
Rico mengantarkan aku sampai stasiun usai pulang kerja, jadi diperkirakan aku akan tiba di Solo pada pagi hari.
Aktivitas ke dua tanganku yang bergerak berusaha membuka pengait helm dari tadi tak kunjung mendapatkan hasil.
"Ini kenapa sih susah sekali terlepas," gerutuku yang sudah turun dari jok motor belakang, berdiri di samping Rico.
"Kenapa?" sahut Rico yang menoleh menatapku.
"Ini gak bisa lepas..." ucapku kesal.
Rico pun beranjak turun dari motornya, tangannya terulur untuk mengambil alih membantuku melepas pengait helm. Cukup lama, membuatku mendengus kesal. Lalu kualihkan pandanganku mendongakan kepalaku menatap depan.
Dengan jarak yang sedekat ini membuatku terdiam mengamati Rico yang tengah fokus. Aku tertegun menatap wajah yang nampak begitu serius, menghadirkan sesuatu yang aneh pada diriku.
"Sudah, sekarang bisa dilepas helmnya," ucapnya yang seakan menyentakku dari lamunan.
Namun saat sorot matanya menatapku, kami justru sama-sama saling terpaku. Rasanya seperti ada sesuatu yang ingin aku katakan, tapi apa?
__ADS_1
"Helm-nya?" celetuk Rico yang kembali menyentakku, dengan gelagapan aku melepas helm dari kepala lalu menyodorkan padanya.
Aku berdehem lalu bersuara, "A—ku berangkat."
Rico nampak mengulum senyum dengan kepala mengangguk. "Telpon aku jika sudah sampai, begitu pula saat kamu sudah kembali. Aku usahakan menjemputmu," ucapnya mengacak rambutku.
Aku mengangguk kaku tanpa menjawab ucapannya, padahal dalam hati aku menyuarakan kata, pasti. Tapi kata itu seolah tertelan tanpa sebab yang jelas.
Rico nampak mengerutkan alisnya, mungkin saja menatapku aneh. Hingga aku pun berucap, "Ka—kalau gitu aku berangkat."
Usai berucap aku membalikkan badanku dengan gerak cepat, namun sungguh di sayangkan tak sengaja kakiku tersandung sebuah batu. Beruntung ada dua lengan yang menahan, melingkar di perutku.
"Kamu gak apa-apa kan?"
Dengan segera aku menggeleng. "Mata kakiku tertutup sepatu, jadi gak lihat ada batu segede itu disitu," ucapku menunjuk sebongkah batu yang letaknya tak jauh dariku.
Sontak Rico tertawa lebar mendengar ucapanku barusan. Kembali lagi debaran di dadaku tak kunjung surut sebab melihat tawa lepasnya. Dengan segera tanganku terangkat menarik kaca helm-nya untuk menutupi wajahnya.
__ADS_1
"Berisik tahu gak!" ujarku mengingatkan, karena memang kami sekarang menjadi pusat perhatian orang-orang sekitar.
Rico kembali mengacak-acak rambutku. "Udah sana masuk, kurang sepuluh menit lagi," ucapnya mengingatkan.
Mulutku sudah terbuka tapi tak mengeluarkan suara, harusnya aku berbalik badan lalu menuju ke dalam. Tapi kenapa aku rasanya enggan, dan ingin berlama-lama berdiri disini.
Segera aku menggeleng, mengenyahkan pikiranku barusan dan tersenyum ke arah Rico. "Aku berangkat," pamitku.
Rico mengangguk dan berujar, "Hati-hati di jalan."
Aku mengangguk dan memaksa menggerakkan kakiku untuk menuju ke dalam stasiun tanpa lagi menoleh ke belakang, aku tahu Rico belum beranjak dari tempatnya karena beberapa langkahku yang menjauh tak kudengar deru suara motornya.
Aku menghela napasku saat telah mendapat tempat duduk yang sesuai dengan nomor karcisku. Tak lama kereta mulai berjalan perlahan melewati lintasan hingga akhirnya berjalan cepat.
Pekatnya malam terlihat dari balik jendela, pada ponsel yang tengah kupegang waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam, masih beberapa jam lagi waktu yang aku tempuh hingga sampai pada tempat tujuan.
Namun ada keresahan yang tiba-tiba merebak, memenuhi rongga dadaku. Dan aku hanya bisa meyakini bahwa inilah perasaan seseorang yang tak sabar menanti berjumpa dengan orang-orang yang dicintai.
__ADS_1
To be Continue