
Ayu telah memikirkan segala konsekuensi yang akan dia ambil setelah hari kelulusan wisudanya nanti. Lebih tepatnya satu bulan lagi.
Malam ini dia tengah berada di acara makan malam keluarga besar dari Kakeknya dan dia baru tahu saat Soraya memberi kabar bahwa keluarga dari Om-nya juga turut hadir, dan tentu Ayu terkejut sebab Kevin pasti ikut.
Untuk itu Ayu bergegas berpamit pergi ke kamarnya, mengambil ponsel untuk menanyakan apakah Kevin akan datang. Namun belum dirinya selesai mengetikan pesan pintu kamarnya telah terketuk.
"Siapa?" sahut Ayu meletakkan ponselnya, mendapati ada Zahra yang masuk ke kamarnya.
Zahra serta merta berlari ke arah Ayu, menubruk Ayu untuk dipeluk. Tentu Ayu sendiri semakin mengetatkan pelukannya, rindu benar dia rasakan.
Baru tadi siang tiba di rumah Kakek. Ijin cuti yang hanya dia ambil selama dua hari guna mengantar undangan wisuda bulan depan nanti. Sebenarnya Ayu bisa memberitahukan undangan itu lewat telpon, tapi entah mengapa hati Ayu terdorong ingin mengantarkannya secara langsung kepada Kakeknya.
Harapan dan kerja kerasnya selama menuntut ilmu di luar negeri akan segera usai dan wujud apresiasi dari hasil belajarnya Ayu ingin agar Kakeknya lah orang pertama yang berhak menerimanya. Mewakili sebagai salah satu dari keluarga juga wali atas dirinya.
Zahra yang dalam dekapan Ayu kini terisak. Begitu pula dengan Ayu yang sudah benar-benar rindu kepada adiknya.
"Zahra kangen sama Mbak?" tanya Ayu dengan suara parau dan tentu anak itu sekarang mengangguk.
Usia Zahra kini hampir menginjak sepuluh tahun. Sesuai dengan hasil pemeriksaan adiknya mengidap Asperger Syndrome. Ini lebih mengarah pada ekspresi dan respon anak yang cenderung pasif terhadap orang lain, tapi respon akan berbeda jika anak itu mendapati sesuatu yang menarik bagi dirinya juga jika ada orang-orang di sekitar yang dikenalinya.
Dari banyaknya terapi dan tidakkan terbaik dokter juga psikiater kini kondisi Zahra semakin memiliki banyak kemajuan. Zahra mampu berbahasa dengan baik juga sekarang sedikit demi sedikit dilatih agar anak itu mampu bersosialisasi dengan lingkungan agar nantinya bisa memunculkan rasa empati dari dalam dirinya untuk lebih berinteraksi dengan orang lain.
__ADS_1
Ayu menarik diri untuk menangkup wajah adiknya kemudian turun lagi mengamati penampilan anak itu. Hatinya terenyuh, dalan hati dia juga memanjatkan syukur sebab keadaan adiknya jauh lebih baik dari yang sebelumnya Ayu tinggal. Tidak lagi lusuh namun adiknya sekarang telah mendapatkan perawatan dengan baik, tentu semua itu diperoleh dari Kakeknya.
"Zahra sayang Kakek?" ujar Ayu mengusap wajah adiknya.
Sementara Zahra langsung mengangguki ucapan kakaknya. "Ara uga ayang Mba... " ucap Zahra yang meski dengan kata-kata tak sempurna, tapi Ayu begitu paham dengan kalimat-kalimat itu.
Kembali Ayu merentangkan tangannya dengan Zahra yang bersiap kembali memeluk kakaknya. "Zahra bahagiakan tinggal disini? Maaf kan Mbak ya, sudah tiga tahun Mbak gak sama-sama Zahra. Pasti banyak hal yang sulit Zahra lalui, tapi Mbak sangat yakin kalau Zahra anak yang kuat. Makanya sekarang Mbak lihat Zahra sudah tumbuh semakin besar, semakin pintar dan cantik," ujar Ayu dengan Zahra yang makin mengetatkan pelukan.
Anak itu semakin menangis. Menangis dalam diam yang seolah mengadukan bahwa dia sangat merindukan saudara. Benar apa yang dikatakan oleh Ayu, anak itu memang mengalami kesulitan-kesulitan selama ditinggalkan oleh saudaranya. Karena hidup di dalam lingkungan keluarga baru dan tempat belajar baru bagi Zahra memang sebuah kesulitan.
"Disini rupanya?" ucap Soraya yang langsung masuk ke dalam kamar Ayu sebab pintu kamar tidak tertutup.
"Mbak... " sahut Ayu yang lalu melepaskan pelukan Zahra kemudian mendudukkan adiknya di sebelahnya pada sisi ranjang.
"Kami melepas rindu," sahut Ayu menampilkan senyum.
Soraya pun mengambil duduk di samping Zahra. "Kalian sudah sama-sama berjuang. Melewati tiga tahun dan jarang sekali bertemu."
"Maaf telah merepotkan Mbak sekeluarga, Zahra disini pasti..." sahut Ayu cepat.
Serta merta Soraya menggeleng. "Mbak ngerasa gak terepotkan. Mbak seneng ada Zahra yang tinggal disini. Mbak sudah anggap Zahra seperti Lyra. Bahkan Mbak ingin Zahra untuk tetap tinggal disini, nanti dan bila mungkin suatu saat kamu menikah— Mbak minta Zahra buat tetap tinggal dengan Mbak," ujar Soraya tulus mengelus kepala Zahra.
__ADS_1
Ayu tak bisa langsung menanggapi ucapan sepupu iparnya. Bagaimana pun Zahra memang tanggungjawab, tapi mungkin semua Ayu juga akan serahkan pada Zahra. Biar ke depannya anak itu bisa memilih, sebagaimana nyamannya anak itu tinggal.
"Ma—Papa cari..." ucap Lyra yang tiba-tiba muncul dari arah pintu.
Begitu juga dengan Rudi yang tak berselang datang. "Makan malam akan segera dimulai," ungkapnya.
"Om Bramantyo dan Tante Cindy sudah datang?" tanya Soraya menatap ke arah pintu tempat suaminya berdiri.
Belum suaminya menjawab Lyra sudah menarik tangan Soraya. "Ayo Ma Kakek di bawah," ujar bocah kecil itu.
"Kalau gitu ajak juga Tante Ayu dan Kak Zahra," sahut Soraya memberi perintah pada putrinya.
Hingga Kura melepas cekalan tangannya pada Mamanya dan beralih menggandeng Zahra untuk keluar kamar. "Ayo Kak, kita sama-sama," ujarnya.
Soraya pun langsung menoleh pada Ayu. "Kamu lihat sendiri kan, gimana akrabnya mereka," ucap Soraya menunjuk ke arah putrinya dan Zahra.
Sudut bibir Ayu pun melengkung sempurna kemudian mengangguki ucapan Soraya.
"Ya sudah kalau begitu kita turun," ajak Soraya dan diiyakan oleh Ayu yang langsung beranjak meninggalkan kamar.
Dan saat menuruni anak tangga dari arah ruang tamu telah terlihat sosok lelaki yang tengah menjuruskan tatapannya pada Ayu, hingga baru dia mengingat bahwa pesan yang diketik pada ponselnya belum terkirim pada lelaki itu.
__ADS_1
To be Continue
Satu episode lagiiiiiiiiiiiii