
"Mama gak yakin Kevin bisa bahagia Pa."
Kevin menahan pintu yang hendak dibukanya, memasang telinga dan mendengar dengan seksama pembicaraan yang menyebutkan nama dirinya.
Baru saja Kevin pulang dari kantor, lembur guna menyelesaikan pekerjaan untuk dua hari ke depan. Sebab lusa adalah hari kelulusan Ayu, dia telah mempersiapkan diri dan juga kejutan kecil untuk kekasihnya. Sedangkan tujuannya kali ini yang hendak menemui orangtuanya adalah untuk berpamitan bahwa esok dia akan berangkat ke Singapura.
Namun kala tangannya terangkat hendak mengetuk pintu, dari celah pintu yang sedikit terbuka membuatnya mendengar namanya tengah disebutkan. Semakin dirinya menajamkan pendengaran, dia makin penasaran dengan apa yang tengah diperbincangkan orangtuanya di dalam ruang kerja milik Papanya.
"Mama masih merasa berat menerima Ayu untuk jadi menantu Mama," ucap Cindy menambahi.
"Anak kita sudah menjatuhkan pilihannya. Mama dengar sendiri kan satu bulan yang lalu, menyaksikan sendiri keseriusan Kevin ketika melamar Ayu," sahut Bramantyo menoleh menatap istrinya yang tengah bersidekap dada.
"Tapi Mama tetap saja gak ikhlas," Cindy menggerutu dibarengi dengan raut wajah penuh kekecewaan. "Harusnya anak-anak kita memiliki pemikiran dan pilihan seperti Soraya. Memilih pendamping hidup yang jelas asal usulnya. Bebet bobotnya, keturunan terpandang dan punya profesi yang bisa dibanggakan, setidaknya setara dengan Kevin, Pa. Biar gak ada kasak kusuk, yang jelas jangan sampai ada orang yang membicarakan kejelekan anak kita di belakang nanti," jelasnya.
Bramantyo menghela pendek napasnya kemudian melepas kaca mata yang dia kenakan. Memijat pangkal hidungnya sejenak, tidak hanya sekali dirinya dihadapkan pada permasalahan ini, yang dia perlukan kali ini adalah pikiran jernih untuk menghadapi sikap istrinya.
__ADS_1
Namun belum sempat Bramantyo berujar, pintu di ruang kerjanya terkuak. Ada Kevin yang tengah berdiri di tengah-tengah pintu menampilkan wajah datar.
"Apakah sebuah kurangan merupakan sebuah kecacatan bagi Mama?" ucap Kevin bersamaan masuk ke dalam ruang kerja Papanya. Matanya menatap lurus ke arah Mamanya.
Napas Cindy terhela berat, kemudian dia mengangguk. "Mama hanya ingin kamu gak salah langkah."
"Bukankah Mama yang bilang sendiri kalau Kevin boleh mencari pasangan yang sesuai dengan pilihan Kevin. Kevin telah menjatuhkan pilihan kepada Ayu, jadi Kevin mohon hargai keputusan Kevin—Ma," tegas Kevin tetap berusaha tenang menyampaikan kata hatinya.
"Mama kira dulu pilihan kamu lebih berkelas Nak, makanya Mama mempercayakan semuanya ke kamu. Tapi setelah kamu mengatakan pilihanmu adalah Ayu, Mama kecewa," ucap Cindy mengakui.
"Apa hanya Mama saja disini yang menolak Ayu?" tanya Kevin mengarahkan sorot matanya ke pada kedua orangtuanya secara bergantian.
"Papa setuju dengan keputusanmu," tegas Bramantyo.
"Berarti hanya Mama saja yang memberi penolakan. Baiklah. Jadi seperti apa Mama melihat diri Kevin?" ucap Kevin melangkah mendekat ke arah Mamanya.
__ADS_1
"Apa di mata Mama Kevin sudah sempurna? Mampu berdiri dengan nama besar keluarga Wijaya? Bramantyo Wijaya nama itu yang sampai saat ini Kevin sandang, tapi apa Mama ingat Harry Wijaya juga turut andil hingga Kevin terlahir ke dunia. Jika satu kekurangan merupakan suatu kecacatan? Bagaimana dengan putramu ini, Kevin Putra Bramantyo Wijaya tapi yang sebenarnya Kevin merupakan anak kandung dari Harry Wijaya. Apa Mama gak memikirkan bagaimana bila orang-orang di luar sana tahu dengan kenyataan ini?" ucap Kevin menekan kata-katanya.
Wajah Cindy seketika pasi. Memundurkan langkah dia seakan kehilangan keseimbangan, jika saja suaminya tak bergerak cepat untuk menopang tubuhnya, mungkin tubuhnya sudah ambruk sekarang. Kini dadanya serasa dilanda sesak luar biasa, bak dihujam belati tak kasat mata yang menembus sampai ke dadanya.
"Dari mana kamu—" Cindy sulit melanjutkan ucapannya. Rahasia, aib, kejadian buruk yang tak mau dia ingat kembali justru kembali diungkit oleh putranya sendiri. Orang yang harusnya tak tahu, orang yang harusnya tak perlu mengatakan itu.
"Gak itu gak benar, kamu anaknya Papa—kamu," ujar Cindy berusaha memberi penjelasan, menampik ucapan Kevin dan mencengkeram erat lengan suaminya. Berharap agar suaminya mau membantunya memberi alasan-alasan lain.
Kevin tersenyum miris, kepedihan nampak jelas di matanya.
"Kevin bukan anak kecil lagi Ma," tegasnya dengan datar, kemudian dia menunduk sesaat. Menghela napas mengeluarkan rasa yang kian menyesak di dadanya.
Hingga akhirnya Kevin mengangkat wajahnya, menatap untuk tersenyum kepada Cindy, lalu ditariknya sebelah tangan Cindy dan mengelus punggung tangan Mamanya itu lembut seraya berucap kata, "Apa yang sebenarnya Mama takutkan? Kevin kekurangan harta? Jika iya jawabannya, Kevin masih mampu bekerja. Dan jika Mama menanyakan apa yang Kevin rasakan sekarang, setelah tahu apa yang sebenarnya Mama tutupi selama ini dari Kevin? Maka jawabannya Kevin tak apa-apa. Karena asal Mama tahu, wanita yang Kevin pilih tak pernah mempermasalahkan satu kesalahan hadirnya Kevin di masa lalu. Ayu sudah tahu, jadi Mama gak perlu khawatir."
Tanpa menunggu jawaban dari Mamanya, Kevin pun menarik lepas tangannya dari tangan Mamanya yang tadinya dia genggam, untuk perlahan memutar tubuhnya kemudian memilih untuk beranjak pergi dari hadapan kedua orangtuanya.
__ADS_1
To be Continue