
Aku melongokan kepalaku pada pintu yang baru saja kubuka, tentunya setelah aku berucap permisi. Mataku kini sejenak terpaku pada sosok yang tengah fokus menatap ke arah laptop, dan tanpa menatap ke arahku orang itu mempersilahkan aku duduk di hadapannya.
Aku menarik nafasku dalam setelah mendudukan diri, berusaha aku menjaga sikapku yakni duduk tegap dengan meletakkan kedua tanganku diatas pangguan. Jujur saja aku kali ini merasa begitu gugup, sebab aku berhadapan langsung dengan salah satu pihak management hotel Kartika, aku mengetahui informasi itu dari salah satu temanku yang sudah di wawancara.
Menilik dari penampilannya memang sangat terlihat perfeksionis, seperti halnya pada tiap teori yang diajarkan oleh guru bahwa tiap karyawan hotel harus memiliki standar grooming. Hal itu bertujuan menjaga kesan bersih dan rapi dimata tamu dan hal lainnya.
Dan terlihat jelas gambaran lelaki di hadapanku ini, wajahnya terlihat sangat bersih hingga tak ada jenggot dan kumis. Rambut tersisir rapi memberi kesan manly.
"Hkmm, kenapa lekat memandangi saya." Suara deheman itu kini membuat diriku sedikit terperanjat. Matanya kini menatapku, sekilas kemudian dia mulai bersuara, "Apa karena saya tampan?" ucapnya terdengar percaya diri.
Suaraku tercekat di tenggorokan di iringi dengan mata mengerjap. Ada apa denganku, pikirku. Wawancara belum dimulai saja, aku sudah berbuat kesalahan, tapi salahkan saja otak dan mataku yang bekerja menyimpulkan sebuah teori yang menghubungkannya tepat pada objek didepan mata.
"Di lingkup perhotelan, ada berapa pembagian management yang kamu ketahui?"
Aku sedikit tersentak, tanpa berbasa-basi menanyakan nama dan lain sebagainya orang dihadapanku kini mengajukan pertanyaan inti. Akupun segera menormalkan keterkejutanku dan mulai menjawab, "Ada beberapa yakni Front office department tugasnya berhubungan langsung dengan tamu, menerima pemesanan kamar, pendaftaran maupun memberi informasi yang diinginkan tamu. Dan dalam departemen ini masih dibagi lagi menjadi beberapa bagian. Yang kedua Food and Baverage department menangani hal-hal yang berkaitan dengan mengolah makanan dan minuman. Yang ketiga adalah House keeping department yang memiliki tugas dan tanggung jawab atas seluruh kebersihan hotel baik dalam ruangan maupun publik area. Department ini pun masih dibagi menjadi beberapa bagian—,"
"Cukup!" perintahnya seraya menaikkan satu tangan. "Di department mana yang kamu minati?" ucapnya lagi.
Aku terkejut dan spontan aku berujar, "Bapak langsung terima saya?"
Alis orang dihadapanku mengernyit. "Saya tidak bilang begitu," ucapnya cepat-cepat.
"Saya hanya menanyakan, sekolah dikejuruan perhotelan ini departemen mana yang menjadi minat kamu, bukan aku menawarkan posisi yang kamu inginkan?" ucapnya lagi memperjelas kalimat.
__ADS_1
Aku sejenak terdiam, memikirkan bahwa sebenarnya aku masuk dalam jurusan ini juga karena biaya. Awal mula aku mendaftar di sekolah ini, aku hanya mendengar dari alumni bahwa di jurusan ini tak begitu keluar uang banyak bila dibandingkan dengan jurusan lain. Dan hal yang aku minati sebenarnya pada jurusan Food and beverage namun banyaknya praktek adalah bagian dari kendala.
Terdengar ketukan jari pada meja, akupun kemudian menjawab, "Food and baverage , saya cenderung disana."
"Kenapa?" katanya meminta alasan padaku.
"Di department FB saya akan banyak bertemu dengan tamu, seperti contoh serving makanan. Dan banyak dari teman saya mengatakan bila banyak bertemu dengan tamu kita akan mendapat tips," ujarku terlalu menggebu, hingga tak sadar aku mengatakan tujuanku.
Lelaki dihadapanku tergelak, dengan senyum yang tersembunyi diwajahnya dia tampak mengangguk. "Apa kamu tak tahu di bidang yang lain juga ada, justru intensitas bertemu dengan tamu semakin banyak," ucapnya dan membuatku makin penasaran.
"Roomboy, bellboy, porter contohnya," katanya lagi. "Dan sekarang kamu bisa keluar," sambungnya mempersilahkan aku pergi.
Aku melongo tak beranjak dari dudukku. "Apa itu artinya Bapak menolakku seperti yang lainnya?" tanyaku butuh penjelasan.
"Lalu, Bapak menolak saya karena ucapan saya tadi, maaf bila perkataan saya terkesan naif dengan menyebutkan kata tips," ucapku setengah menyesali perkataanku yang tadi. Tapi memang kadang aku dan teman-teman sering menyebutkan dan membicarakan hal itu.
Terdengar helaan nafasnya kemudian lelaki di hadapanku kini menatapku. "Seberapa yakin kamu diterima sebagai siswa magang di hotel Kartika?"
"Sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen, sisanya terserah Bapak," ucapku.
"Ok kamu keluar," ucapnya mempersilahkan aku pergi dengan kalimat yang terdengar halus.
Akupun beranjak dari dudukku menuju kearah pintu, dan sebelum aku menarik handle pintu aku membalikkan badanku dan berkata, "Pak, apa Bapak gak menyadari pilihan Bapak hanya sedikit, satu persen saja bahkan tak ada. Ingat loh Pak, sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen itu adalah keyakinan saya," ucapku dengan setengah menahan rasa gugupku, kemudian aku cepat-cepat berlalu tanpa mau melihat dan mendengar dia menanggapiku.
__ADS_1
"Gimana wawancaranya, kenapa gemetaran?" ucap Putri menghadangku dia lekat mengamatiku.
"Karena ganteng ya Mas- Masnya yang wawancara tadi?" celetuk Sarah menyahuti pertanyaan Putri.
"Kayaknya aku gak di terima deh," tebakku dengan suara lesu.
"Kenapa gitu?" tanya teman yang lain ingin tahu.
"Masak pas wawancara aku keceplosan sama kata-kata tips," ucapku sambil merutuki perkataanku tadi.
"Ha ha ha... habisnya mata duitan," celetuk teman-temanku sambil menertawakan aku.
"Jadi orang polos banget!" ucap Sandy yang tiba-tiba datang meraup wajahku.
Aku yang menyesali tingkah dan sikapku tadi pun tak mengindahkan ledekan dari teman-temanku. "Ini kan gara-gara kalian juga, yang selalu cerita dan iming-imingin duit tips pada saat magang nanti," ujarku sambil menatap kesal pada mereka.
"Ya udah deh kalau gak di terima magang disana, kan masih bisa ikut magang di tempat lain. Lagi pula ada hotel yang level bintangnya tinggi dari Hotel Kartika," ucap Sandy mencoba menghibur.
Iya juga sih, batinku. Lagi pula ini juga masih dalam gelombang pertama pembukaan magang, dua minggu lagi masih akan dibuka dan berlanjut hingga dua bulan mendatang. Tapi menjadi bagian dari gelombang pertama bagiku adalah suatu keutamaan. Lebih cepat dikerjakan akan lebih baik.
Kami pun kini melanjutkan mengikuti jam pelajaran hingga siang menjelang dan jam sekolah usai, beberapa anak dari kelas lain ada yang bersuara menyampaikan kabar jikalau daftar anak magang yang diterima di Hotel Kartika tercatat di kertas yang tertempel pada papan mading. Segera aku dan temanku yang lain berhambur kesana, saling berdesakan melihat apa nama-nama kami tertera disana.
Aku yang sudah tak ada harapan dan tak yakin justru kini di buat terkejut, sebab namaku Ayu Andhini tengah berada di urutan teratas sebagai salah satu siswa yang beruntung diterima magang di Hotel Kartika.
__ADS_1
To Be Continue