Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 41


__ADS_3

Gak ada tempat yang kutuju selain Jakarta.


Begitu aku pergi dari rumah kontrakan aku langsung menuju stasiun membeli tiket kereta, hingga aku tiba kembali di tempat kost an pada saat malam harinya.


Sampai di depan kos dan turun dari motor ojek online yang kunaiki bersamaan dengan kepulangan Rico yang jelas-jelas tak ingin kutemui lebih dulu.


"Ayu kenapa cepat sampai, bukannya masih dua hari?" tanyanya setelah aku menyerahkan uang dan helm pada Pak ojol sebelum akhirnya pergi.


Aku hanya menggeleng, entah kata apa yang bisa aku keluarkan. Tak ada, aku tak bisa menjawab alasanku pulang secepat ini. Dan aku memilih mengabaikan pertanyaan Rico, melangkah menuju depan kamar kosku sambil sibuk merogoh kunci dari dalam tas.


Rico mencekal lenganku saat aku memasukan kunci dalam lubang gembok. Kuyakini dia tak akan tinggal diam dan tetap berusaha mencari jawaban. "Katakan padaku kenapa?"


"Aku pengen sendiri dulu," ucapku datar.

__ADS_1


"Ayu, kamu bisa ceritakan padaku dengan apa yang terjadi. Aku siap menjadi mendengar, apa pun itu."


"Ini semua karena kamu yang memaksaku untuk pulang. Harusnya aku tetap tinggal disini," kataku memaksa untuk menatapnya, dan aku menyalahkannya atas kesadaranku dalam beeucap.


Raut wajah Rico berubah datar, mempertajam tatapannya pada mukaku. "Apa yang terjadi?" tanyanya dengan raut serius.


Tangannya bergerak merambati pipiku yang kutahu masih nampak lebam bekas pukulan meski sudah lewat dari dua belas jam. Dengan cepat aku menepis tangan Rico.


Sebelum air mataku jatuh aku cepat-cepat memalingkan badan, memasukan kunci dalam lubang gembok dan berucap tanpa menoleh ke arah Rico dengan nada yang terdengar mohon, "Aku pengen sendiri dulu."


Tanpa menunggu responnya aku menguak pintu kemudian masuk untuk menguncinya kembali.


Berjalan gontai, meletakkan ransel ke sembarang tempat, beringsut ke sisi ranjang dan menangis dalam ruang gelap inilah yang aku lakukan. Menekuk siku menenggelamkan kepala demi meredam suara tangis yang meledak, hanya itu upaya yang kulakukan.

__ADS_1


Dalam batin aku berteriak ingin memiliki kehidupan normal layaknya orang di luaran sana. Siapa sih yang tak ingin di sayangi dan diperlakukan baik oleh orangtuanya, apalagi aku. Aku berharap memiliki seorang ayah seperti teman-temanku.


Ketika mereka menyebut nama ayah mereka selalu ada binar kebanggaan, tapi apalah aku yang selalu memupuk kebencian dan enggan untuk menatapnya. Bahkan satu atap bersama pun aku merasa tak sudi.


Aku kian larut dalam tangisan, entah berapa lama aku tak tahu. Malam yang gelap pun nyatanya telah terlewati berganti dengan terangnya sorot yang masuk melalui celah-celah jendela bersamaan dengan kelopak mataku yang mulai terbuka.


Seluruh tubuhku kian sakit saat aku mulai menggerakkannya. Perlahan kupaksakan untuk menggerakkan tubuhku sambil sesekali aku meringis akibat rasa kram yang muncul disertai kepala berdenyut pusing.


Sambil memegangi kepala dilirik jam pada dinding telah menunjukkan pukul setengah sembilan. Aku bangkit mencari keberadaan ponselku yang ternyata berada tak jauh dariku. Ada beberapa pesan yang muncul, salah satunya milik Rico.


Dia tak menanyakan apa pun seperti kemarin, hanya berpesan bahwa terdapat sarapan yang telah diletakkannya pada gagang pintu.


To be Continue

__ADS_1


__ADS_2