
"Bapak mohon sterilkan lebih dulu tangan dan pakaian Bapak," ujar seorang perawat kepada Akram sebab melihat masih ada noda darah menempel di tangan, lengan beserta pakaian yang dikenakan Akram.
Dalam keadaan masih diselimuti kalut Akram sampai tak memperhatikan kondisi dirinya. Kini dia mengangguk lalu bangkit dari kursi luar ruang ICU, beranjak menuju ke toilet yang tersedia di area rumah sakit.
Sebelum meletakkan tangannya pada kran air yang baru saja dihidupkan, Akram menatap sejenak telapak tangan yang di penuhi bekas darah milik Vina.
Menatap darah yang hendak mengering itu menjadikan napas Akram kian tersekat. Pikirannya masih dipenuhi rasa kalut. Ketakutan jelas kini membayanginya. Dia tahu sekarang Vina di ruang ICU tengah mendapat penanganan dari dokter.
Namun kondisi yang sejak dia menemukan hingga membawa Vina ke Rumah Sakit di rasanya kejadian tadi sangatlah parah. Vina dalam keadaan tak sadar meski dengan segala upaya dia mencoba melakukan tindakan agar Vina memberinya respon tapi tiada hasil apa-apa.
Akram kini menarik hembuskan napasnya mencoba tenang, lalu melanjutkan kegiatannya untuk membersihkan tangannya. Bahkan dipikirnya yang dia perlukan saat ini adalah mandi dan berganti pakaian bersih.
***
Hari ini merupakan hari yang Ayu tunggu-tunggu. Kelulusan dan perjuangan dalam belajar meraih gelar S1 telah dia dapatkan dengan hasil yang cukup memuaskan bagi dirinya, bahkan bisa dikatakan mampu membanggakan untuk keluarga dan orang terdekatnya.
Sebab Ayu merupakan satu dari sejumlah mahasiswa berprestasi di tahun ajaran yang baru saja dia lalui, maka tak ayal kini dirinya bahkan mendapat rekomendasi dari pihak kampus untuk melanjutkan S2-nya dengan program beasiswa.
Perasaan bahagia tentu kini dialami bagi Ayu tetapi tidak untuk Kevin setelah mengetahui Ayu mendapatkan rekomendasi program pendidikan S2 dari pihak kampus sebab bila Ayu mengikuti program itu, sudah bisa dia pastikan durasi waktu menunggunya untuk meminang Ayu akan semakin mengulur waktu.
"Mbak rasa memang kamu harus ambil beasiswa dari kampus, sayang banget kalau kamu melewatkannya," ujar Soraya yang sengaja menyindir Kevin.
Tapi Kevin hanya menanggapi dengan tatapan malas, berusaha tak memperdulikan. Sementara Ayu kini menatap Kevin sedikit merasa rasa bersalah.
Kakek sendiri tadinya sudah memberi ucapan selamat kepada Ayu atas prestasi yang dia raih dan menyerahkan keputusan kepada Ayu, Kakek mengatakan akan memberi dukungan dengan pilihan yang akan Ayu ambil.
Untuk itu kini Ayu memang harus membuat keputusan, mulai mendekat ke arah Kevin hendak berbicara berdua setelah pihak keluarganya memutuskan untuk kembali ke hotel yang telah di sewa. Dan rencananya nanti malam mereka akan berkumpul untuk makan malam bersama sebagai wujud perayaan kelulusan untuk Ayu.
"Anterin pulang," ujar Ayu yang mendekat kepada Kevin.
Tak menyahuti ucapan Ayu, kini Kevin justru langsung menarik lengan Ayu dan membawanya ke tempat parkir mobil. Mobil yang telah beberapa hari lalu dia sewa untuk sementara dia pakai selama berada di Singapura.
__ADS_1
"Kok gak dibukain pintu mobilnya? Bapak marah?" tanya Ayu saat Kevin melepas tangannya dan hendak memutar ke sisi mobil menuju kursi kemudi.
"Sekali menyebut kata Bapak, aku beri hukumanmu disini," ancam Kevin dengan masih menampilkan wajah datar.
Ayu makin menyipitkan matanya kala Kevin memutar langkah melanjutkan niatnya ke arah sisi mobil. Dengan menghentakkan kali kesal dan yakin Kevin tengah marah kepadanya, Ayu pun berteriak memanggil Kevin dengan sebutan, "Bapak marah pada saya!"
Kevin hanya menatap sekilas ke arah Ayu lalu tangannya bergerak membuka pintu mobil dan langsung masuk untuk duduk pada jok kursi kemudi, tak mempedulikan Ayu.
Ayu yang mendapat perlakuan seperti itu sontak melongo, tapi hanya sesaat sebab Kevin kini menurunkan kaca jendela mobil dan memberi perintah dengan ucapan yang begitu datar agar Ayu segera mengikutinya masuk ke dalam mobil.
"Sampai kapan berdiri disitu, Ayo masuk!" ujarnya yang kemudian langsung menutup kembali jendela kaca mobil.
Ayu lagi-lagi dibuat tercengang akan sikap Kevin, tak menyangka jika kekasihnya itu tengah marah. Dan dia menganggap sikap Kevin benar-benar kekanak-kanakan. Mendengus kesal akhirnya Ayu pun menyusul Kevin, masuk mobil dan usai mendudukan diri di kursi samping kemudi, Ayu dengan keras menutup pintu mobil dengan cara membantingnya.
Atas perlakuan Ayu barusan kini justru membuat Kevin mengeram. "Kamu mau bikin mobil pinjaman ini rusak!"
"Biarin. Rusak pun aku kira gak akan masalah. Pacarku kan banyak duit," ucap Ayu yang membanggakan diri.
Mendesis. Ayu pun sontak menimpali, "Dasar pelit."
"Apa kamu bilang?" tanya Kevin sebab ucapan Ayu tadi tak begitu jelas terdengar di telinganya.
Ayu menipiskan bibir, dengan wajah memberengut tangannya bersidekap dada kemudian mendengus keras. "Aku bilang tadi pacarku pelit!" ujar Ayu penuh penekanan.
Tapi Kevin kini membalasnya dengan memutar bola matanya kesal. "Hey... Apa kamu gak sadar kalau aku ini sedang marah," ucap Kevin yang kini mengakui.
Mendapatkan pengakuan itu Ayu malah tak bisa menahan senyumnya. Tapi dia berusaha mempertahankan ekspresi cemberutnya.
"Tapi kenapa justru sekarang kamu yang kelihatan malah marahin aku," protes Kevin layaknya frustasi. "Udah dong jangan pasang wajah cemberut begitu," timpal Kevin mengalah tak ingin melihat wajah kekasihnya yang kesal.
Melihat wajah Kevin yang berubah penuh dengan penyesalan akhirnya Ayu tak kuasa menahan tawanya, yang kini sontak dibalas dengan Kevin yang menampilkan tatapan malas.
__ADS_1
"Lagian kenapa marah?" tanya Ayu saat sudah menghentikan tawanya menatap lekat wajah Kevin yang masih terlihat masam.
"Setelah ini kita pulang dan menikah."
"Kalau misalkan aku lanjut S2, kan ada program beasiswa. Gratis," sahut Ayu cepat.
Mendengar penuturan Ayu Kevin menghela, lalu mengangguk. "Boleh."
"Benar kah?" sahut Ayu antusias.
"Boleh, tapi setelah kita menikah dan beri aku minimal tiga anak, kamu boleh melanjutkan S2," tegas Kevin yang kemudian menyalakan mobilnya.
Ayu terkejut dan sontak membalas ucapan Kevin dengan kepalan tinju yang dilayangkan ke arah lengan Kevin.
Mendesis dan meringis berpura-pura sakit akan perlakuan Ayu, Kevin sontak berujar, "Harusnya kamu bilang setuju."
"Apa!" pekik Ayu yang hendak meninju lagi lengan Kevin tapi keburu tangannya dicekal lalu di tarik, hingga dibalasnya Ayu dengan pelukan oleh Kevin.
"Aku belum memberimu hadiah," ujar Kevin saat mereka beradu pandang.
"Apa?" sahut Ayu menanyakan lebih jelas hadiah apa yang hendak Kevin berikan.
"Ini salah satunya," ujar Kevin yang mengecup kening Ayu dalam, hingga Ayu memejamkan matanya.
"Lalu ini," gumam Kevin menempelkan ujung hidungnya pada milik Ayu.
"Kemudian ini," gumam Kevin lagi dengan sorot mata yang sudah tertuju pada belah bibir Ayu.
To be Continue
Part ini masih berlanjut, jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaaaa
__ADS_1