
Segera Ayu memalingkan muka, berjalan lebih dulu dan tentu saja disusul oleh Akram sampai ke lantai basement. Tiada percakapan saat mereka sampai disana, namun begitu bingungnya Ayu tak tahu harus berbuat bagaimana dengan kunci mobil yang digenggamnya. Dia tak hapal juga tak tahu mobil mana milik bosnya.
"Kemarikan kuncinya," ucap Akram yang menengadahkan satu tangannya di hadapan Ayu.
Ada kelegaan yang terselip di hati Ayu atas kebingungannya tadi, sontak kunci yang digenggamnya cepat-cepat dia serahkan kepada Akram.
Tanpa berucap apa pun dirinya mengekor langkah Akram hingga sampai suara alarm mobil berbunyi, Akram masuk ke dalam mobil. Begitu pula disusul oleh Ayu.
"Di tempat mana saya bisa mencucinya Pak?" ucap Ayu usai memasang sabuk pengaman, bersamaan dengan mobil yang bergerak mundur dan kemudian bergerak meninggalkan area parkir basement menuju jalan raya.
Tak ada tanggapan dari Akram, Ayu pun hanya menurut. Dirinya mulai menyenderkan punggungnya pada sandaran jok mobil dengan mata menatap ke arah jalanan.
Mobil berputar melintasi jalan raya sekitar beberapa menit, hingga mobil terhenti pada sebuah showroom tempat pencucian mobil.
"Kenapa berhenti disini Pak?" tanya Ayu heran dan mengamati tempat sekitar.
"Tadi kan kamu bertanya dimana tempat untuk mencuci mobil, dan inilah tempatnya," sahut Akram yang melepas sabuk pengaman kemudian bersiap turun dari mobil, diikuti oleh Ayu.
__ADS_1
Dengan dihampiri oleh seorang petugas showroom, Akram menyerahkan kunci mobil serta menjelaskan beberapa keluhan juga dimana saja yang harus dibersihkan. Setelahnya Akram menuju pada sebuah ruangan tunggu yang juga restoran fasilitas dari tempat showroom berada.
"Pak yang itu tadi kan tugas saya," ucap Ayu yang berusaha mengejar langkah Akram yang berjalan mendahului.
"Sudah ada yang mengerjakan," sahut Akram ketika langkah Ayu telah mensejajari.
"Tapi perintah Pak Kevin, saya lah yang harus mengerjakannya. Itu kesalahan saya Pak," kata Ayu yang berusaha membantah. Dia bersikeras sebab berfikir kalau kesalahannya perlu untuk dipertanggungjawabkan.
Akram pun menghentikan langkahnya disusul dengan Ayu. "Sudah ada orang yang lebih ahli untuk menyelesaikan tugasnya. Sekarang tugas kamu temani saya," ucap Akram bernada perintah yang lalu melanjutkan langkahnya mencari meja kosong.
Dia pun kali ini duduk mengambil kursi di hadapan Akram, sambil menunggu Akram yang memesan makanan. Hingga makanan telah tersaji di hadapan mereka, Akram mulai membuka suara.
"Sekarang katakan alasanmu, kenapa semalam kamu bisa berada di Bar?" ucap Akram yang mulai mengambil sendok makannya.
"Sudah saya katakan bahwa disana saya bekerja," sahut Ayu yang belum sama sekali menyentuh makanan di hadapannya.
"Alasannya?" ucap Akram lagi, dengan tangan bergerak memberi isyarat agar Ayu ikut makan bersamanya.
__ADS_1
"Karena saya butuh pekerjaan itu."
Akram menghentikan kunyahannya, menatap Ayu dengan raut wajah penuh tanya. Karena yang jelas dia ingin tahu lebih. "Apa bekerja di hotel masih belum terlalu bagus, atau belum terlalu menguntungkan menurut kamu?"
"Uhuk..." Ucapan yang baru saja terlontar dari Akram membuat Ayu tersedak, makanan yang hendak tertelan tiba-tiba saja keluar sebab dirinya kali ini tengah terbatuk-batuk.
Dengan gerak sigap Akram bergerak mengulurkan air minumnya pada Ayu. Ada rasa tak enak dalam hatinya, kalau-kalau ucapannya tadi menyinggung. Hingga Akram melontarkan kata maaf saat Ayu tengah menyeruput dan menegak minuman miliknya. Tapi Ayu tetap merespon dengan menggeleng sambil berusaha menormalkan diri.
"Bukan begitu," ucap Ayu yang terlihat kesulitan sambil berdehem menormalkan suara. "Bekerja di hotel awalnya adalah prioritas saya, ditambah dengan beasiswa dari hotel Kartika. Tak mungkin saya menyiakan-nyiakan semua kesempatan itu. Apalagi saya telah menggantungkan harapan untuk bekerja sesuai dengan kemampuan dan bidang yang saya miliki. Tapi ternyata jalannya gak mudah, waktu yang saya miliki hanya terbatas. Butuh pertimbangan untuk memilih apa yang harus saya utamakan," kata Ayu lalu menghela napas.
Rasanya mengatakan beban hidupnya pada orang lain amatlah sulit, apalagi orang di hadapannya adalah sosok yang dia kagumi. Takut-takut bisa saja orang tersebut akan merasa ilfil atau bahkan bersikap mengasihani dirinya. Sejenak sorot mata Ayu berubah meredup, bibirnya pun mengulum senyum miris dan kemudian dia melanjutkan ucapannya.
"Ada seseorang di rumah yang tengah saya perjuangkan. Bekerja disana bukan atas kehendak namun lebih mengarah pada keadaan yang mendesak," ujar Ayu dengan berusaha tersenyum lalu kembali melanjutkan makannya.
To be Continue
Jangan lupa Jempol dan komentarnya, biar makin rajin updatenyaaaa
__ADS_1