
"Kamu mau kuliah kemana Yu?"
Akupun menghela nafas panjang mendengar pertanyaan itu. Ini adalah pilihan terberat yang mesti aku hadapi. Meski aku sudah ada pekerjaan sampingan tapi itu tak serta merta semua keinginanku bisa terpenuhi.
Sebab di tahun ini kalau aku tetap nekat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, itu artinya pendidikan Zahra yang akan terabaikan.
Usia adikku sudah hampir menginjak empat tahun. Bu Bidan di posyandu kerap kali memberi Ibuku masukan agar Zahra dimasukan ke dalam sekolah luar biasa. Sebab anak berkebutuhan khusus diharuskan mendapat perhatian lebih dari lingkungan sekitar juga harus di dukung oleh pendidikan yang memadai.
"Ayu! Malah ngalamun," tegur Risty yang menyenggol lenganku.
"Kayaknya aku gak akan lanjut kuliah," jawabku menoleh padanya sekilas.
"Padahal sayang banget, nilai ujianmu saja sangat memuaskan," ucapnya mendesah.
Akupun tersenyum tipis. Mau bagaimana lagi keadaan yang tak mendukung , batinku.
__ADS_1
"Lalu kamu akan bekerja dimana?" tanya Putri padaku.
Aku sejenak berfikir. "Untuk sementara aku akan tetap jadi partimer di hotel Kartika. Dan aku dengar disana juga ada lowongan pekerjaan, kali saja aku beruntung dan bisa menjadi salah satu karyawan disana," jelasku disertai keyakinan dan senyum sumringah, menyembunyikan rasa sedih yang sebenarnya tengah kurasakan.
Sedih sebab kehidupan kami sebentar lagi akan terpisah, tentunya karena kesibukan masing-masing. Kedua sahabatku ini, Risty dan Putri akan tetap melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah sedangkan diriku bekerja untuk mendapatkan uang.
***
Pendidikan sekolah untuk anak berkebutuhan khusus nyatanya tidak murah, kini uang tabunganku sudah kupakai untuk biaya pendaftaran masuknya. Masih ada sisa tapi sedikit.
Dikarenakan aku kerap kali membaca artikel yang menyangkut dengan apa yang dialami Zahra. Dibalik kekurangan sosok anak penyandang autisme, mereka juga memiliki kelebihan dari diri mereka. Dan semoga hal itu juga ada pada diri Zahra.
***
Usiaku kini sudah genap dua puluh tahun, sesuai dengan rencanaku begitu aku lulus dari SMK, aku langsung saja mengisi lowongan pekerjaan di hotel Kartika.
__ADS_1
Butuh banyak perjuangan untuk aku bisa memasuki hotel itu dalam status sebagai karyawan kontrak. Tahapan yang musti dilalui begitu banyak, yakni mulai dari uji kompetensi, rajin masuk tanpa bolong absensi juga dituntut untuk menjaga penampilan agar selalu terlihat rapi.
Perfeksionis, kata itu yang mampu aku gambarkan. Sebab semakin bertahap hotel Kartika sudah naik level menjadi hotel kelas bintang empat. Dan kudengar petinggi pemegang kekuasaan di pusat sudah beralih pada Bapak Kevin, yang entah nama lengkapnya siapa aku tak tahu.
Aku mematut diriku di depan cermin yang bertempat di ruangan ganti karyawan. Aku kini sudah menjabat sebagai seorang room maid berstatus karyawan kontrak.
Sudah satu setengah tahun aku disini, dan harapanku berganti atau bertambahnya tahun aku bisa naik pangkat menjadi apalah, yang jelas biar gajiku makin tinggi, mampu beli itu ini.
Aku kini berdecak sesaat setelah memutar lipstik satu-satunya milikku. Tandas, tinggal bersisa sejentik yang menempel pada dasar terdalam.
Aku mendegus seraya berujar, "Nasib!" Setelahnya melempar listrik itu sembarang, hingga masuk ke dalam keranjang sampah.
To be Continue
Ada yang kenal KEVIN??? komentar di bawah ya
__ADS_1