_1