Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 95


__ADS_3

"Bapak!" Ayu mengeram kesal, benci, jengkel kepada Kevin. Matanya mendelik. Jelas tak terima dengan apa yang terjadi, menyentuh wajahnya saja dia merasa jijik.


Dan tak bisa dipungkiri, sejenak wajah Kevin pias merasa bersalah akan tindakannya yang tentu tak dia sengaja.


"Mas! Kesini tolong perbaiki riasannya!" ucap Kevin cepat memerintahkan pada karyawan salon untuk ambil tindakan agar Ayu tak segera menyemburkan amarah padanya.


Dan ketika karyawan salon datang menghampiri tentunya tahu akan situasi yang tengah terjadi di antara mereka berdua. Segera Tamara menarik lengan Ayu, menuntunnya untuk kembali duduk di kursi semula.


Tamara dan salah satu pegawai salon yang lainnya pun kini kembali melakukan tugasnya, tanpa banyak kata sebab paham pelanggannya tengah dalam kondisi marah. Semua terlihat begitu jelas dari wajah Ayu yang menunjukkan raut jengkel. Bibirnya menipis dengan tatapan tajam mengarah pada Kevin dari pantulan cermin di hadapannya.


"Beri dia make-up senatural mungkin. Jangan seperti tadi!" kata Kevin memberi peringatan.


Dua pegawai salon itu pun saling lirik, lalu nyeletuk, "Yang tadi sudah pas Pak."


"Kata siapa? Yang tadi kelihatan menor, makanya saya suruh kalian permak ulang," sahut Kevin lalu mengambil duduk ke tempat semula.


Pegawai salon yang ingin menyahuti Kevin pun urung mengeluarkan suara sebab melihat tangan Ayu yang tengah terkepal. Jadi mereka hanya saling lirik dan segera menyelesaikan tugas.


Tak seperti semula, lima belas menit telah berlalu. Hasil yang nampak dari pantulan cermin membuat Ayu makin bungkam. Sedangkan Kevin menampakkan senyum puas akan hasil kerja kedua pegawai salon itu.


"Ayo, ngapain duduk trus disitu. Kita berangkat," ucap Kevin memberi perintah agar Ayu segera bangkit berdiri.


Dan yang terjadi Ayu memang menuruti Kevin tapi dia beranjak dengan menghentakan kaki dan berjalan lebih mendahului tentu dengan Kevin yang menyusul di belakangnya.


"Udah pasti Cin tu cewek bakal ngambek!"

__ADS_1


"Paling juga habis ini mereka perang," cibir pegawai salon usai Ayu dan Kevin keluar dari tempat mereka.


***


Sepanjang perjalanan menuju tempat Akram, Ayu sama sekali tak mengeluarkan sepatah kata. Dirinya merasai kekecewaan dalam hatinya. Harusnya dia tampil semaksimal mungkin seperti awal saat para pegawai salon mendandaninya, tapi sekarang yang terjadi hanya tampilan yang amat sederhana dan bisa dibilang sangat kacau.


"Udah mau sampai masih saja cemberut?" sindir Kevin tapi Ayu masih tetap tak peduli, arah pandangannya saja masih tetap mengarah ke jendela sisi mobil.


"Tinggal belokan situ, lewatin pos keamanan. Lurus. Sampai."


Sudah tahu! Kata hati Ayu menyahut kesal. Meski pun dari tadi dia diam tapi tetap arah pandangannya mengamati sepanjang jalan yang dilalui.


Menegapkan punggungnya dan menatap lurus ke depan, Ayu berusaha menarik keluarkan napas sebagai upaya untuk menstabilkan rasa emosinya yang tak terkendali. Dalam hati Ayu juga merapalkan doa berusaha membuat hatinya lebih tenang sebab sebentar lagi dia akan bertamu untuk bertemu pertama kali dengan Ibunya Akram.


Ketika mobil telah terparkir di bahu jalan, Ayu mendadak menjadi gugup. Sampai tak sadar Kevin telah memutari mobil dan membantunya membukakan pintu.


Sekali lagi Ayu menarik napasnya dalam kemudian hendak mengambil tasnya tapi dia urungkan dan hanya mengambil ponsel, lalu turun dari mobil mengabaikan tangan Kevin yang terulur entah apa maksudnya.


Sementara yang terjadi dengan Kevin, dirinya merasa begitu terhenyak saat telapak tangannya yang menggantung di udara tak dapat sambutan. Biasanya tak begitu, batin Kevin yang lalu menggerakkan tangannya untuk mengusap tengkuk.


Hari beranjak petang. Di dalam rumah telah ada beberapa orang yang datang, termasuk rekan kerja kantor hotel Wijaya. Mereka yang sebenarnya menyiapkan pesta acara syukuran kecil-kecilan yang diperuntukkan bagi Ibunya Akram.


"Akram belum datang, katanya sebentar lagi. Tadi aku telpon Dinda katanya sudah dalam perjalanan kesini," ujar salah satu teman Kevin, dan Dinda yang dimaksud adalah sekertaris pribadi Akram.


Kevin mengangguk kemudian mempersilahkan Ayu untuk mengambil duduk bergabung dengan tamu lain. Tak berselang lama terdengar suara deru mobil di pekarangan rumah, membuat orang-orang menebak bahwa yang datang adalah Akram.

__ADS_1


Bangkit berdiri seperti yang lain, sambil memegang sebuket bunga sorot mata Ayu tertuju ke arah pintu. Sosok Akram yang tersenyum simpul sambil menggandeng Ibunya kini menjadi fokusnya.


Hatinya seolah mendadak menghangat ketika mengamati betapa cintanya Akram terhadap Ibunya. Dari caranya memperlakukan hingga saat Akram bertutur kata pada Ibunya, memperkenalkan teman-teman yang Ibunya belum mengenal hingga sampai pada giliran Ayu yang kini tengah berhadapan langsung menjabat tangan Ibunya Akram.


"Kamu temannya Akram? Ibu baru pertama lihat kamu Nak."


"Kenalin Tante, dia teman anaknya Tante. Satu tempat kerja dengan Kevin dan Akram," serobot Kevin yang tiba-tiba muncul diantara mereka. "Namanya Ayu," sambung Kevin mulai mengenalkan Ayu.


"Pantas namanya sesuai dengan parasnya yang Ayu," puji Ibunya Akram yang membuat rona di pipi Ayu nampak memerah.


"Cie... dipuji calon mer—," ucapan Kevin seketika membuat Ayu mendadak murka. Ujung sepatu Kevin pun kini menjadi korbannya. Diinjak dengan sengaja oleh Ayu hingga membuat Kevin tak mampu melanjutkan kata dan dibuat meringis kesakitan.


"Kenapa Vin?" tanya Ibunya Akram yang mulai panik melihat wajah Kevin yang tiba-tiba berubah ekspresi.


Saat Kevin melirik pada Ayu sebab sumber masalahnya justru yang didapati olehnya adalah pelototan tajam. Hingga Kevin pun berdalih mencari alasan lain dan memegangi perutnya. "Sudah lapar Tante. Dari siang Kevin belum makan. Sengaja Kevin sempatkan kesini untuk minta jatah makan sama Tante," ucap Kevin meringis disertai dengan senyum jenaka.


Ibunya Akram pun nampak mengulum senyum akan sikap Kevin. Perlahan dia melepas jabatan tangan Ayu dan beralih menepuk lengan Kevin gemas. "Kamu memang gak pernah berubah Vin. Tapi sungguh Tante ingin sekali berterimakasih pada kamu. Semua berkat kamu, Tante bisa melalui cobaan yang Tante dan Akram hadapi dengan mudah—"


Kevin berdecak dan menggeleng. Lalu cepat memotong ucapan Ibunya Akram. "Tante bisa melaluinya karena Kevin percaya Tante adalah orang yang kuat dan memiliki anak sehebat Akram yang juga mau berusaha berjuang buat Tante."


"Tapi tetap Tante harus bersyukur bisa mengenal kamu dan berterimakasih sebab Akram punya teman seperti kamu," ucap Ibunya Akram yang kemudian menarik Kevin untuk dipeluk erat.


Ayu telah memudurkan langkah dan dari tadi memang dirinya menyimak kata-kata itu kini dibuat mengerutkan kening bingung. Sebab dirinya masih mengingat tentang percakapan beberapa hari yang lalu dengan Kevin, bahwa Kevin sendiri yang mengatakan banyak berhutang budi pada Akram, tapi kenapa kini yang didengar justru Ibunya Akram yang mengatakan sebaliknya?


Sedangkan Kevin yang masih memeluk Ibunya Akram kini tengah mengangkat kepala menghadap lurus hingga tanpa sengaja membuat tatapannya dengan Ayu saling bertemu. Dan yang terjadi kini justru Akram yang berdiri tak jauh dari mereka menanggapi Ayu dengan sebuah senyum simpul.

__ADS_1


To be Continue


__ADS_2