Senandung Impian

Senandung Impian
Ekstra Part 6


__ADS_3

Ayu memejamkan mata sejenak, berusaha mengontrol pikirannya agar tak terpancing omongan wanita di hadapannya. Dia masih sadar ada dimana dan tentu tak ingin membuat keributan jika meladeni omongan tadi.


Kini saat Ayu telah membuka matanya, dia berusaha berujar dengan nada yang terdengar biasa. "Sebejad dan seburuk tabiat lelaki, dia sudah pasti akan memilih wanita baik-baik untuk mendampingi hidupnya. Menjalani masa depannya dengan serius, yang pasti dengan harapan kehidupan yang didapatkan setelahnya berujung dengan indah."


Ayu sejenak menjeda ucapannya, dia ingat akan apa yang Kevin katakan dulu tentang simbiosis mutualisme. "Jika saja Kevin benar berjanji menikahimu, maka sekarang aku tanya— jaminan apa yang akan kamu berikan nanti setelah menikah? Jika, sebelum menikah saja kamu telah memberikan satu-satunya yang berharga yang dimiliki oleh wanita, kehormatan!" ucap Ayu menekankan kalimatnya yang sontak membuat wajah wanita di hadapannya berubah gentar, lalu mengeram emosi.


"Aku rasa saat kamu menyerahkan diri kepada Kevin, semua bukan sebatas cuma-cuma. Kamu memberi, Kevin menerima lalu yang kamu dapat adalah imbalan. Bukan kah semua impas, lalu apalagi yang kamu harapkan? Kevin mau menjalankan hidup serius denganmu? Gak!" tegas Ayu dengan menggelengkan kepalanya.


***


Ucapan tadi siang di hotel masih saja terngiang di kepala Ayu. Meski dia berusaha untuk tak gentar, tapi tetap saja... jiwanya serasa goyah, melihat wanita tadi lalu terbayang dengan kejadian lalu, dengan apa yang telah Kevin perbuat saat dia tak sengaja memergoki kala itu.


Tiba di rumah rasanya Ayu kian malas saja. Berjalan gontai berusaha juga dia mengenyahkan pikirannya. Dan ketika dia mulai memasuki ruangan tengah, dia berpapasan dengan keponakanya yang berjalan menuju ke arahnya lalu menyerahkan boneka berbentuk teddy bear yang begitu lucu.


Begitu Ayu menerimanya, dia pun berucap terimakasih lalu mengusap kepala keponakannya yang berusia hampir menginjak dua tahun, hingga membuat bocah kecil itu tersenyum menggemaskan dan menularkankannya sedikit semburat senyum pada bibir Ayu.


Bocah kecil itu pun kini berlari menjauh, meninggalkan Ayu yang justru mengamati boneka yang tengah dia peluk.


Percikan ingatan yang lalu seakan kini mulai muncul. Dia ingat pernah memiliki boneka yang sama persis dengan yang dipegangnya, pemberian Pak Akram. Lalu ditambah dengan ingatan yang lalu yang dia dapat, bagaimana senangnya dia, memeluknya begitu erat, hingga tak membiarkan adiknya menyentuhnya. Lalu, bukan hanya karena benda itu saja. Melainkan perasaan yang dimilikinya pada orang yang memberinya, cinta pertamanya. Dan bila mana nama orang itu akan selalu dikenangnya, sebagai masa lalunya.


Lalu kini bukankah apa yang Ayu temui tadi siang juga merupakan masa lalu suaminya? Ayu menghela panjang napasnya, lalu meluruskan pandangannya. Dalam hatinya pun berseru, bahwa setiap orang pasti lah memiliki masa lalu.


"Ayu, kok berdiri disitu saja? Sini bonekanya Mikaila biar Mama yang bawa. Sudah kamu langsung saja ke kamar. Mandi setelah itu tunggu Papa untuk makan malam," ujar Cindy yang kemudian mengambil boneka dari tangan Ayu lalu menyusul cucunya, yang tak lain adalah putri dari Angel.


"Iya Ma," sahut Ayu mengangguki ucapan mertuanya dan mengulurkan boneka milik keponakannya.

__ADS_1


Ayu belum lah beranjak dari tempat berdirinya, masih menatap punggung mertuanya. Nasehat beberapa hari lalu kini terngiang di benaknya, tentang alasan Cindy yang mencarikan jodoh untuk putranya. Sebagaimana dengan ciri-ciri yang bisa Ayu katakan sempurna, agar putranya itu tak mudah berpaling ke wanita lain kalau sudah menikah.


Dan benar saja, baru beberapa hari menikah wanita di masa lalu suaminya telah kembali. Lalu ke depannya, pasti juga akan ada lagi. Bahkan bisa saja wanita-wanita baru yang bila mana mendatangi, tapi bukankah tak ada asap bila tak ada api?


Mungkin benar juga akan perkataan mertuanya tentang hak-hak suami. Jika saja si istri telah mampu mencukupi apa yang dibutuhkan oleh suami maka besar kemungkinan suami tak akan mudah berpaling dari istri, dan lagi itu hanya teori. Belum Ayu mempraktekkannya.


Apa mungkin bisa dia lakukan hari ini? Dan dipikir lagi, bukankah ini waktu yang tepat, suaminya akan pulang.


Bergegas Ayu segera masuk ke kamar kemudian membersihkan diri. Begitu selesai dia langsung menuju ke bawah karena jam makan malam telah dimulai.


Ketika waktu telah menunjukkan pukul delapan malam Ayu pun mulai berpamit menuju kamarnya, lalu memulai ritualnya. Menyiapkan apa yang perlu dia lakukan guna menyambut suaminya.


Sambil mempersiapkan diri Ayu beberapa kali mengecek ponselnya, tadi suaminya mengatakan sudah dalam perjalanan pulang sekitar lima belas menit lagi akan sampai. Dan kini usai menggeletakkan ponselnya di atas nakas, lalu Ayu berjalan menuju kaca untuk mematut tampilannya.


Suhu AC yang seharusnya dingin pun rasanya tak berefek lagi sebab sekarang ini hawa panas melingkupi tubuhnya. Demi membunuh waktu Ayu kembali lagi memperbaiki penampilannya, dari menyisir rambut, merapikan lipstik di bibir, memoles bedak dan blush-on juga tak ketinggalan dia menyemprotkan parfum ke sekujur tubuhnya.


Notifikasi di ponselnya terdengar, yang lantas mengalihkannya dan membuka pesan yang ternyata dikirim oleh suaminya bahwa diberitahukan telah sampai rumah.


Jantungnya serasa kian bertalu, dengan tangan bergetar dia pun meletakkan ponselnya lalu arah pandangannya kini tertuju pada pintu.


Malu telah menguasainya, membayangkan bila Kevin melihat wujudnya yang sekarang. Saat muncul niatan untuk mematikan lampu dan belum sempat dia bergerak ke sakelar lampu untuk mematikannya, justru terdengar handle pintu bergerak dan nampak berputar. Hingga pada saat pintu itu terkuak dan memunculkan sosok lelaki yang sudah sangat dirindukannya, kejut dalam hatinya muncul dengan tiba-tiba.


Tak jauh halnya dengan yang Kevin rasakan. Dia tertegun, tubuhnya membeku di tempat dengan napas yang tiba-tiba tersendat melihat wujud wanita di hadapannya.


"Ka—kamu bawa bunga?" ucap Ayu saat matanya menangkap sebuket besar bunga mawar merah di tangan Kevin.

__ADS_1


"I—ya," dengan suara tak terkontrol Kevin pun menyahuti, tetap dengan mata yang fokus menatap ketidakpercayaannya. "Untukmu," ujarnya lagi lalu beranjak menuju Ayu, dan belum sempat dia menyerahkan sebuket bunga itu ke tangan Ayu, dia justru menjatuhkannya ke lantai.


Sialnya, semua terjadi sebab ada sesuatu yang tak mampu dia kontrol lagi saat sudah berhadapan dengan wanitanya.


Kevin dengan buru-buru mendorong Ayu, hendak menyentuh lebih lagi wanita yang sudah sah menjadi miliknya. Tapi sialnya lagi dia harus menunda sebab istrinya tengah berbisik memberi peringatan bahwa, "Pintu kamarnya masih terbuka. Harus ditutup dan dikunci terlebih dahulu. Kalau sampai diintip sama pemirsa kan malu kkkkk"


Terimakasih yang sudah menyimak cerita Ayu


Dan sampai jumpa di cerita lain dari ARyanna, Bila ada kekurangan dan part yang kurang atau belum dibahas, jangan lupa tulis dikolom komentar ya..


Cerita ARyanna yang bakal on going,


-Lost memory (on going)


-Ruang Rindu (tamat)


-Risalah Hati (tamat)


-Bukan Duda Biasaa (tamat)


-Love not Scenario (tamat+cetak)


-Trap of Marriage (tamat+cetak)


-Love not Disscus (tamat+proses cetak)

__ADS_1


__ADS_2