
Sejenak Akram melepas kepenatannya. Lebih dari tiga jam dirinya bergelut dengan berkas-berkas yang bertumpuk dan berserakan di mejanya. Mulai dari membacanya satu persatu, sekilas sampai mengecek data-data statistik perkembangan hotel Wijaya. Belum lagi dengan laporan dari hotel cabang yang berada di luar kota.
Dengan menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi, jemari tangannya bergerak memijit pangkal hidungnya demi menetralisir rasa pegal usai dirinya yang menatap lama tulisan-tulisan pada lembar berkas juga layar komputer. Satu tangannya kali ini bergerak mengambil cangkir kopi yang berada pada sisi meja. Saat hendak menyesapnya, dirinya justru mengurungkan diri sebab kopi yang berada dalam cangkir telah tandas.
Dirinya kemudian beranjak membawa cangkir tersebut keluar dari ruangan menuju pantry. Sebenarnya dengan memanggil asistennya yang selaku sekertaris pribadi menjadikan perkerjaannya itu lebih mudah, tapi untuk kali ini Akram ingin sedikit menggerakkan tubuhnya guna meregangkan persendiannya, setelah lama duduk di kursi kerjanya yang cukup membuat sekujur tubuhnya merasa pegal.
Sapaan dari beberapa karyawan saat dia menuju pantry sudah menjadi hal yang biasa. Tak banyak karyawan wanita yang kadang curi pandang padanya. Statusnya yang masih lajang dengan catatan pria matang tapi tak banyak tingkah menjadikannya lelaki idaman disetiap kalangan wanita disana, ditambah dengan jabatan yang dia miliki.
Ketika membuka pintu pantry, gerak dan langkah Akram sengaja diperpelan. Sorot matanya tertuju pada sudut meja. Dia menangkap sosok yang dia kenali tengah menyandarkan kepalanya di atas meja dengan mata terpejam. Sungguh nampak tertidur pulas, untuk itu Akram mengerjakan keperluannya di ruangan itu dengan sangat hati-hati, berusaha tak menimbulkan suara yang mampu mengganggu ketenangan orang lain.
__ADS_1
Niatannya tadi hanya membuat kopi, namun kali ini Akram justru duduk berdiam diri sambil sesekali menyesapi kopinya dengan mata memandangi raut wajah Ayu yang nampak tak terganggu akan kehadirannya saking lelapnya.
"Berapa lama kamu tidur semalam?" gumam Akram dengan gerak tangan yang tanpa dia sadari bergerak mengambil sejumput rambut yang menutupi wajah Ayu.
Hingga kopi yang ada pada cangkir Akram tandas, Ayu masih saja memejamkan mata. Sedangkan jarum jam di pergelangan tangannya telah menunjukkan pukul setengah dua belas siang.
"Sebentar lagi makan siang, sampai kapan kamu tetap memejamkan mata?" gumam Akram tapi juga tak ada niatan untuk membangunkan Ayu.
Ayu terdiam sejenak seakan mengumpulkan semua energi yang baru saja terisi. Seperti orang linglung yang tanpa sadar dirinya telah tertidur di tempat kerja, padahal niatannya tadi adalah duduk melepas lelah usai membersihkan beberapa ruangan kantor.
__ADS_1
Namun suara kran air membuat dirinya menoleh ke belakang dengan sangat hati-hati. Tubuh menjulang tinggi yang membelakanginya membuat dia benar-benar kaget, bersamaan dengan itu pintu pantry terbuka menampilkan wajah yang diliputi dengan amarah.
Ayu pun sontak bangkit berdiri siap menerima semburan amarah dari rekan kerjanya tersebut, sebab dia mengingat telah melalaikan tugas yang tadi sempat diberikan padanya dan tanpa sadar dia malah tertidur.
"Kamu gak denger perintah saya tadi?"
Entah kenapa ucapan yang barusan terdengar di telinga Ayu melemah, tak seperti biasanya. Ayu pun juga tak segera menyahuti, dirinya menyadari akan kesalahannya. Untuk itu dia menerima segala konsekuensi dari Kanaya, termasuk bila harus mendengar serentetan omelan seperti hari-hari biasanya. Tapi kali ini Ayu sedikit merasakan keanehan sebab rekannya itu tak memperpanjang masalah.
Dengan menghela dan diikuti oleh Ayu untuk meletakkan alat kebersihannya, Kanaya berujar dengan nada berbisik, "Memang sejak kapan Pak Akram ada disini?"
__ADS_1
"Pak Akram?" gumam Ayu bingung. Sontak setelah dirinya menoleh ke sekitar ruangan dan menemukan orang yang dimaksud, jantungnya menjadi berdebar tak terkendali.