Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 79


__ADS_3

Ayu menunggu sedikit gelisah. Sudah hampir setengah jam dia berada di lantai basement tapi orang yang ditunggui tak kunjung muncul.


"Apa Pak Akram lupa?" gumamnya.


Melihat ke arah sekitar malah tatapannya bertemu pada seorang satpam yang tadi sempat menanyainya karena lama dia berdiri di tempat, dan Ayu mengatakan alasan bahwa dirinya sedang menunggu seseorang.


Untuk menghubungi Akram saja tak mungkin sebab nomor milik Akram yang dia simpan sudah tak aktif lagi. Dan kurang beruntung meski telah beberapa kali bertemu dan bekerja di tempat yang sama Ayu belum mengetahui nomor ponsel baru milik Akram.


Ayu mendesah, ingin rasanya dirinya memutar langkah, pulang. Namun ketika niatan itu akan dilaksanakan dan tepat saat dia mengangkat kepala, sosok Akram muncul dari pintu lift yang baru saja terbuka.


Ada kelegaan merasuki hatinya, tubuhnya yang lesu bergerak sigap untuk ditegapkan menyambut Akram yang melangkah lurus menuju ke arahnya.


"Maaf lama menunggu, tadi ada berkas penting yang gak bisa ditunda pengerjaannya," ucap Akram saat sudah berdiri di hadapan Ayu, wajahnya memperlihatkan rasa bersalah karena membuat Ayu lama menunggu.


Ayu menggeleng, tak mempermasalahkan. "Lagian saya baru saja sampai," sahutnya berbohong dan memaklumi bahwa memang Akram orang yang sibuk.


Akram tersenyum lega. "Syukurlah. Kamu sudah makan?" tanyanya sambil berjalan mengajak Ayu ke arah mobilnya.


Bingung Ayu menjawab dan dengan ragu dia berucap, "Sudah."


Akram menoleh sekilas, membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Ayu untuk duduk di kursi samping kemudi.


"Tapi gak keberatan dong, untuk menemani saya makan siang dulu. Perut saya lapar dari pagi belum terisi," ucap Akram menatap Ayu memperlihatkan senyum simpulnya, sambil tangannya bergerak memasang sabuk pengaman.


Ayu mengangguk mengiyakan. Dalam batinnya tentu saja dia merasa tak berkeberatan. Mobil kini berjalan meninggalkan area basement, mulai memasuki jalanan.


Karena menurut Akram, Ayu telah makan jadi untuk makan siangnya kali ini dia tak minta pendapat dari Ayu. Dia memberhentikan mobilnya di salah satu restoran sea food, yang memang sudah menjadi tempat makan favoritnya.


Hidangan yang dipesan Akram telah tersaji di tengah-tengah meja. Aroma makanan yang begitu mengunggah selera nyatanya mengundang produksi air liur dari dalam mulut Ayu. Tak ayal berulang kali dia menelan ludah saking rasanya ingin menelan makanan yang ada di hadapannya. Dan sialnya lagi rasa lapar pada perutnya tak mampu ditahan. Bahkan bunyi perutnya kali ini membuat Akram yang duduk tepat di depannya yang hanya tersekat dengan meja makan seketika menatap ke arahnya. Hingga ketika diperhatikan sedemikian rupa membuat Ayu meringis, menunduk dan menyembunyikan rasa malu.


"Makan lah," perintah Akram seraya tersenyum tak kentara, mengulurkan sendok yang baru saja dipegangnya. Kemudian memanggil pelayan untuk memesan satu porsi makanan baru.


Selama makan berlangsung mereka saling diam. Ayu berusaha menjaga sikap atas kejadian tadi sedangkan Akram memaklumi. Bisa saja Ayu merasa sungkan dan bisa jadi karena hal lain, pikirnya.


Sekarang perjalanan dilanjutkan, lebih dari dua puluh menit mobil berjalan dan terhenti di depan bangunan rumah. Tepatnya di sebuah kompleks yang tak begitu padat penduduk, sebab di sekitaran tak begitu banyak orang atau kendaraan melintas. Dan ketika memasuki kompleks tadi sempat melewati tempat penjagaan satpam.


Turun dari mobil Ayu mengamati tempat sekitaran, sedang Akram telah menuju depan rumah dan merogoh kunci dari dalam saku celananya.


Ayu menatap bingung Akram sebab belum ada penjelasan kenapa dia dibawa ke tempat ini, padahal tadi saat berada di kantor dirinya ditawari pekerjaan. Sedangkan pekerjaan apa yang dilakukan di tempat seperti ini, lagi pula hanya ada mereka berdua. Wajah Ayu seketika menunjukkan respon takut.


Akram yang memahami hal itupun menahan senyum. "Masuklah akan aku jelaskan nanti tentang tujuan kita kemari," ucapnya yang lebih dulu memasuki rumah.


"Bagaimana menurutmu tempat ini?" kata Akram setelah dirinya membuka tirai jendela pada ruang tamu, dia tahu Ayu mengikutinya dan sekarang gadis itu tengah melihat-lihat keadaan sekitar. Bangunan baru yang masih tampak kotor dengan beberapa perabot yang belum tertata dengan sempurna.


"Ini rumah Bapak?" tebak Ayu yang mengalihkan tatapannya menatap Akram.


Akram seperti tampak berfikir sebelum menjawab. "Sebenarnya ini hadiah. Hadiah untuk seseorang yang sangat berarti dalam hidup saya," ucapnya tersenyum sangat nampak binar di matanya.

__ADS_1


Namun yang entah mengapa ucapan Akram tadi mengalirkan satu perasaan getir merambati pada hati milik Ayu. Dia ingin sekali tahu siapa sosok seseorang yang berarti dalam hidup lelaki yang sekarang berdiri di hadapannya.


"Siapa?" Ucapan yang amat sulit keluar dari mulut Ayu. Harusnya dia bersikap biasa saja, memangnya dia siapa? Tapi kembali lagi, perasaannya akan merasa tak tenang bila dia tak mengetahui sosok itu.


Akram mengulum senyum. "Nanti akan aku perkenalkan padamu," sahutnya kemudian berbalik membuka gorden lainnya, mengijinkan cahaya dari luar masuk menyinari sisi-sisi ruangan.


Ayu masih memperhatikan sosok Akram, dari balik punggung lelaki itu Ayu seolah menertawakan dirinya sendiri. Perasaan macam apa ini? Sungguh aku tak tahu diri bila masih saja mengharapkannya, seru batinnya.


Ayu menghela napasnya, kemudian beranjak dari tempatnya berdiri untuk menghampiri Akram ketika lelaki itu memanggilnya.


"Sebenarnya saya mengajakmu kemari bukan meminta pendapat tempat ini seperti apa, tapi lebih pada meminta bantuanmu untuk mendekorasi rumah ini. Mengatur tata letak barang-barang, menyesuaikan pada tempatnya biar enak dilihat juga disesuaikan menurut fungsinya. Karena kamu wanita jadi kupikir akan sepemikiran dengan selera seseorang yang kuhadiahkan tempat ini nanti untuknya."


Ayu mengangguk, ucapan Akram semakin memperjelas jika seseorang yang berarti baginya adalah seorang wanita. Dari pemikiran Ayu, dia menggambarkan wanita itu pasti amatlah spesial dan tentu...


"Pasti wanita yang Bapak sebutkan tadi sangat lah beruntung." Ayu pun kembali menyuarakan isi hatinya.


Akram mengangguk. "Bukan, melainkan aku yang beruntung mengenalnya juga memilikinya."


Lagi-lagi Ayu harus memupus segenap rasa pada lelaki di hadapannya, meyakinkan dalam hati bahwa pada dasarnya memang dia tak berhak memiliki perasaan yang telah lama dia simpan. Dan ketika Akram menyerahkan tugas kepercayaan atas rumah ini beserta kuncinya, Ayu tak mampu berkata apa-apa lagi selain mengganggukkan kepala.


To Be Continue


Siapaaaakah wanita yang Akram maksud?


Ayu menunggu sedikit gelisah. Sudah hampir setengah jam dia berada di lantai basement tapi orang yang ditunggui tak kunjung muncul.


"Apa Pak Akram lupa?" gumamnya.


Melihat ke arah sekitar malah tatapannya bertemu pada seorang satpam yang tadi sempat menanyainya karena lama dia berdiri di tempat, dan Ayu mengatakan alasan bahwa dirinya sedang menunggu seseorang.


Untuk menghubungi Akram saja tak mungkin sebab nomor milik Akram yang dia simpan sudah tak aktif lagi. Dan kurang beruntung meski telah beberapa kali bertemu dan bekerja di tempat yang sama Ayu belum mengetahui nomor ponsel baru milik Akram.


Ayu mendesah, ingin rasanya dirinya memutar langkah, pulang. Namun ketika niatan itu akan dilaksanakan dan tepat saat dia mengangkat kepala, sosok Akram muncul dari pintu lift yang baru saja terbuka.


Ada kelegaan merasuki hatinya, tubuhnya yang lesu bergerak sigap untuk ditegapkan menyambut Akram yang melangkah lurus menuju ke arahnya.


"Maaf lama menunggu, tadi ada berkas penting yang gak bisa ditunda pengerjaannya," ucap Akram saat sudah berdiri di hadapan Ayu, wajahnya memperlihatkan rasa bersalah karena membuat Ayu lama menunggu.


Ayu menggeleng, tak mempermasalahkan. "Lagian saya baru saja sampai," sahutnya berbohong dan memaklumi bahwa memang Akram orang yang sibuk.


Akram tersenyum lega. "Syukurlah. Kamu sudah makan?" tanyanya sambil berjalan mengajak Ayu ke arah mobilnya.


Bingung Ayu menjawab dan dengan ragu dia berucap, "Sudah."


Akram menoleh sekilas, membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Ayu untuk duduk di kursi samping kemudi.


"Tapi gak keberatan dong, untuk menemani saya makan siang dulu. Perut saya lapar dari pagi belum terisi," ucap Akram menatap Ayu memperlihatkan senyum simpulnya, sambil tangannya bergerak memasang sabuk pengaman.

__ADS_1


Ayu mengangguk mengiyakan. Dalam batinnya tentu saja dia merasa tak berkeberatan. Mobil kini berjalan meninggalkan area basement, mulai memasuki jalanan.


Karena menurut Akram, Ayu telah makan jadi untuk makan siangnya kali ini dia tak minta pendapat dari Ayu. Dia memberhentikan mobilnya di salah satu restoran sea food, yang memang sudah menjadi tempat makan favoritnya.


Hidangan yang dipesan Akram telah tersaji di tengah-tengah meja. Aroma makanan yang begitu mengunggah selera nyatanya mengundang produksi air liur dari dalam mulut Ayu. Tak ayal berulang kali dia menelan ludah saking rasanya ingin menelan makanan yang ada di hadapannya. Dan sialnya lagi rasa lapar pada perutnya tak mampu ditahan. Bahkan bunyi perutnya kali ini membuat Akram yang duduk tepat di depannya yang hanya tersekat dengan meja makan seketika menatap ke arahnya. Hingga ketika diperhatikan sedemikian rupa membuat Ayu meringis, menunduk dan menyembunyikan rasa malu.


"Makan lah," perintah Akram seraya tersenyum tak kentara, mengulurkan sendok yang baru saja dipegangnya. Kemudian memanggil pelayan untuk memesan satu porsi makanan baru.


Selama makan berlangsung mereka saling diam. Ayu berusaha menjaga sikap atas kejadian tadi sedangkan Akram memaklumi. Bisa saja Ayu merasa sungkan dan bisa jadi karena hal lain, pikirnya.


Sekarang perjalanan dilanjutkan, lebih dari dua puluh menit mobil berjalan dan terhenti di depan bangunan rumah. Tepatnya di sebuah kompleks yang tak begitu padat penduduk, sebab di sekitaran tak begitu banyak orang atau kendaraan melintas. Dan ketika memasuki kompleks tadi sempat melewati tempat penjagaan satpam.


Turun dari mobil Ayu mengamati tempat sekitaran, sedang Akram telah menuju depan rumah dan merogoh kunci dari dalam saku celananya.


Ayu menatap bingung Akram sebab belum ada penjelasan kenapa dia dibawa ke tempat ini, padahal tadi saat berada di kantor dirinya ditawari pekerjaan. Sedangkan pekerjaan apa yang dilakukan di tempat seperti ini, lagi pula hanya ada mereka berdua. Wajah Ayu seketika menunjukkan respon takut.


Akram yang memahami hal itupun menahan senyum. "Masuklah akan aku jelaskan nanti tentang tujuan kita kemari," ucapnya yang lebih dulu memasuki rumah.


"Bagaimana menurutmu tempat ini?" kata Akram setelah dirinya membuka tirai jendela pada ruang tamu, dia tahu Ayu mengikutinya dan sekarang gadis itu tengah melihat-lihat keadaan sekitar. Bangunan baru yang masih tampak kotor dengan beberapa perabot yang belum tertata dengan sempurna.


"Ini rumah Bapak?" tebak Ayu yang mengalihkan tatapannya menatap Akram.


Akram seperti tampak berfikir sebelum menjawab. "Sebenarnya ini hadiah. Hadiah untuk seseorang yang sangat berarti dalam hidup saya," ucapnya tersenyum sangat nampak binar di matanya.


Namun yang entah mengapa ucapan Akram tadi mengalirkan satu perasaan getir merambati pada hati milik Ayu. Dia ingin sekali tahu siapa sosok seseorang yang berarti dalam hidup lelaki yang sekarang berdiri di hadapannya.


"Siapa?" Ucapan yang amat sulit keluar dari mulut Ayu. Harusnya dia bersikap biasa saja, memangnya dia siapa? Tapi kembali lagi, perasaannya akan merasa tak tenang bila dia tak mengetahui sosok itu.


Akram mengulum senyum. "Nanti akan aku perkenalkan padamu," sahutnya kemudian berbalik membuka gorden lainnya, mengijinkan cahaya dari luar masuk menyinari sisi-sisi ruangan.


Ayu masih memperhatikan sosok Akram, dari balik punggung lelaki itu Ayu seolah menertawakan dirinya sendiri. Perasaan macam apa ini? Sungguh aku tak tahu diri bila masih saja mengharapkannya, seru batinnya.


Ayu menghela napasnya, kemudian beranjak dari tempatnya berdiri untuk menghampiri Akram ketika lelaki itu memanggilnya.


"Sebenarnya saya mengajakmu kemari bukan meminta pendapat tempat ini seperti apa, tapi lebih pada meminta bantuanmu untuk mendekorasi rumah ini. Mengatur tata letak barang-barang, menyesuaikan pada tempatnya biar enak dilihat juga disesuaikan menurut fungsinya. Karena kamu wanita jadi kupikir akan sepemikiran dengan selera seseorang yang kuhadiahkan tempat ini nanti untuknya."


Ayu mengangguk, ucapan Akram semakin memperjelas jika seseorang yang berarti baginya adalah seorang wanita. Dari pemikiran Ayu, dia menggambarkan wanita itu pasti amatlah spesial dan tentu...


"Pasti wanita yang Bapak sebutkan tadi sangat lah beruntung." Ayu pun kembali menyuarakan isi hatinya.


Akram mengangguk. "Bukan, melainkan aku yang beruntung mengenalnya juga memilikinya."


Lagi-lagi Ayu harus memupus segenap rasa pada lelaki di hadapannya, meyakinkan dalam hati bahwa pada dasarnya memang dia tak berhak memiliki perasaan yang telah lama dia simpan. Dan ketika Akram menyerahkan tugas kepercayaan atas rumah ini beserta kuncinya, Ayu tak mampu berkata apa-apa lagi selain mengganggukkan kepala.


To Be Continue


Siapaaaakah wanita yang Akram maksud?

__ADS_1


__ADS_2