
"Keliatan sangat akrab, kalian sudah saling mengenal?"
"Iya Mbak," aku mengangguk dengan tersenyum canggung pada Kanaya yang sedang menata dan mengembalikan alat-alat kebersihan pada tempat penyimpanan.
"Pantas saja. Masuk sini berarti karena ada orang dalam?"
Alisku berkerut dengan senyum yang seketika surut. Nada yang diucapkan Kanaya jelas tak enak didengar seperti seolah menyindirku. Tapi—segera aku mengenyahkan pikiran itu, mengesampingkan prasangkaku mungkin aku yang terlalu sensitif.
"Bukan Mbak, saya disini karena dapat beasiswa dari hotel tempat saya kerja dulu. Maksud saya kuliah kerja, tapi untuk sementara saya mengambil pekerjaan partime," jelasku dengan Kanaya yang membalikkan badannya, tampak mengangguk.
Dia pun berjalan menuju pantry untuk mengambil minum. Aku terus saja mengekor di belakangnya meski masih ada jarak diantara kami.
Cukup lama sampai dia menyelesaikan minumnya juga memakan sesuatu, tapi sungguh niatanku yang menungguinya untuk memberi tugas padaku tak juga ada respon.
Aku yang tetep kuekeh untuk berdiri akhirnya memancing perhatiannya. Kanaya menoleh mengernyit menatapku. "Kenapa masih berdiri disitu?"
Aku menghela napas tak kentara. "Saya menunggu Mbak memberi tugas pada saya, dimana tempat yang bisa saya bersihkan."
__ADS_1
Kanaya menyeruput minumannya kemudian berujar, "Pekerjaan telah selesai, kamu bisa duduk."
Mulutku sejenak terbuka lalu terkatup kembali. Seperti aku pernah mengalami kejadian ini. Dan satu kejadian terbesit, iya dulu aku pernah kala pertama kali magang di Hotel Kartika sebab seniorku memberi satu pelajaran berharga yaitu tengah mengerjaiku.
Tak mungkin aku masuk perangkap, segera aku menggeleng. "Ini masih terlalu pagi Mbak dan tak mungkin pekerjaan usai," sahutku cepat.
"Ini sudah jam kerja. Para staff telah duduk di meja kerjanya. Lalu apa yang mau dikerjakan?" ucap Kanaya yang membuatku sedikit tertohok.
Aku sejenak terdiam berfikir bahwa tak mungkin petugas tata graha membersihkan ruangan staff kala mereka sibuk melakukan pekerjaan, yang ada malah mengganggu aktivitas mereka.
Aku pun mengikuti langkahnya menuju toilet karyawan. Tapi kali ini dia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap penampilanku dari atas hingga bawah. "Aku belum mengambilkanmu seragam," ucapnya.
Dan memang penampilanku adalah lebih rapi darinya malah-malah aku memakai sepatu hak yang walau tak terlalu tinggi.
"Ya sudah kamu tunggu saja disitu, aku ambil seragam untukmu, " tunjuk Kanaya pada sebelah toilet dan aku menurut.
Aku memperhatikan sekitar, tempat toilet cukup bersih. Entah di dalam satu lantai yang berisi ruang General Manager, wakilnya dan aku yakini masih ada staff-staff lain. Sebab dari tadi saat aku menuju kesini kuperhatikan terdapat beberapa ruang karyawan juga bilik kubikel.
__ADS_1
Lebih dari lima menit kutunggu, telingaku menangkap ada suara langkah kaki dan suara percakapan yang membicarakan masalah pertandingan bola. Dan sangat jelas itu adalah suara laki-laki.
Aku kian panik karena derap langkah itu semakin dekat. Mataku mulai mengedar, dan yang kutangkap adalah di samping kiriku terdapat kode penanda bahwa ini adalah toilet pria. Sontak mataku membulat.
Dengan pikiran bingung aku tak tahu kemana akan beranjak karena aku baru sadar Kanaya meninggalkanku disini sendiri sedang alat kebersihan yang kubawa tadi tanpa sadar telah diambil alih olehnya.
Segera aku beranjak memasuki ruang toilet sebelum orang-orang menemukan keberadaanku disini. Dan sialnya lagi ketika aku telah memasuki satu bilik toilet terdengar suara lelaki tadi semakin dekat bahkan tengah membicarakan sesuatu yang membuatku makin meringis takut.
"Tadi aku dengar ada langkah sepatu hak disekitaran sini, aku jadi penasaran. Apa mungkin memang benar ada wanita di dalam sini?"
Suara itu makin membuat tubuhku mendingin. Sorot mataku teralih pada slot kunci mastikan bahwa pintu dihadapanku telah terkunci dengan sempurna. Tubuhku kian menegang kala sepatu pantofel itu terdengar kian dekat.
Hingga lagi kudengar suara yang mampu membulatkan mataku, "Kalau penasaran cek aja Bas pintunya satu-satu."
"Ide bagus kalau gitu... ha ha ha!" sahut suara lelaki itu disertai dengan suara pintu yang terbuka dengan kasar.
To Be Continue
__ADS_1