
"Kok sampai jam segini baru pulang?"
Saat setelah Ayu sampai rumah dan meletakkan barang-barangnya di dalam kamar yang di khususkan untuknya, Soraya datang menghampirinya.
"Iya Mbak, maaf tadi diajak ngobrol teman sebentar," sahut Ayu menunjukkan raut wajah sungkan, tak enak hati sebab sudah pasti keluarga di rumah ini menunggunya.
Soraya pun mengangguk maklum. "Menata barang-barangnya nanti saja, pasti kamu belum makan malam kan?"
Ayu pun mengangguki dengan gerak samar, dan segera Soraya mengajak Ayu agar mengikutinya keluar dari kamar menuju dapur.
Sengaja Soraya tadi meminta agar asisten tumah tangganya tak membereskan dulu makanan yang masih di atas meja, itu dia lakukan untuk Ayu.
"Anggap seperti rumah kamu sendiri. Karena sekarang kamu tinggal disini, bagian dari keluarga Kakek. Jangan sungkan, kalau ada apa-apa bisa minta bantuan Mbak juga ada beberapa asisten rumah tangga disini. Sekarang makan lah," ujar Soraya yang mempersilahkan pada Ayu untuk mengambil duduk di kursi makan.
Soraya berniat untuk menemani Ayu sebentar juga ingin mengobrol, tapi mendengar tangisan putrinya dari arah kamar, dia pun segera beranjak dan berpamit kepada Ayu.
"Kamu teruskan makannya ya, Mbak tinggal ke kamar dulu. Kalau Zahra setelah makan malam tadi sudah langsung menuju kamarnya untuk belajar dan ditemani salah satu asisten rumah tangga disini. Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk ketuk kamar Mbak," ujar Soraya yang diangguki Ayu kemudian berlalu menuju kamarnya.
Ayu menikmati makan malamnya dalam kesendirian. Hingga usai dan saat dirinya beranjak untuk mencuci peralatan makan yang kotor, ada dua asisten rumah tangga yang muncul termasuk dengan Bik Sum.
"Sudah Neng, biar Bibik yang kerjakan saja," sela Bik Sum kala Ayu telah menghidupkan kran untuk mencuci piring.
__ADS_1
Tapi Ayu menggeleng, bersikukuh untuk menyelesaikan kegiatannya. "Gak apa-apa Bik, ini hanya sedikit. Lagian tangan Ayu sudah terlanjur terkena busa," sahut Ayu sambil menunjukkan tangannya pada Bik Sum.
"Biasanya kan Bibik yang selalu cuci-cuci piring disini."
"Dan hari ini tak seperti biasanya, karena ada Ayu disini," sahut Ayu dengan gerakan gesit menempatkan peralatan bersih yang baru saja dia cuci pada tempat pengeringan. "Tuh selesai kan," sambung Ayu tersenyum simpul dan menoleh pada Bik Sum.
Sementara beberapa asisten lain tengah membersihkan meja makan dan sisa makanan yang masih untuk disimpan ke dalam kulkas.
"Bibik dan Mbak yang lain apa sudah makan?" tanya Ayu sebab melihat kegiatan para asisten lain.
"Sudah dari tadi Neng Ayu. Ya sudah kalau begitu Neng bisa langsung istirahat, biar kerjaan disini Bibik yang selesai kan."
Ayu pun mengangguk kemudian berlalu menuju kamarnya. Tapi sebelum itu dia berniat untuk melihat adiknya terlebih dahulu yang memang saat ini mereka terpisah kamar, lebih tepatnya bersebelahan.
Ayu masih berdiri di tempat dengan kepala menunduk. Namun tetap tak juga mendapat tanggapan dari Kakeknya, meski yang Ayu harap sahutan singkat berupa suara deheman. Walau hingga sampai pada pintu kamar Zahra ditutup pelan oleh Kakeknya.
Kecewa, sedikit sakit hati sudah jelas Ayu rasakan, tapi dia berusaha untuk bisa menguatkan batinnya.
Seiring dengan langkah Kakeknya yang berjalan melewatinya, Ayu menoleh ketika Kakeknya bersuara, "Ikut denganku ada hal yang harus dibicarakan."
Meski nada bicara Kakeknya terkesan dingin, sudut dalam hati Ayu yang tadinya kecewa kini sedikit membaik. Ayu membatin, Itu artinya keberadaan dirinya disini telah dianggap.
__ADS_1
Sampai di ruang kerja Kakeknya, Ayu berdiri tepat di depan meja kerja tempat Kakeknya berada. Dia masih menunggu Kakeknya berucap meski sudah beberapa menit berlalu mereka berada disana.
Kakeknya berdehem, mengeluarkan map dari dalam laci dan menyodorkan kepada Ayu. Hal itu sedikit membuat Ayu tercengang kemudian dia memberanikan diri mendongakkan kepala untuk menatap Kakeknya.
"Tinggal disini tentunya harus mengikuti aturanku. Rudi, sepupumu telah mengikuti jejakku, sekarang dia yang mengambil alih dan bertanggung jawab atas Rumah Sakit swasta yang telah kubangun dengan kerja keras di sepanjang usiaku. Itu adalah berkas pendidikan yang wajib kamu tempuh untuk menjalani karir guna mengisi jabatan di Rumah Sakit," jelas Prasetyo Nugroho yang tadinya menatap Ayu kemudian beralih menatap map berisi berkas di atas meja.
Jelas tulisan yang tertera pada sampul map. "Fakultas kedokteran Universitas Gadjah Mada."
Ayu terhenyak, menatap lama map di atas meja tanpa ada niatan untuk mengambilnya. Ini sungguh bertentangan dengan hatinya. Apalagi dia tak memiliki sedikit pun ketertarikan di dunia medis, juga sama sekali tak pernah terfikir ke arah situ.
Semua bertolak belakang. Setahu dia ketika seseorang terjun ke dalam dunia medis, orang itu ada sebuah panggilan jiwa karena perkerjaan yang dijalani adalah menyangkut manusia. Dimana jiwa seseorang terpanggil untuk menjadi orang yang bermanfaat dan bisa menolong orang lain. Karena seorang tenaga medis dituntut untuk melayani pasiennya, bahkan dalam kondisi buruk sekali pun.
Perlahan Ayu mengangkat wajahnya, menatap Kakeknya dengan sorot mata bimbang. Dalam hati dia sudah meneriakkan kata tak mampu, tak bisa dan menolak. Serta dia juga berusaha menekan lidahnya agar tak mengeluarkan kata-kata itu, namun tentu otaknya berputar mencari-cari alasan yang tepat, hingga yang terjadi justru air matanya yang menganak turun.
Tak perlu dijelaskan pun atas sikap Ayu, Kakeknya telah mengerti. Mengalihkan tatapan yang dari tadi menatap Ayu, kini dirinya beranjak dari kursinya dan berkata, "Kamu menolak."
Ayu pun makin menundukan kepalanya. Rasa bersalah dan tak mampu menuruti kata Kakeknya rasa-rasanya memupuk rasa bersalah.
"Maaf, hanya Ayu berfikir tak ada bakat disana Kek," sahutan itu Ayu keluarkan dengan suara amat tercekat. Menghentikan langkah Kakeknya yang hendak keluar dari ruangan. "Ayu tak ada alasan yang kuat untuk menekuni profesi sebagai tenaga medis. Bisa saja Kakek memberi Ayu pendidikan yang terbaik, namun mental yang Ayu miliki belum cukup tangguh untuk menghadapi situasi dan kondisi dalam melayani orang sakit."
Sesaat mereka sama-sama terdiam. Ayu berusaha menghela napas berat dengan tidak terlalu kentara. Dia menyadari memang tak ada yang gratis di dunia ini, apalagi untuk menumpang tinggal disini. Meski pun begitu Ayu juga berfikir positif bahwa apa yang telah Kakeknya sodorkan adalah bentuk kebaikan untuknya di masa depan dan tentu juga memberinya sebuah tanggungjawab dari salah satu orang kepercayaan dalam meneruskan Rumah sakit yang telah di bangun Kakeknya.
__ADS_1
To be Continue