
Aku menggenggam erat kunci motor milik Pak Akram seraya menangis merunduk duduk diatas jok motor milik Sandy.
Tadi kebetulan dia menelponku usai Pak Akram pergi, tak berapa lama kemudian Sandy tiba untuk menyusulku, mengajak keluar dari gedung bandara menuju area luar pagar bandara demi menyaksikan pesawat yang hendak meluncur ke udara.
Rasa menyesak mulai menyeruak ke dalam hati kala aku mendongakkan wajahku menatap lurus ke depan demi melihat pesawat yang berjalan perlahan lalu menukik ke atas, meninggalkan satu goresan luka yang tak kasat mata.
Air mata makin mengucur deras. Aku turun dari jok motor kemudian berjalan perlahan hingga sampai pada pagar pembatas, menatap gamang hamparan luas lintasan pesawat yang tak jauh dari tempatku berdiri.
Tangan Sandy kini terasa menepuk di pundakku, aku pun mulai membuka suara. "Kenapa seseorang diharuskan datang kalau hanya untuk pergi."
Sandy pun maju selangkah dan mensejajariku, menghela nafas kemudian berujar, "Daun jatuh pun sudah di atur oleh Allah. Apalagi dengan takdir manusia, kenyataan yang musti di hadapinya, perjumpaan dengan orang-orang pilihan-Nya dan mungkin—perasaan yang tidak menentu. Kamu tahu itu karena apa?"
Ucapnya terjeda dan sejenak kutolehkan wajahku demi menatapnya. "Karena Allah selalu punya maksud di balik itu semua," kata Sandy yang kini tengah menatapku.
"Lalu apa maksudnya," cicitku.
Sandy menampilkan senyum tipis kepadaku, gerakan tangannya hendak terulur namun tiba-tiba berhenti di udara. "Memang apa tadi dia gak kasih kamu salam perpisahan?"
Aku menipiskan bibirku kemudian mengangguk kecil. "Pak Akram bilang setiap pertemuan pasti akan ada yang namanya perpisahan. Dia memintaku untuk selalu jaga diri baik-baik, belajar yang rajin juga meraih cita-cita guna menjadi kebanggaan orangtua," sahutku mengingat ucapan Pak Akram seraya mengusap pipiku yang basah akan air mata.
__ADS_1
"Kalau begitu tunggu apalagi?" sahut Sandy namun aku menatapnya dengan kening berkerut. Dia berdecak kemudian kembali berujar seraya menjitak keningku. "Sekolah dulu yang bener."
Sontak aku merubah raut wajahku kesal menatapnya. "Memang selama ini aku sekolah gak bener?" sahutku ketus.
"Memang kenyataannya kan begitu!"
"Apa?" ucapku tak terima dan kulayangkan pukulan pada lengannya sebab kesal karena dia bicara tak sesuai kenyataan. Yang benar saja dia mengataiku sekolah gak bener, aku saja tahun kemarin dapat juara satu, batinku.
Gerakan Sandy begitu tangkas, dia berhasil menghalau pukulan-pukulan yang kuberikan bahkan kini aku makin bertambah kesal saja padanya sebab dia justru menertawakan tingkah konyolku yang mengakibatkan diriku lelah sebab tak kunjung berhasil membalasnya.
"Sandy nyebelin!" kataku seraya mengatur nafas.
Aku pun tak menjawab hanya memberinya lirikan tajam. Namun kini Sandy berdehem menormalkan suaranya dan berujar, "Mungkin ini yang terbaik buat diri kamu juga. Kamu gak sadar kalau akhir-akhir ini nilaimu merosot karena kebanyakan ngalamun dipojokan."
Serta merta akupun menoleh ke arahnya, gumpalan ludah yang bersarang di tenggorokanku rasanya sulit sekali untuk kutelan. Ngalamun di pojokan? gumamku dalam hati.
"Jangan pikir aku gak tahu kalau kamu kerap senyum-senyum sendirian," ucap Sandy lagi membuatku terkejut, rasanya tak percaya.
"Kamu memperhatikanku?" cicitku.
__ADS_1
"Bukan cuma aku tapi se-mu-a-nya," sahutnya dengan penuh penekanan. "Termasuk para guru," sambungnya dengan ucapan serius.
Malu tentu tapi kini Sandy kembali berujar, "Kebaikannya, mungkin dengan perginya Pak Akram kamu bisa fokus dengan belajarmu. Beasiswa yang kamu dapatkan juga pasti perlu di pertahankan. Kamu perlu ingat, mungkin ada murid lain yang juga ingin mendapat posisi sebagai murid berprestasi buat dapetin beasiswa seperti yang sudah kamu peroleh."
"Siapa?" tanyaku penasaran.
"Aku mungkin," sahutnya disertai cengiran.
Akupun mencebikan bibirku mana mungkin si Sandy mau menyaingiku, ya gak mungkinlah, batinku.
Tapi perlahan aku ingat sesuatu, Hera. Apa dia yang dimaksud dari ucapan Sandy itu? pikirku menerka.
"Balik yuk udah mau hujan," ucap Sandy beranjak menaiki motornya.
Akupun mulai mengangguk mengikuti ajakannya sebab langit sudah nampak gelap. Namun sebelum aku naik ke atas motornya dia berkata lirih, "Jadi ceritanya nangis tadi karena ditinggal pas sayang-sayangnya?"
Mendengar hal itu sontak mataku mendelik ke arahnya.
To be Continue
__ADS_1