
"Bapak gak akan menginap disinikan?" tanya Ayu saat menekan passcode pintu apartemennya.
"Kamu keberatan aku tinggal disini?" sahut Kevin yang mengikuti langkah Ayu masuk ke dalam apartemen, kemudian sama-sama melepas alas kaki.
"Saya belum— beliin Bapak sandal. Berapa ukurannya? Maksudnya bisa dipakai saat disini," kata Ayu saat dia memakai sandal slopnya, lalu arah pandangannya tertuju pada ukuran kaki Kevin yang besar.
"Nanti saja sekalian belinya. Jadi kamu gak keberatan kan malam ini aku tidur disini," sahut Kevin mengambil duduk di sofa dengan menyandarkan punggungnya.
"Asal Bapak tidur disitu," sahut Ayu menunjuk sofa.
Terkekeh Kevin pun lantas menyahuti ucapan Ayu dengan mengerlingkan matanya menatap ke arah kamar. "Gak sekalian saja kita berdua tidur disitu."
Berdecak dan beranjak dari tempatnya menyeret koper, Ayu berujar, "Mimpi!"
Kevin sontak terbahak dengan menelantangkan tubuhnya di sofa.
Hampir satu jam Ayu berada di dalam kamarnya. Mulai dari bersih-bersih kamar sampai mandi.
Dengan masih membungkus kepalanya dengan handuk, kini Ayu keluar dari kamar. Dilihatnya Kevin yang justru terlelap, nampak dari raut wajah lelaki itu kelelahan.
__ADS_1
Mengatur suhu ruangan, Ayu pun beranjak mencarikan selimut untuk Kevin.
Tak ada pergerakan sedikit pun saat Ayu menutupi seluruh badan lelaki itu, sejenak Ayu mendudukan diri di atas meja pada ruang tamu. Mengamati Kevin yang dalam keadaan tidur.
Ayu masih tak menyangka saja dengan hubungan yang terjalin bersama Kevin. Dia masih berfikir dirinya bukanlah apa-apa. Lantas terkadang merasa tak cocok saja bila pada suatu hari nanti hubungan mereka diketahui oleh orang lain. Apa kata orang-orang nanti?
Iya, lambat laun itu pasti. Akan ada orang yang tahu. Apalagi keluarganya, Ayu belum lah siap.
Mengamati dan menyelami lebih dalam lagi perbedaan dirinya dengan pria di hadapannya, nyatanya begitu kontras. Ayu menyadari Kevin adalah lelaki hebat, memiliki kekuasaan yang didukung dari keluarganya. Belumlah dengan dengan tampilan fisik Kevin yang amat mencolok. Pria tampan, gagah dengan tipikal badboy. Jelas pria macam Kevin menjadi daya pikat bagi wanita-wanita di luaran sana, termasuk dirinya.
Iya Ayu tak munafik. Lalu semakin Ayu tenggelam dalam pemikirannya, dirinya justru merasa takut. Takut bila tak mampu menjaga apa yang telah dimilikinya, sebab bisa saja dan dengan mudahnya lelaki di hadapannya akan berpaling darinya.
Menghela, Ayu kemudian menunduk. Segala prasangka terus saja berputar dalam otaknya, hingga entah berapa lama dia duduk berhadapan dengan tubuh Kevin yang terbujur sekarang lelaki itu malah sedikit melakukan pergerakan.
Mau bangkit pun itu tak mungkin, Kevin pasti akan menanyakan hal lebih. Untuk itu Ayu memasang wajahnya yang tersenyum saat lelaki itu sedikit membuka matanya. Menatap dengan mata sayu khas bangun tidur.
"Jam berapa?" ucap Kevin dengan suara serak.
Ayu lalu melarikan bola matanya ke arah jam dinding. "Sudah sore, pukul empat. Bapak lapar? Saya belum masak," kata Ayu yang kemudian bangkit berdiri. Melepas handuk yang membungkus kepalanya, lalu mengusap-usapkan pada rambutnya dan berlalu masuk ke dalam kamar, hingga terdengar bunyi hair dryer.
__ADS_1
Meregangkan tubuhnya Kevin kemudian bangkit. Tidur membuat tenaganya kembali pulih setelah beberapa hari dia disibukkan dengan persiapan resepsi pernikahan saudarinya. Dan untuk menuju Singapura tentu ini dilakukannya secara mendadak.
Kevin yang telah duduk tegap, matanya justru menangkap suatu barang yang dikenalinya mengintip dari bawah meja di hadapannya. Dan ketika kotak itu diambil olehnya kening Kevin mengernyit.
"Ayu, kamu belum membuka kotak hadiahmu?" Tanya Kevin yang bangkit menuju kamar Ayu.
Ayu yang masih mengeringkan rambutnya pun membalas dengan gelengan kepala. "Memang apa isinya?" sahut Ayu mematikan dan meletakkan hair dryer di meja riasnya. Kemudian menerima kotak yang disodorkan oleh Kevin.
"Buka saja," ujar Kevin yang justru mengambil duduk di sisi ranjang milik Ayu.
Ayu jadi kian penasaran dan tak sabar membuka kotak hadiah ulangtahun pemberian Kevin yang sudah beberapa minggu tak tersentuh sebab memang karena kemarin suasana hatinya yang buruk menjadikannya tiada minat sedikitpun.
"Gaun?" gumam Ayu ketika kotak telah terbuka, lalu Ayu mengambil kartu ucapan yang terselip di dalamnya.
Mengalihkan tatapannya pada Kevin, Ayu menemukan pria itu tengah mengangguk dan tersenyum padanya.
"Iya, pakailah. Aku tunggu di luar," ucap Kevin kemudian bangkit berdiri keluar kamar dan menutup pintu.
To be Continue
__ADS_1