
Nak? Apa Bapak paruh baya ini Ayahnya ibuku? batin Ayu berseru menatap lekat orang yang berdiri di hadapannya.
Hingga wanita paruh baya yang mengamati sikap Ayu menyenggol lengan suaminya. Dia pun berbisik, "Memang Bapak kenal orang ini?"
"Hust... Dia Nak Intan putrinya Bapak Pras," sahut Bapak paruh baya itu lirih. Walau begitu Ayu masih mendengarnya. "Ayo Nak masuk ke dalam," sambungnya tapi ditepis oleh istrinya.
"Gak mungkin anaknya Bapak Prasetyo masih muda begini," ucap wanita paruh baya yang membantah ucapan suaminya.
Perdebatan antara suami istri pun tengah disaksikan oleh Ayu. Bahkan kisah-kisah masa lalu dari Ibunya pun disebut oleh mereka. Ayu yang merasa menjadi pemicu pun mencoba untuk angkat suara. "Saya putrinya Ibu Intan."
Pasangan paruh baya itu pun sontak menoleh dan menatap Ayu. Mengamati wajah Ayu. Hingga Bapak paruh baya itu pun berujar, "Pantas, Nak Intan sama Neng memang mirip."
Ayu pun tersenyum tipis dan mengangguk samar.
"Ya sudah kalau gitu masuk saja. Bapak ada di dalam. Pasti akan senang Neng kesini datang berkunjung. Ngomong-ngomong nama Neng siapa? Oh ya perkenalkan saya Mang Yayat supir pribadi di tempat ini, khusus nganter Bapak. Kalau ini istri saya, panggil aja Mbok Sumiyati," Jelas Mang Yayat pada Ayu memperkenalkan dirinya.
"Maklum tadi istri saya gak tahu, soalnya—" Mang Yayat nampak bingung menjelaskan, dia sulit berucap bahwa kepergian Ibunya Ayu telah lama. Hampir dua puluh dua tahun, itu pun saat dirinya masih berstatus lajang.
"Iya Mang, Ayu memaklumi," sahut Ayu tersenyum.
"Ya udah Neng Ayu kalau begitu segera masuk," perintah Bik Sum mempersilahkan dan memberi akses jalan agar Ayu memasuki rumah kediaman milik Prasetyo Nugroho.
Sepanjang Ayu berjalan dengan diantar Bik Sum dan Mang Yayat, matanya tak bisa fokus menatap depan. Bola matanya berkeliaran menatap sekitar. Kediaman kakeknya Bak hotel bintang lima, sebelas dua belas dengan hotel Wijaya. Rumah didominasi dengan warna putih dan coklat. Lantai marmer yang begitu mengkilap ditambah dengan pilar-pilar penyangga rumah yang berukuran besar.
"Neng Masuk," ucap Bik Sum sebab Ayu menghentikan langkahnya saat berada di depan pintu masuk. "Biar Mang Yayat panggilin Bapak," sambung Bik Sum menarik lengan Ayu pelan. Menggandengnya untuk masuk ke dalam.
__ADS_1
Usai Ayu mendudukan diri di salah satu kursi sofa Bik Sum berucap, "Bibik buatin minum dulu ya."
Ayu pun mengangguk, yang kemudian Bik Sum beranjak berlanjut menuju ke arah dapur.
Segenap kegugupan jelas dilanda oleh Ayu. Tangannya mulai berkeringat dingin, duduknya gelisah. Perasaan tak karuan dengan hati berdebar menanti apa yang akan terjadi beberapa menit kemudian setelah dirinya bertemu dengan kakeknya.
Sudah beberapa kali telapak tangannya yang berkeringat dia usap pada kain celana yang menutup pahanya. Bahkan air es pada gelas di hadapannya telah mengembun, tandanya— Ayu telah lama menunggu.
Apa kakeknya menolak keberadaannya? Kalimat itu yang kali ini bercokol dalam benaknya. Ayu pun menarik napasnya berat.
Kenapa tak terfikirkan atas kesalahan ibunya, dan buru-buru datang kemari? Bukankah sudah pasti kehadirannya kemari tak diharapkan? Ayu menghela, membuang napas keputusasaannya. Berusaha optimis seperti saat sebelum dia sampai disini.
Kepalanya yang tertunduk ke bawah perlahan terangkat seiring dengan suara tapak langkah kaki yang mulai mendekat. Tubuh Ayu langsung berdiri tegap menyaksikan langkah kaki dengan postur tegap dan nampak masih berwibawa di usia senja. Kulit berkeriput dengan rambut memutih penuh di kepala. Wajahnya menampakkan raut serius kala kedua mata itu saling bersitatap.
Erat, tangan Ayu mencengkeram tali tasnya. Semburat senyum dia layangkan pada lelaki paruh baya yang berdiri tak jauh darinya. Tapi tak ada sambutan baik dari lelaki paruh baya yang jelas adalah kakeknya sebab saat ini suara datar bernada tegas bergema di telinga Ayu.
Serta merta senyum di bibir Ayu perlahan surut. Bibirnya terkatup, bola matanya bergerak tak tenang dengan posisinya berdiri saat ini rasanya dirinya tegang. Tujuannya kemari sudah tentu adalah menumpang dan ikut tinggal.
Namun— Apa kedatangannya akan diterima? Kesalahan Ibunya, lalu sudah pasti kakeknya tak mengetahui keberadaannya di dunia. Lalu tiba-tiba dirinya datang dan meminta tempat tinggal? Bukankah itu tak tahu malu? Nyali Ayu seketika ciut.
Tapi lagi-lagi terlintas di benak Ayu. Ada Zahra, anak itu butuh perlindungan lebih. Bukan hanya tempat tinggal tapi juga butuh support dalam mengatasi keterbatasannya.
Kuat, Ayu menelan paksa saliva yang menyangkut di tenggorokannya. Mau tak mau memang Ayu harus menyampaikan tujuannya, bila benar-benar kedatangannya ditolak mungkin jalan satu-satunya adalah mengiba.
Berat, Ayu mengakui berjuang dalam membesarkan Zahra. Beberapa kali dirinya ingin menyerah tapi hatinya bersikeras untuk tetap bertahan dan berjuang dengan segala usahanya, meski pada kenyataan yang di hadapi dirinya justru terlunta.
__ADS_1
"Ibu—beberapa bulan yang lalu meninggal," Ayu berucap dengan kata yang terdengar terbata. "Ayu datang kemari ingin menyampaikan itu pada Ka—kek."
"Hanya itu," sahut Kakeknya masih terdengar datar.
Ayu memberanikan diri untuk menatap lurus pada Kakeknya. Tapi ekspresinya masih saja datar tak ada perubahan ataupun sedikit rasa kehilangan. Bukankah Intan adalah anaknya? Ayu seakan tak percaya dan berasumsi mungkin saja kesalahan yang dilakukan Ibunya dulu amat fatal.
Ayu pun mengangguk. Tapi yang terjadi justru Kakeknya memutar langkah hendak pergi berlalu.
Ayu seakan tak percaya, Kakeknya jelas tak peduli dengan kabar yang baru saja dia sampaikan. Apalagi hadirnya?
"Kakek! Apa Kakek tak menganggap kehadiranku disini ada. Aku anak dari putrimu. Putri kandungmu!" ucap Ayu meninggikan suara. Dia menangis dan menggigit bibir bawahnya kuat berusaha menahan suara tangisnya.
"Jika memang kesalahan yang Ibu lakukan dulu teramat fatal, Ayu mohon— Ayu mohon... Atas dasar nama Ibu—Ayu minta maaf," kata Ayu yang tak lagi bisa menahan tangisnya.
Rasa sakit dan sesak dari dalam dadanya membuat menangis tersedu. Berulang kali Ayu mengusap matanya yang mengabur akibat genangan airmata demi hanya untuk menatap sosok Kakeknya yang tak kunjung memutar langkah untuk sekedar membalas tatapannya.
Bahkan kali ini Ayu makin mengencangkan tangisnya saat Kakeknya benar-benar pergi melanjutkan langkah, meninggalkannya. Tubuh Ayu pun beringsut di ruangan megah milik kediaman Prasetyo Nugroho.
Tangis yang tak terkendali tentu disaksikan oleh orang-orang yang berada di sekitar. Memancing penghuni lain yang tinggal di tempat itu untuk keluar. Hingga tepukan pada pundak Ayu dilayangkan.
"Kenapa apa yang terjadi?"
Suara panik dari seorang wanita yang pernah Ayu dengar, terdengar di telinganya. Memaksanya untuk mengangkat kepala. Ayu tercenung sesaat, tercekat dia berucap, "Bu Soraya?"
"Ayu, kamu kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis seperti ini?"
__ADS_1
Pertanyaan bingung dari Soraya tak mampu Ayu jawab, tapi yang terjadi dirinya justru menghambur memeluk orang di hadapannya.
500 like. Lanjut!!!!!!