
Lebih dari seminggu Ayu mengatur waktunya dari bangun pagi mengurus adiknya, bekerja di hotel, ke tempat Akram, kuliah dan yang terakhir pulang ke tempat kosnya.
Lelah, hal itu yang dia rasakan. Bahkan sesekali dia berfikir lebih baik segera menikah saja, agar beban hidupnya semakin berkurang.
Menggeleng sambil tertawa kecil ketika Ayu membayangkan hal itu terjadi. Kemudian terlintas lagi di benaknya, kepada siapa dan siapa orang yang mau menerimanya?
"Arrggg... Rasanya kenapa jadi kesal sendiri!" gumamnya kesal.
"Kenapa!" Rico muncul dengan tiba-tiba dan langsung menepuk kepala Ayu dengan buku makalah yang telah digulung.
Meringis, wajah kesal Ayu pun kini di tunjukkan pada Rico. "Ngagetin aja, kenapa datang-datang gak ucap salam! Malah getok kepala," kata Ayu menggerutu.
"Cuma digetok pake beginian," sahut Rico tak merasa bersalah dan menunjukkan buku makalah di tangannya.
"Kaget Co, kaget!" tegas Ayu.
__ADS_1
"Kaget doang! Asal kan gak gegar otak atau hilang ingatan," ucap Rico yang menyahuti Ayu dengan candaan.
Ayu yang refleks mengepalkan tanganya dan seketika mengangkat tangannya hendak melayangkan pukulan pada bahu Rico. Namun keburu Rico berbalik untuk mengulurkan helm pada Ayu.
"Aitss... stop—stop—stop—stop!" ucap Rico yang terkejut akan tindakan Ayu.
Ayu pun menarik tangannya tak jadi memukul Rico dan merebut dengan kasar helm yang hendak Rico beri padanya, kemudian langsung memasangnya di kepala.
Berdecak menatap sikap Ayu, Rico pun berujar, "Sensi banget malam ini. Lagi dapet apa kesambet."
Atas ucapan Ayu tadi jantung Rico terlonjak kaget. Menipiskan bibir, Rico pun mengelus dada.
"Kenapa malah gantian aku yang kaget! Bales dendam ya Yu?" ucap Rico saat sudah duduk di jok motor, bersiap menyalakan mesinnya.
"Gak usah banyak ngomong, buruan digas!" perintah Ayu dan tentu saja langsung dilaksanakan oleh Rico.
__ADS_1
Selama perjalanan pulang menuju tempat kos, Rico selalu melirik ke arah kaca spion motornya. Memperhatikan raut wajah Ayu yang nampak melamun. Dia tahu kalau Ayu memang banyak memiliki masalah, tapi kali ini diamnya Ayu membuat hatinya seolah terusik.
"Ngelamun dari tadi?" ucap Rico saat berhenti tepat di lampu merah. Kondisi kendaraan yang cukup ramai di sekitarnya membuatnya sedikit meninggikan suara.
Ayu nampak menghela panjang napasnya, menatap tak minat lampu penerangan jalanan Ibukota.
"Gak usah sungkan, cerita saja padaku. Aku cukup bisa dipercaya," ucap Rico lagi dengan arah pandang menatap lampu yang sebentar lagi akan berganti dengan warna hijau.
"Aku capek, rasanya ingin nikah saja."
Ucapan yang berisi tentang keluhan itu diucapkan dengan nada sangat biasa, bahkan setengah lesu. Tapi dalam kondisi Rico yang akan bersiap memutar gas untuk melajukan motornya begitu tersentak akan penuturan Ayu tadi. Sontak Rico yang hilang kendali sebab tanpa sadar memutar gas motornya penuh mengakibatkan motor yang dia kendarai bersama Ayu melesat ke arah yang tak semestinya.
Tubuh Ayu dan Rico pun terpental dan terseret di kerasnya aspal jalanan. Sempat dalam kondisi kesakitan dan tubuh yang serasa sulit digerakan terdengar pekikan dari orang-orang di sekitar.
Matanya yang masih terbuka pun samar melihat kondisi Rico yang telah bersimbah darah pada area kepala, helm-nya telah terlepas. Hingga sebelum kesadarannya hilang penuh Ayu bergumam menyebutkan nama, "Ri—co..."
__ADS_1
To be Continue