Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 12


__ADS_3

Pukul empat sore aku tiba dirumah, tapi begitu terkejut kala aku melihat seseorang yang amat aku kenali, Bapak.


Tak pernah ada terlintas ingin bertemu atau sekalipun aku rindu padanya, sebab dalam hati aku sudah merasa sebal dan sakit hati kepadanya. Satu kata alasannya karena beliau sebagai laki-laki dan kepala keluarga yang tak punya tanggung jawab.


"Ngapain Bapak kemari?" tanyaku dingin padanya saat sudah masuk dalam kamar kos. Beliau kini sedang berbaring dikasur dengan mata terpejam dan aku yakin beliau tidak dalam kondisi tidur sebab kakinya kini bergoyang-goyang.


Ibu dan adikku juga tak berada disini. Akupun semakin menatap sebal pada Bapakku yang tak kunjung menjawab, hingga aku kini mendegus keras seraya melempar tasku begitu saja ke arah meja. Spontan Bapak membuka mata atas kegaduhan yang aku buat.


"Kamu gak suka Bapak disini?" katanya dengan mata menatapku tajam.


Aku balas menatapnya sinis. "Gak!" kataku sarkas.


"Mulai sekarang Bapak akan tinggal disini, suka gak suka kamu harus terima. Ini keputusan Bapak," ucapnya dan kembali memejamkan mata.


Aku mengeram emosi. "Tinggal disini? Enak aja, kos-kosan sempit begini Bapak maksa tinggal disini?"


Aku benar-benar gak habis pikir hingga kekesalanku sudah sampai ke ubun-ubun.


"Gak, Ayu gak bakalan ijinin Bapak disini!" kataku dengan nada tinggi. "Terserah Bapak tinggal dimana, asal jangan kesini. Sudah cukup Bapak nyusahin kami dan kini Bapak datang mau numpang hidup, mau jadi benalu disini?" kataku sarkas dengan meluapkan emosi.


Benalu sepertinya pantas kuucapkan sebab beliau dengan badan yang sehat bugar, pikiran waras tapi tak mau menggerakkan tubuhnya untuk berkerja, justru waktu yang digunakan hanya untuk bermalas-malasan dan tak ketinggalan maksiat.


Bapak sontak bangkit, dengan mata menyala menatapku, beliau mendekat dan melayangkan satu tangannya hendak memukulku.


Mataku terpejam, ini kali pertama aku melihat kilatan amarah dari mata beliau. Tapi apa yang aku ucapkan adalah luapan dari rasa sakit hatiku pada beliau yang sudah kupendam selama ini. Sudah cukup rasanya akan sakit hati yang aku peroleh dan entahlah mungkin Ibu mengalaminya lebih dari yang kurasakan.


"Dasar anak gak tau diuntung!" desisnya.


"Lalu Bapak sendiri disebut apa? Lelaki yang tega menelantarkan anak istrinya dan gak punya tanggung jawab!" ucapku tak kalah sengit.


Rahang Bapak kini terlihat mengeras disertai tangannya mengepal, emosi kami sama-sama tengah membuncah bahu kami pun naik turun seakan menahan emosi yang sudah hampir meledak.


"Bapak cuma jadi benalu di keluarga ini, mending Ayu gak punya Bapak sekalian," kataku dan memancing emosi dalam diri beliau. Tangan beliau kini terkepal dan melayang hendak memukulku tapi tertahan dengan jeritan Ibu.


"Jangan Pak, apa yang Bapak lakukan pada Ayu," teriak Ibu yang kini menghampiri kami.


Airmata kesakitanku sudah jatuh tak tertahan, aku berusaha menguatkan diriku agar tak menangis dihadapan Bapak. Aku tak ingin dianggap cengeng ataupun lemah, sebab aku tak ingin ditindas seperti layaknya Ibu yang menurut pada beliau.

__ADS_1


Ayu kuat, batinku.


"Kamu tanyakan sendiri pada anak sialanmu ini," ucapnya disertai desisan.


Aku tersenyum getir. Beliau tadi bilang apa, anak sialan? batinku.


Aku kini mengelap kasar air mataku yang turun. Kemudian aku menoleh kearah kedua orangtuaku secara bergantian. "Kalau Bapak gak meninggalkan tempat ini, Ayu yang bakalan pergi!" kataku dingin.


Akupun kemudian menyambar tasku dan pergi tak menghiraukan panggilan Ibuku yang tengah menangisiku. Saat aku keluar dari pintu sekilas aku menatap Zahra yang tengah ketakutan karena kejadian ini, tangannya erat berpegang pada pintu dan aku menguatkan hatiku untuk beranjak pergi dahulu.


Sepanjang jalan aku menangis tak bersuara. Air mataku merembes jatuh tak tertahan, sepanjang jalan aku menggerakkan kakiku malangkah dan berjalan tanpa tujuan.


Kenapa hidup begitu pelik, aku juga ingin hidup di keluarga yang utuh, bahagia seperti teman-teman lain. Kenapa harus sesusah ini, sudah susah masih banyak tingkah. Mengingat perilaku Bapakku, aku selalu sakit hati.


'Tuhan... ' teriakku dalam hati.


Tak terasa aku berjalan semakin jauh, haripun sudah mulai gelap tapi tak tahu jalan kemana yang akan kutuju.


Langkah kakiku kini terhenti, kemudian kepalaku menengadah ke langit.


Aku memejamkan mataku kemudian terisak, tak kuasa aku menahan tangisanku. Dadaku sesak, rasanya sakit.


'Berdosakah aku melawan dan marah kepada orangtuaku,' batinku.


Setelah isakanku mereda aku menatap kearah sekitar, jalanan begitu ramai hanya kendaraan yang berlalu lalang dan terserah apa kata mereka jika melihatku yang tadi menangis.


Kini kurasakan kakiku mulai terasa sakit, mungkin dikarenakan terlalu jauh aku berjalan. Akupun kini menepi untuk mendudukkan diri di tepian jalan, sambil mataku menatap kendaraan yang melintas.


Tangisku sudah reda meski masih dengan mata berkaca. Dalam lamunanku aku tersentak sebab kini pundakku tengah ditepuk oleh seseorang.


"Sandy," kataku lirih usai menoleh kearah sampingku, ada Sandy yang juga kini ikut mendudukkan diri disampingku.


Kami sama-sama terdiam beberapa saat, dan tak lama Sandy bersuara, "Kamu pasti belum makan kan?"


Aku menggeleng tanpa menatapnya. "Aku gak lapar," sahutku datar.


Sandy mendesah kemudian berdiri. "Apapun masalah yang kamu hadapi, kamu juga perlu makan untuk mengisi energi. Ayo," katanya mengajakku untuk mengikutinya.

__ADS_1


Aku yang tak kunjung beranjak, kini Sandy menarik lenganku untuk berjalan mengikutinya. "Naik," katanya usai menghidupkan motor.


Akupun mengikuti perintahnya untuk menaiki motornya, tak banyak bertanya diapun kini mulai melajukan motornya. Setelah berputar-putar kini motor berhenti di sebuah warung sate.


Sandy menarik lenganku memasuki warung dan mendudukanku pada kursi kosong. Dia kemudian pergi meninggalkanku untuk memesan makanan. Hingga makanan datang kami masih sama-sama terdiam.


"Makan dulu, dipikir nanti lagi," katanya sambil mengisi piring dihadapanku yang masih kosong.


Akupun mulai menyuap makanan hingga makanan itu habis. Dan usai makan Sandy kini mengajakku mampir ke taman kota.


"Kamu bisa percayakan kepadaku, bila kamu ingin cerita dengan masalahmu," kata Sandy memecah keheningan sebab kami duduk disini sudah hampir setengah jam dan dalam kondisi diam.


Aku mengulum bibirku, kemudian berkata, "Aku gak ingin pulang."


Sandy serta merta menoleh ke arahku kemudian menatapku. "Kenapa?"


"Aku capek, aku gak ingin lihat Bapak," ucapku menatap nanar ke depan. "Seharusnya keluarga menjadi tempat teraman untuk berlindung dan mendapat kebahagian dari kasih sayang penghuninya, tapi bagiku keluargaku tidak seperti itu, mereka—," aku tak bisa melanjutkan kata-kataku dan kembali terisak dengan dada yang terasa semakin sesak.


Sandy diam, dia menungguku hingga aku sedikit merasa tenang. Aku menarik nafasku dalam, mengontrol diriku.


"Bila kamu tak ingin bertemu dengan Bapakmu lalu bagaimana dengan keluargamu yang lain, Ibumu atau barang kali saudaramu. Mereka pasti akan mengkhawatirkan kamu," ucap Sandy.


Bibirku mencebik.


"Sejauh mana kamu pergi keluarga adalah tempatmu kembali, tak mungkin bisa terlepas meski kamu tak suka sekalipun sebab ada ikatan yang tak kasat mata dan mengalir dalam tubuhmu. Ayo aku antar," kata Sandy yang bangkit dari kursi taman kemudian menggandengku menuju motornya.


Saat aku sudah sampai tempat kos waktu semakin larut, ragu untuk mengetuk pintu tapi Sandy yang terus mengamatiku dari atas motornya mengangguk ke arahku mengisyaratkan agar aku masuk.


Aku memegang handle pintu dan sedikit memutarnya, nyatanya pintu tidak dikunci. Kamar kos yang berukuran sempit ini memudahkan mataku menjangkau keseluruh ruangan.


Meski lampu tak dinyalakan aku masih dapat melihat, yang berbaring dikasur hanya ada Ibu beserta adikku. Akupun kemudian menutup pintu, meletakkan tasku kemudian beranjak mencari tempat berbaring berbalik memunggungi Ibuku.


Seberapa sakit yang aku rasakan pasti lebih sakit hati Ibu yang menanggung semua ditambah dengan sikapku tadi sebelum pergi meninggalkan rumah. Dengan mata terpejam airmataku merembes dan tak lama aku terisak dan kini aku memilih menarik bantalku untuk menyembunyikan tangisku dalam dekapan bantal.


To be Continue


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEMPOL, KOMENTAR JUGA VOTE nya

__ADS_1


__ADS_2