
Masuk Shift pagi bagiku cukup melelahkan, apalagi ditambah jika tamu yang datang membludak.
Seperti kali ini dalam satu jam aku sudah membereskan tiga kamar, keringat sudah mengucur deras. Belum lagi aku menemui tamu yang check out kedapatan dalam keadaan mabuk, sudah pasti kamar sangat kotor ditambah dengan bau kotoran yang menyengat bekas muntahan.
Ada lagi kamar jika dipakai untuk honeymoon sangat pasti segala perabot berpindah tempat. Aku sampai geleng kepala, entah apa gaya yang mereka lakukan hingga memporakporandakan seisi ruangan.
Sambil mengistirahatkan diriku sejenak, aku kini duduk di balik trolley seraya mengeluarkan ponselku.
Ada beberapa pesan masuk dan dengan segera aku membuka isi pesan tersebut.
Grup Alumni SMK
A: Jangan lupa ntar malam ngumpul
K: Aku gak janji
U: Alah sok sibuk
O: Reuni woy... dua tahun gak ngumpul juga
A: Tau tuh
__ADS_1
K: Nih si Ayu cuma di read doang, awas gak datang
Aku tersenyum membaca chat dari pesan grup di Whatsapp. Nanti sore setelah magrib acara reuni akan di gelar di salah satu rumah makan yang sudah di booking dari beberapa hari yang lalu.
Saat aku hendak membalas pesan itu, jari-jari yang semula mengetik pada layar pintarku terhenti seketika. Aku terkesiap sebab atasanku kini memperhatikanku, dia berdiri dengan satu siku bersandar pada sisi trolley.
Aku yang terkesiap seketika beranjak berdiri tanpa peduli ponsel yang tengah berada di tangan meluncur bebas jatuh ke lantai.
Dalam hati aku geram bercampur malu dihadapkan dengan situasi ini. Yang pertama geram karena kebiasaan burukku yang mencuri waktu bermain ponsel juga malu kepergok oleh atasanku.
"Ambil ponselmu," perintah Pak Ardi selaku Excecutive House Keeper Manager.
Aku pun mengangguk dan melakukan perintah dari Pak Ardi mengambil ponsel yang mendarat pada lantai. Dan astaga, mataku membelalak sebab kulihat layar ponselku retak.
"Ayu, dalam peraturan bekerja ponsel tak boleh dibawa ketika bekerja. Sudah ada tempat untuk menyimpannya. Pakai ponsel ketika waktunya istirahat atau keadaan darurat," ujar Pak Ardi mengingatkan dan aku pun mengangguk paham.
"Maaf Pak, saya tidak akan mengulanginya lagi," sahutku berbicara sesopan mungkin.
Memang peranturan satu tahun belakangan ini demikian adanya, yakni tepatnya setelah hotel ini naik ke level bintang empat. Karyawan tak di diperbolehkan membawa ponsel saat bekerja, harus di letakkan di loker milik karyawan itu masing-masing.
"Berhubung Saya disini, saya sekalian mau memberi pengumuman. Karyawan yang memiliki prestasi berkesempatan untuk mengikuti study lanjutan sebagai bahan dasar agar bisa naik ke jabatan lebih tinggi. Dan hotel Kartika juga berkesempatan, memberi dukungan yaitu beasiswa. Bila kamu berkenan, kamu bisa ikut seleksi dengan yang lain," jelas Pak Ardi.
__ADS_1
Aku yang mendengarkan dengan seksama kini mulai bersuara, "Itu artinya bila salah satu karyawan yang lulus seleksi akan bisa masuk ke jenjang pendidikan yakni kuliah. Benarkah begitu Pak?"
"Iya benar, biaya akan di tanggung dari pihak hotel."
"Lalu bagaimana dengan status karyawan, apa kami masih berhak bila ingin tetap bekerja?" tanyaku lagi.
"Tentu saja. Status akan tetap jadi pekerja tetapi tidak full jam kerjanya seperti karyawan normal lainnya. Tapi bila bisa mengatur jam kerja dengan jam belajar, boleh mengambil jam kerja penuh," ucap Pak Ardi.
"Kalau kamu berminat nanti siang langsung menuju kantor saya untuk isi formulir, tes akan diadakan dalam waktu minggu ini," sambungnya.
"Baik Pak, terimakasih atas informasinya," ucapku seraya tersenyum.
Pak Ardi mengangguk dan sebelum beranjak pergi beliau berujar memperingati, "Peraturan di buat bukan untuk dilanggar."
Akupun mengangguk mengiyakan seraya menahan senyuman. Senyum malu sebab disindir oleh atasan.
Kembali aku melihat ke arah ponselku yang ternyata beneran retak, sedih tapi setelah dengar informasi dari Pak Ardi tadi rasanya sedikit mengobati.
Karena ada kesempatan untuk mewujudkan satu impianku yakni untuk belajar kembali.
To Be Continue
__ADS_1
Novel ini akan aku gabungin ya sama Risalah Hati..... Kevin masak pada gak kenal sih??