
Tiba di stasiun matahari masih belum muncul. Hatiku bimbang untuk melangkah keluar dari area stasiun, jadi kuputuskan untuk mengambil tempat duduk pada ruang tunggu. Karena kupikir ini langkah aman untuk menghindari sesuatu yang tidak-tidak di luar sana.
Hampir dua jam menunggu hingga langit berubah terang. Aku pun melanjutkan langkahku keluar dari area stasiun menuju tempat pemberhentian bus.
Tak lama waktu yang kutempuh hingga sampai tempat kontrakan. Wajahku berseri kala mendapat sapaan dari para tetangga yang mengenalku, mereka para penghuni tempat ini.
Nampak pintu kamar kontrakan yang Ibu dan adikku tinggali setengah terbuka dan segera aku masuk ke dalam. Namun aku tersentak kala telah sampai di bibir pintu. Amarahku serta merta tersulut menatap orang yang tak pernah aku harapkan hadir kembali dalam kehidupanku sedang tidur tengkurap dengan kepala menghadapku, matanya masih terpejam menikmati tidur. Sementara di dalam ruangan tak terdapat Ibu juga adikku.
Aku mendengus dan serta merta membuka pintu lebar dengan sengaja membantingnya ke arah dinding. Bunyi bantingan keras itu sontak membuat Bapakku terperanjat bangun.
Sama halnya denganku wajahnya merah padam diselimuti amarah. "Dasar anak sialan!" umpatnya beranjak bangun dengan gerak cepat dia menuju ke arahku melayangkan satu pukulan yang sialnya aku tak bisa menghindar.
Wajahku memaling ke kiri saat telapak tangan Bapak mendarat dengan keras. Dan setelah beberapa detik sisanya rasa perih merambati di sekitaran pipiku bersamaan dengan air mataku yang jatuh.
__ADS_1
"Itu setimpal dengan kekurangajaranmu!" Desisnya yang kemudian melangkah menuju keluar pintu.
"Dan Bapak memang pantas buat dapatin kekurangajaran dari Ayu. Karena sejauh ini aku gak pernah berharap buat Bapak kembali lagi dari kehidupan Kami," geramku yang membuat Bapak menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatapku.
Dia tersenyum mengejek. "Kamu mengancam Bapakmu ini. Dasar anak tak tahu diuntung!"
Tangannya kembali melayang hendak memberi tamparan padaku tapi terhalang sebab Ibu yang baru datang dengan cepat menahan lengan Bapak.
"Kamu tanyakan saja pada anak tak diuntungmu ini," desis Bapak bersamaan menyentak lengan Ibu. Dirinya kemudian pergi dengan melangkah lebar meninggalkan tempat ini.
Aku masih menatap punggungnya dengan dada yang naik turun. Ibu mendekat dan meraih pundakku berusaha menenangkanku dan menuntunku untuk duduk pada sisi kasur.
"Kenapa jadi seperti ini?" Ibu bertanya dengan suara getir, meraba dan memegangi pipiku bekas tamparan tadi yang masih terasa perih. Tapi nyatanya rasa perih itu tak sebanding dengan hatiku.
__ADS_1
"Aku benar-benar kecewa pada Ibu," lirihku menatap kosong apa yang ada di hadapanku.
Ibu makin menangis dan berusaha memelukku namun segera kutepis. "Buat apa lelaki seperti itu dipertahankan?" ucapku kesal bercampur kecewa.
"Inilah yang Ayu takutkan, bila Ayu pergi Bapak pasti bakal kembali. Buat numpang hidup, nambah masalah dan juga nyusahin Ibu. Apalagi yang Ibu harapin dari laki-laki seperti itu, lebih baik Ibu cerai saja dengan—"
"Ayu!" suara Ibu meninggi membuat aku tak percaya bahwa Ibu masih membelanya.
"Baik kalau begitu, Ibu pilih pertahanin Bapak tinggal disini dan itu artinya Ayu yang gak akan pernah menginjakkan kaki lagi di tempat ini," ucapku dengan pikiran yang sudah kalut akan kekecewaan juga dipenuhi emosi.
Akupun segera bangkit lalu memilih untuk cepat pergi dari tempat ini, tak mau peduli dengan Ibu yang menangisi.
To be Continue
__ADS_1