Senandung Impian

Senandung Impian
Ekstra Part 3


__ADS_3

Kesal, tapi mau bagaimana lagi— itu sudah menjadi resiko alam. Kevin menghela pendek napasnya, padahal dia sudah ada niatan ingin mengurung Ayu dua hari dua malam di kamar hotel, dan semuanya jelas gagal total.


"Terus, mau sampai kapan berdiri disitu? Sini ikutan gabung," ujar Kevin menepuk ranjang di sebelahnya, mempersilahkan Ayu untuk menuju tempatnya.


Dengan langkah malu-malu akhirnya Ayu menuruti Kevin. Gerakannya perlahan setengah merasa sungkan juga canggung berada dalam posisi dekat, hingga saat dirinya hendak merebahkan diri di ranjang— debaran di dadanya tak mampu terelakkan lagi.


"Jangan tatap aku begitu!" protes Ayu saat sudah merebahkan diri, sementara Kevin lekat menatapnya dengan menopangkan kepalanya pada lengan yang menyiku.


"Padahal banyak wanita yang ingin berada di posisimu?"


"Lalu, kenapa kamu sendiri pilih aku?" sahut Ayu ketus.

__ADS_1


Kevin mengedikkan bahu. Kemudian pikirannya mulai menerawang. "Apa jangan-jangan aku diguna-guna."


"Apa! Kamu nuduh aku!" sahut Ayu tak terima. "Kamu sendiri yang sering paksa-paksa aku. Main cium seenaknya. Apalagi itu ciuman pertama untukku. Gimana bisa kamu nuduh aku seena—,"


Belum sempat Ayu menyuarakan emosinya, Kevin malah bergerak lebih cepat ******* bibirnya.


Menarik diri, Kevin berujar memberitahu, "Ini yang aku sukai darimu. Omelanmu. Saat kamu memarahiku dan rasa bibirmu," ujarnya dengan mengecupi bibir Ayu berkali-kali.


"Masih saja gak percaya, padahal aku ingin membuktikannya tapi sayang gagal, karena kamu sedang halangan," gerutu Kevin menghela napas pasrah. "Jadi— berapa lama lagi aku harus menunggumu? Tujuh hari— satu minggu atau bisa kurang dari hari itu?"


Ayu menahan senyum sambil mencengkeram selimut usai mendengar penuturan Kevin. Lalu mencibir begitu lirih, "Dasar tidak sabaran."

__ADS_1


"Aisssst... Jangan menertawakanku!" protes Kevin yang tiba-tiba menyentak, mendekap tubuh Ayu dari belakang. "Aku benar-benar gila menunggumu terlalu lama. Rasanya kamu ingin segera kumakan!" ujar Kevin gemas yang bergerak melompat, menindih Ayu.


Tak butuh waktu lama Kevin menemukan bibir wanita yang sudah jadi istri sahnya itu. Sungguh sebuah keberuntungan sebab Ayu ikut menyambutnya, hingga saling mencecap manisnya rasa dalam peraduan.


Hati Kevin yang tadinya mengembang kini meledak ketika Ayu mulai mengimbangi pergerakannya. Dirasakan lengan Ayu bergelanyut ditengkuknya. Dengan saling memiringkan kepala, ciuman yang mereka lakukan kian panas, menciptakan suasana intim berdua dalam mencari kepuasan.


Kewarasan keduanya seakan hilang begitu saja, Kevin begitu membuai Ayu dengan memberi kecupan di leher dan kemudian turun hingga tak kuasa membuat Ayu mendesis menikmati tiap sensasi yang mengalir merambati tiap titik sensitifnya. Yang bersamaan dengan tangan Kevin yang mulai bergerilya, mengelus hingga merem*s bagian sensitif yang masih terbalut dengan pakaian, lalu terhenti pada...


"Rasanya aku tak ingin berhenti," ujar Kevin saat bibir yang saling bertaut baru saja terlepas. Matanya baru saja terbuka sebab tersentak dengan apa yang tadi dia rasakan. Kini sorot mata itu nampak berkabut dipenuhi gairah, namun ucapan Ayu beberapa menit lalu seakan menggedor isi kepalanya, yang tak mungkin dia menerobos lampu merah.


Dengan masih saling tatap Ayu susah payah menelan salivanya. Napasnya terasa kian tersangkut-sangkut, dalam hati dia juga tengah merasakan hal yang sama, tak ingin berhenti, tak ingin melewatkan moment yang sekarang ini. Tapi dia tak bisa menyalahi nasibnya atas tamu bulanan yang benar-benar datang tak tahu kondisi.

__ADS_1


Mengeram frustasi,Kevin pun dengan berat hati mengaku kalah. Menghentikan paksa logika diotaknya juga menahan sesuatu yang ingin meledak di bawah sana. Mau tak mau kini dirinya bangkit meninggalkan istrinya, kemudian melangkah lebar menuju kamar mandi.


__ADS_2