Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 116


__ADS_3

Aku tak menyangka, ada rasa cemburu ketika melihatmu berdandan cantik di depan pria lain


Lalu bila suatu hari kita bertemu dan aku memintamu untuk memakai ini, kuharap kamu tak berkeberatan


Selamat ulangtahun, untukmu Ayu


Membaca lembaran kartu ucapan yang berada di tangan membuat Ayu kehabisan kata. Rasa antusiasnya tiba-tiba menguap.


"Jadi apa sebenarnya tujuan Bapak?" gumam Ayu lalu meletakkan lembaran kartu itu di atas ranjang, kemudian mengangkat gaun yang masih terlipat rapi di kotak.


Gamang, cukup lama Ayu untuk mengambil lalu mengamatinya. Hingga waktu yang dia perlukan sampai keluar kamar melebihi satu jam.


Pintu terkuak dan yang Ayu dapati Kevin tengah tersenyum kepadanya.


"Cantik," puji Kevin seraya bangkit dari tempat yang diduduki lalu melangkah menuju Ayu. "Sudah siap berangkat?" ucapnya dengan mengangkat sedikit lengannya memberi isyarat agar Ayu merangkulnya.


Dan ya dengan gerak ragu, Ayu menuruti Kevin. Mengangsurkan tangannya untuk berpegang di lengan Kevin.


"Ada makanan khusus yang ingin kamu makan?" tanya Kevin saat mereka berdua sudah berada di dalam lift.


Menggeleng. Ayu tak mengeluarkan suara apa pun, tapi Kevin paham dan lelaki itu berujar, "Kalau begitu bagaimana bila aku yang pilihkan."


"Terserah Bapak," sahut Ayu datar dengan mata menatap lurus pada pantulan dinding lift, dan dapat dia lihat dengan jelas tangan Kevin berangsur bergerak mengelusi puncak kepalanya.


Sontak Ayu menoleh mendongak menatap Kevin, tentu lelaki di sampingnya langsung membalas tatapan Ayu disertai senyum mengembang. Lagi-lagi ketika Kevin bergerak memajukan wajahnya, Ayu tahu dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

__ADS_1


Kevin akan menciumnya, tapi sebelum hal itu terjadi Ayu segera mengalihkan tatapan dan berujar, "Pintunya terbuka."


Kevin tak bisa menahan senyumnya. Tangannya juga tak kuasa mengusap puncak kepala Ayu gemas. Berjalan beriringan mereka pun keluar dari dalam lift dan langsung menuju luar apartemen.


Terkejut saat Kevin membawa Ayu pada sebuah mobil dan membantu membukakan pintu. "Aku sudah siapkan ini dari kemarin," jelas Kevin menuntun Ayu masuk ke dalam mobil.


Tercenung sesaat, dan tak lama Ayu paham. Uang bisa mewujudkan segalanya, batinnya.


Selama perjalanan senyum Kevin tak sedikit pun surut. Sambil memegang stir satu tangannya yang bebas juga tak luput untuk menggenggam jemari Ayu. Wajah bahagia begitu nampak saat sesekali Ayu menoleh kepadanya.


"Bapak bahagia?" tanya Ayu dengan suara yang amat datar.


Mobil masih melaju dengan kecepatan sedang. Kevin pun melirik sekilas pada Ayu dengan menaikkan alisnya. "Sangat," sahutnya dengan mengangkat jemari Ayu yang bertaut kemudian mengecupnya.


Tentu apa yang dilakukan oleh Ayu membuat Kevin terheran, tapi berselang Kevin mengulum senyumnya. "Aku yakin kamu sekarang merasa tak percaya diri dengan penampilanmu."


"Benar. Apa yang Bapak bicarakan memang benar," sahut Ayu dengan menunduk dan meremas jemarinya.


"Apalagi saat aku menggandeng tanganmu. Bukankah itu terasa mimpi bagimu," ucap Kevin dengan percaya diri. Senyumnya masih belum pudar dari bibirnya merasakan kebersamaan dengan gadis di sampingnya.


"Iya. Dan sekarang ayo kita hentikan mimpi ini."


Senyum tipis mengembang di bibir Kevin. Karena tak mendapat tanggapan Ayu segera mengangkat wajahnya dan berujar, "Mari kita sudahi saja—hubungan kita ini."


"Kita sudah hampir sampai," ujar Kevin berusaha tak menanggapi ucapan Ayu tadi. Karena dia yakin kekasihnya itu hanya bercanda.

__ADS_1


Hingga mobil terhenti dan Kevin hendak membuka pintu, Ayu masih tak bergerak barang sedikit pun.


"Bapak dengar kan apa yang saya ucapkan tadi?" ucap Ayu menghentikan langkah Kevin yang hendak turun dari mobil.


"Yang mana? Hmmm?" sahut Kevin mengurungkan niatnya untuk turun, kemudian menoleh kepada Ayu yang tengah menunduk.


"Kita putus saja," sahut Ayu dengan suara datar.


Sudut bibir Kevin tak kuasa untuk menahan senyum. "Kenapa? Ada alasan? Kamu menyesal? Atau kamu menemukan pria lain? Aku gak yakin dengan alasan ini. Bila kamu ingin putus katakan apa penyebabnya?" ucap Kevin menangkup wajah Ayu.


Hening saat mereka berdua saling tatap, hingga Ayu berujar menyuarakan apa yang ada dalam hatinya. "Bapak hanya terobsesi dengan saya."


Kevin mengerjap. Menatap Ayu tak percaya. Bagaimana bisa gadis di hadapannya berkata demikian. Sedangkan apa yang dirasakannya sekarang, dengan jantung yang berdebar tak karuan, perasaan yang tiada menentu. Rindu yang menggebu bila tak bertemu dan tentu rasa ingin memiliki gadis di hadapannya begitu besar.


"Aku mencintaimu," ujar Kevin mengungkapkan apa yang dirasakannya.


Namun yang terjadi justru Ayu menggeleng.


"Kamu gak percaya. Lalu apa aku harus membuktikannya sekarang dengan apa yang aku rasakan? Ayu percaya lah. Aku benar-benar mencintaimu," ujar Kevin berusaha meyakinkan, kepalanya bergerak menunduk.


Dan serangan tiba-tiba yang diberikan dari bibir Kevin tak dapat Ayu terima. Ayu dengan kuat mendorong dada Kevin, dan belum sampai disitu Kevin dibuat tercengang sebab sekarang telapak tangan Ayu melayang keras hingga mendarat di pipi kirinya.


Plakkk...


To be Continue

__ADS_1


__ADS_2