Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 130


__ADS_3

Suara bel dari arah pintu luar membuat Ayu menghentikan sejenak aktivitasnya. Keningnya mengernyit, baru setengah jam yang lalu Kevin berpamit pulang dan sekarang...


Bergegas Ayu bangkit dari kursi makan lalu mengecek tamu yang datang. Saat pintu di hadapannya telah terkuak Ayu begitu terkejut. Di depannya telah berdiri sosok Akram yang tidak hanya sendiri, ada bocah kecil berada dalam gendongannya.


"Bapak ke—" Ucapan Ayu seketika terhenti saat Akram tersenyum simpul lalu menatap wajah bocah kecil dalam gendongannya.


"Beri salam dulu sama Tante Ayu," ujarnya memberi perintah dengan mengarahkan lengan bocah kecil itu untuk disodorkan kepada Ayu.


Dengan gerak ragu Ayu menerima uluran tangan itu lantas menampilkan senyum kaku.


"Boleh kami masuk?" ujar Akram ketika terdiam cukup lama usai menyalami Nagita.


"Ten—tentu Pak. Silahkan masuk," ujar Ayu bergeser memberi akses jalan kepada Akram.


Usai sama-sama duduk di kursi ruang tamu, barulah Ayu bersuara. Tapi sebenarnya bingung dengan apa yang hendak dia katakan dan baru teringat bahwa dirinya belum menyediakan minum untuk tamunya. Untuk itu Ayu hendak bangkit dari berdirinya dan berujar, "Saya bikinkan minum dulu."


"Tidak perlu, jangan repot-repot karena disini kami hanya sebentar," ujar Akram yang mau tak mau membuat Ayu kembali mendaratkan diri di kursi sofa.


"Perkenalkan juga, ini putriku. Namanya Nagita," ucap Akram menjawab rasa penasaran Ayu. Ada kejut yang nampak dari matanya, tapi Akram belumlah selesai bicara. "Dan kesini sebenarnya aku ada maksud lain. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu," sambungnya.


"Siapa?" sahut Ayu yang meski tak mengeluarkan suara, bibirnya bergerak menyebutkan kata itu.


"Nanti kamu akan tahu."


***

__ADS_1


Setengah jam perjalanan yang dilewati dari apartemennya menuju tempat yang didatanginya sekarang pikiran Ayu tak terfokus.


Akram tak merahasiakan siapa yang hendak dia temui, bahkan Akram menceritakan kejadian yang sebenarnya yang semakin membuat rasa bersalah bergelung dalam dirinya.


Ucapan Vina yang menyatakan bahwa dia dalam kondisi baik-baik saja adalah hanya untuk menenangkan hatinya. Karena disebalik itu justru yang dialami Vina lebih buruk. Karena usai dirinya keluar dari club sebelum masa kontrak habis, Vina lah yang berperan sebagai jaminan.


Ayu sudah tak bisa membayangkan kejadian buruk apa saja yang dialami oleh Vina, dan melirik ke arah jok depan samping Akram, yakni Nagita— tangis Ayu sudah tak bisa dibendung lagi. Dengan dua telapak tangannya kini telah dia pergunakan untuk menutupi sebagian wajahnya dengan tubuh yang bergetar hebat meredam jerit tangisnya.


"Semua sudah terlewati, tinggal menjalani saja apa yang terjadi," ucap Akram begitu mobil terparkir di lantai basement.


Ayu sudah bisa sedikit menguasai dirinya, kemudian menyahuti ucapan Akram. "Jika saja saya gak keluar dari club secara mendadak mungkin nasib Mbak Vina akan jauh lebih baik."


"Dan tentu aku tak akan pernah bertemu Vina jika kamu tidak berada disana. Sudah lah, semua sudah digariskan. Begitu juga hadirnya Nagita," ucap Akram menoleh ke arah putrinya yang telah tertidur pulas beberapa menit lalu.


Mereka sama-sama masih terdiam di dalam mobil dengan pikirannya masing-masing.


Memutari sisi mobil, Akram kemudian membuka pintu mobil di sebelah tepat tempat Nagita tertidur. Dan mulai perlahan mengangkat dan menggendong bocah kecil itu, mengulaikan kepala Nagita pada bahunya.


Memasuki lift Akram berdehem sesaat dan mulai menyuarakan maksud dan tujuannya membawa Ayu kemari. Karena bukan serta merta mempertemukan mereka tapi juga sebenarnya Akram menginginkan sesuatu dari Ayu.


"Aku punya permintaan padamu," ujar Akram menoleh kepada Ayu.


Sontak Aku membalas tatapan Akram. "Apa itu?" sahut Ayu dengan hati was-was.


"Selama aku tidak berada di Singapura, bila ada waktu senggang, tolong jaga Vina," ucap Akram dengan wajah serius penuh permohonan.

__ADS_1


Sontak Ayu langsung mengangguk mengiyakan. "Tentu Pak dengan senang hati saya akan jaga Mbak Vina. Atau bila perlu saya tinggal disini."


Akram menggeleng. "Vina tak suka diawasi secara berlebih. Tapi aku hanya mengkhawatirkannya saat tak menyandingnya. Begitu sulit membujuknya untuk pulang."


Mengamati Akram yang tengah menundukkan kepalanya, sangat nampak raut keputus asaannya. Ayu mulai mengerti dengan apa yang dilihat di depan matanya. Tanpa mengatakan apapun Akram begitu peduli dan ingin menjaga Vina. Dan disinilah dia baru mendapat jawaban sosok yang dicintai oleh Akram, Mbak Vina.


Lift yang mereka pakai kini telah sampai di lantai apartemen milik Akram. Berada pada deretan ujung dan tepat di depan pintu lift, Akram langsung menekan passkode.


Telah ada Santi yang menyapa ramah saat Ayu memasuki ruangan apartemen, sambil menunggu Akram yang tadi berpamit sebentar untuk merebahkan Nagita, pandangan Ayu mengedar ke seluruh ruangan. Dalam hatinya merasa sudah tak sabar untuk bertemu dengan Vina, dan dirinya juga membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tentu hati Ayu merasai rindu, karena tetap seberapa kelam hidup Vina— tetap Vina adalah orang baik di matanya. Orang yang berjasa dalam hidupnya.


"Sudah, Ayo," ucap Akram usai menutup pintu kamar yang beberapa menit lalu dia masuki, dan kini dirinya berjalan menuju kamar yang terletak di ujung dan tentu diikuti oleh Ayu.


Akram mengetuk pintu dua kali, lirih dari dalam terdengar ucapan menyahuti dan segera mereka berdua masuk.


Terkejut bukan hanya dialami Vina yang telah menyandarkan setengah badannya pada papan ranjang, tapi begitu pula dengan Ayu.


Tubuh Ayu seketika memaku. Dimana badan sintal yang dulu pernah dia lihat, lalu kulit mulus tanpa cacat ditambah dengan wajah cantik yang dimiliki Vina yang pernah Ayu irikan.


Ayu menatap tak percaya sosok Vina di depan matanya, dan dengan menyeret langkah kaki yang serasa sulit untuk digerakkan akibat terlalu syok akan keadaan seseorang yang dilihatnya— akhirnya Ayu menangis memaksakan langkah dan langsung menghambur memeluk tubuh Vina yang hanya berbalut kulit.


"Mbak—," Ayu tak kuat untuk meneruskan ucapnya. Menangis dan mendekap Vina erat. "Kenapa jadi begini? Mbak kenapa? Mbak bilang baik-baik aja. Tapi—" Ayu mengendurkan pelukannya dan sedikit menarik diri menatap Vina yang menatapnya dengan tatapan yang amat sangat dia kenali. Datar dan sinis. Tapi tidak begitu bagi Ayu.


"Kamu malah makin cantik," ucap Vina bukan terdengar memuji melainkan terdengar sinis, tapi dibarengi dengan sudut bibir yang tertarik ke atas. Dia bahagia, iya Vina bahagia melihat Ayu yang nampak telah berbeda. Dari si bebek buruk rupa menjadi seekor angsa yang kini telah tampil cantik dan mempesona.


To be Continue

__ADS_1


Part ini masih berlanjut...


__ADS_2