Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 86


__ADS_3

Beberapa kali menelan salivanya, Ayu juga membasahi bibirnya sebagai bentuk dari rasa gugup dalam menjawab pertanyaan Kevin. Sebab pertanyaan ini Ayu rasa begitu riskan.


"Sesuai kitab dalam ajaran agama saya sudah dituliskan, yang mana wanita-wanita baik untuk lelaki-lelaki baik. Begitu pula dengan wanita-wanita yang keji untuk lelaki-lelaki keji. Tapi pada kenyataannya ada wanita yang baik mendapatkan lelaki keji. Maka dalam memahami ayat pada kitab yang saya sebutkan tadi adalah sebagai perintah untuk menciptakan kondisi yang baik. Motivasi dan anjuran untuk mengkondisikan dan bukan sebagai ketetapan bahwa yang baik otomatis akan mendapatkan pasangan baik, hal itu tentu perlu usaha perbaikan."


Ayu menjeda ucapannya mengingat akan apa yang pernah dia alami, lebih tepatnya adalah Ibunya. Semburat senyum bangga dan getir jadi satu, kemudian dia berucap lagi, "Pernah dengar cerita Fir'aun yang merupakan lelaki jahat tapi memiliki pasangan yang bernama Asiyah? Lalu Nabi Nuh dan Nabi Luth yang memiliki istri berkhianat dari suaminya? Secara logika itu bukankah tak adil. Tapi keburukan dari pasangan bisa jadi itu adalah ujian untuk meningkatkan derajat tiap manusia di mata Tuhan. Diterangkan pula bahwa bisa jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagi kamu. Dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagi kamu. Tuhan lebih mengetahui dengan apa yang kamu butuhkan bukan kamu inginkan," jelas Ayu dan Kevin tentu saja menyimak dalam diam.


"Bapak paham?" tanya Ayu memastikan.


Dan yang dilakukan Kevin adalah hal yang paling menyebalkan bagi Ayu, sebab saat ini Kevin geleng kepala. Sontak hal itu membuat Ayu begitu kesal. Dia berdecak dan hampir refleks menggetok kepala Kevin menggunakan sendok yang berada di tangannya.


"Kesimpulannya saya bakal menolak orang seperti Bapak!" tegas Ayu. "Selagi saya masih bisa memilih, saya bakal memilih calon suami yang bertakwa pada Tuhan, yang hidupnya berpedoman pada agama. Dia pasti akan mendoakan kebaikan untuk saya. Jika dan andai saja dia atau suami saya suatu saat nanti tidak menyenangi saya lagi dia tak akan berlaku dzolim pada saya."


"Dan ada lagi," ucap Ayu yang masih belum cukup memberi penjelasan. "Proses memilih, lalu menikah tahapannya masih panjang. Ada saatnya, dan pasti kita akan menjadi yang namanya orangtua. Mendidik anak, bukan mudah seperti menenun kain yang indah. Tapi juga butuh Mujahadah. Memerangi hawa nafsu, dan yang pasti bukan hanya bekal harta dan warisan tapi anak juga butuh ditanamkan akidah di dalamnya agar tercipta akhlak yang baik. Bila saja nanti orangtua mati anak itu bisa mengirim doa lewat mengaji."


"Lalu itu alasannya kamu naksir Akram?" celetuk Kevin tiba-tiba.


Alis Ayu terangkat. "Kenapa tiba-tiba bawa nama Pak Akram," batinnya.


"Ya karena apa yang kamu sebutkan tadi mencakup diri Akram."


"Tapi saya gak ngomongin Pak Akram?" sahut Ayu berkilah. Dia bingung, ini kan yang dibahas tadi mengenai—

__ADS_1


Belum selesai berasumsi Ayu tersentak saat Kevin berujar dengan menjentikan jarinya. "Berarti orang seperti saya ini bukan tipe kamu?" tebak Kevin lalu tertawa. Tertawa garing, menertawai diri sendiri.


"Padahal kalau kamu tahu banyak wanita bertekuk lutut pada saya," ucap Kevin mengakui bahkan parahnya terkesan menyombongkan diri.


"Dan Bapak sudah jelas tahu alasannya. Bapak sendiri tadi yang bilang pada saya, menawarkan kesenangan pada mereka."


Raut wajah Kevin perlahan berubah, sudut bibirnya tertarik tapi membentuk senyum masam.


"Bisa dikatakan Bapak butuh kesenangan, wanita-wanita itu juga. Tapi bukankah atas kesenangan itu mereka masih butuh imbalan. Andai saja sekarang Bapak datang dan berdiri diantara mereka tanpa memberi mereka imbalan— tentu mereka tak akan suka rela menyodorkan, maaf— kepuasan untuk Bapak."


"Maaf saya telah lancang," ucap Ayu beberapa detik setelah mereka saling diam.


Bibir Kevin layaknya dibungkam atas kata-kata Ayu yang mungkin pernah dirinya dengar dari oranglain. Tapi kali ini perkataan tadi seolah bercokol dalam benaknya, menjadikannya sulit untuk mengabaikan.


Ayu mengulum bibirnya. Meletakkan sendok yang lama dia genggam ke atas meja. "Dekat namun sulit digapai. Mengagumi adalah merupakan pilihan, tapi untuk memiliki rasanya mustahil. Saya tak berhak," ucap Ayu tersenyum memaksakan.


"Kenapa? Tak percaya diri?"


"Bukan," Ayu menggeleng. "Rasanya saya tak tahu diri jika mengakui perasaan ini. Siapa saya? Bukan siapa-siapa." sambungnya.


Dari tatapan Kevin mata gadis di hadapannya nampak putus asa. "Bukankah tadi kamu sendiri yang bilang, bila masih punya waktu akan berusaha untuk memperbaiki diri. Lalu dimana letak kata-kata itu, kalau belum apa-apa, bahkan memulai garis start saja tak pernah—kamu sudah putus asa."

__ADS_1


"Ya karena saya gak berhak Pak!" sahut Ayu dengan nada sedikit meninggi.


"Coba tunjukkan letak tak berhak atas dirimu memiliki Akram?"


Setetes air mata yang turun di pipi dihalau Ayu dengan kasar. "Dulu Pak Akram pernah mengatakan, bila suatu saat nanti kami dipertemukan kembali dia ingin melihat saya dalam keadaan yang lebih baik lagi. Dia juga berpesan agar saya bisa jaga diri, belajar dan—" Ayu menggeleng. Menunduk menyembunyikan airmatanya yang semakin deras mengalir. Tapi dia berusaha menahan kuat tangisannya, tak ingin memperlihatkan kerapuhannya pada orang di hadapannya.


Usai dia mampu menguasai diri, Ayu mengangkat kepalanya tapi tak mampu menatap manik mata Kevin untuk berujar, "Justru saat kami dipertemukan kembali, keadaan saya malah semakin memburuk."


Senyum getir beberapa kali muncul dari bibir Ayu, dan Kevin paham akan hal itu. "Harusnya di usiamu yang seperti ini kamu dan adikmu masih menjadi tanggungan orangtuamu. Lalu dimana keberadaan mereka?"


"Harusnya. Tapi kenyataannya saya ada disini, itu artinya Bapak saya tak peduli."


Kevin menghela napasnya. Ya, harusnya jika orangtuanya peduli Ayu dan adiknya tetap bernaung di dalam rumah, tidak sampai terusir hingga berkeliaran di emperan rumah orang.


Perlahan senyum Kevin terukir. Dia berdehem. "Sekarang giliran saya yang cerita."


Kepala Ayu pun terangkat, memberanikan diri menatap wajah di hadapannya.


Menarik napas sejenak, menghembuskannya panjang. Kevin pun berujar, "Sebagaimana yang kamu ketahui saya adalah anak dari Bramantyo. Tapi— dengar baik-baik saya tak akan mengulangi perkataan ini lagi." Kata Kevin memberi peringatan, dan Ayu dengan bibir terkatup mengangguk meski samar.


"Saya bukan anak kandungnya. Dan mendengar ceritamu tadi, saya merasa menjadi orang yang lebih bahkan sangat beruntung. Sebab sampai detik di usia saya saat ini kedua orangtua saya masih begitu peduli pada saya," jelas Kevin dengan jari telunjuk mengarah pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Sedangkan Ayu dengan senyum tipisnya dan airmata yang mulai berair, berujar, "Iya—Bapak adalah orang yang beruntung."


350like lanjut lagiiiiiiiiiii


__ADS_2