Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 55


__ADS_3

"Kamu pasti bisa melewatinya," ucap Mbak Vina berusaha menenangkanku, berulang kali dia menepuk-nepuk punggungku.


"Mbak sebenarnya ada solusi buat kamu, dan kamu bisa memikirkannya lebih dulu, cocok gaknya."


Segera aku menarik diri, mengusap air mataku. Menatapnya lekat. "Solusi apa Mbak?" tanyaku penuh minat.


"Di Bar." Terdengar agak ragu ketika Mbak Vina dalam mengungkapkannya.


Aku terdiam tak memunculkan reaksi apapun, karena Mbak Vina memang akan melanjutkan ucapnya. "Disana ada pekerjaan yang lebih menguntungkan, maksud aku untuk menjadi seorang pengantar minuman pada para pelanggan. Yang kudengar dari beberapa orang waitress yang aku kenal bayarannya cukup tinggi dan hanya dilakukan beberapa jam saja," jelasnya.


"Aisst... jangan menatapku serius begitu," sambungan lagi dengan menepiskan tangannya ke arah depan wajahku. "Bukan aku bermaksud buruk. Pekerjaannya hanyalah mengantarkan minuman, membersihkan meja tamu. Jangan dipikir aku mengajakmu untuk terjerumus dalam pekerjaanku. Asal kamu tahu, aku mengakui jalan hidup yang kupilih salah. Dan aku tak kan mengajak orang lain melakukan hal yang sama," jelasnya lagi dan aku mengangguki.

__ADS_1


"Lalu kenapa Mbak memilih jalan pekerjaan yang seperti itu?" Entah keberanian mana aku sampai mengeluarkan kata-kata ini.


"Itu udah jadi pilihanku," sahutnya lugas.


"Dan pasti ada sebab?" Aku tahu pertanyaanku ini terlalu mengusik, tapi itu adalah pertanyaan yang selama ini merongrong pada pikiranku. Apa yang mendorong Mbak Vina terjerumus dalam pekerjaan yang bisa kusebut sangat hina, apa mungkin sebabnya seperti aku yang terhimpit masalah uang?


"Aku sudah terlanjur kotor. Dan gimana lagi mau bisa hidup enak, tanpa beban," sahutnya yang begitu klise didengar di telinga. Tapi selesai berucap dirinya justru tersenyum kecut. Kepalanya mendongak dengan sorot mata menerawang menatap langit-langit ruangan.


"Kamu tahu—," katanya yang kali ini menatapku, tapi aku tetap terdiam balas menatap sorot matanya yang menampakan kesedihan yang dia pendam begitu lama. Dan baru kali ini aku melihatnya. "Setelah aku pergi dari lelaki itu, aku dinyatakan hamil."


Air mata Mbak Vina seketika luruh. "Tapi aku gak ingin kembali pada lelaki itu—"

__ADS_1


"Kenapa, lalu anak Mbak dimana?" tanyaku serta merta karena telah nampak raut sesal, kekecewaan, kebencian juga sedih pada sorot matanya.


Mbak Vina memejamkan matanya bersamaan dengan menarik napasnya dalam berusaha menormalkan dan menguasai dirinya, lalu beruntungnya dia mau melanjutkan ucapnya, "Awalnya aku ingin membesarkannya sendirian, dengan segenap kasih sayang yang kupunya, juga aku berusaha bekerja untuk bertahan hidup. Tapi gak ada yang mudah, aku mulai menabung untuk mempersiapkan segala keperluan untuk anak dalam kandunganku dengan bekerja keras. Tapi itu tenyata berdampak bagi anak yang kukandung dan aku baru mengetahuinya sesaat dia lahir."


Mbak Vina mulai terisak dengan air mata yang tak bisa dibendung. Dengan terbata dia berucap, "Bayi itu hanya mampu bertahan beberapa hari, ada kelainan sejak saat dia di dalam kandungan. Dan disaat itulah, aku merasa menjadi orang yang tak berguna. Mengingatkan kejadian awal hingga sampai pada anakku—darah dagingku masuk dalam liang lahat. Bersamaan dengan itu hidupku layaknya sudah tak memiliki arti," jelas Mbak Vina tak bisa lagi meredam tangisnya.


Aku hendak merangkul Mbak Vina, tapi dia dengan cepat menepisku. "Dan kenapa aku sampai terjebak di dunia yang orang lain anggap hina, apa kamu tahu?" ucapnya dengan mengusap kasar air mata di pipinya, senyum tercetak miring di sudut bibirnya.


"Hidup yang sedang kamu jalani sama sepertiku, dulu. Susah makan, bahkan untuk dapat tempat tinggal saja rasanya sulit. Bahkan kamu tahu, aku sampai kehilangan anakku. Dan bila pemikiranmu terus saja lurus, apa kamu ingin, selamanya adikmu akan menjadi korban dalam lingkungannya. Dengan keadaan hidupmu yang terus-terus saja pada titik susah?" ucap Mbak Vina yang seolah menohokku.


Apa Ayu akan mengikuti jejak Mbak Vina, ikuti saja ya...

__ADS_1


__ADS_2