Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 85


__ADS_3

Ayu yang memang tak piawai dalam urusan memasak, berada di dapur bingung mengerjakan pekerjaan yang mana dulu.


Setengah jam berlalu, dia masih berfikir dan menimang mau diapakan beberapa sayur yang telah dikeluarkan dari dalam kulkas.


"Bapak Kevin mau dimasakin apa? Sial kenapa aku tadi gak tanya?" gumam Ayu.


Dia pun berinisiatif mengeluarkan ponsel, lalu mengetikan pada kolom pencarian, "Makanan yang biasa dimakan oleh orang kaya."


Sampai pada saat Kevin keluar kamar sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk, Ayu dibuat terperanjat kaget dan menjatuhkan ponsel yang dibawa.


"Kenapa Bapak cepat banget mandinya?" komentar Ayu.


Kevin menghentikan gerakannya yang tadi menggosok rambut. Alisnya terangkat. "Kenapa muka kamu kaget gitu," sahut Kevin beralih menoleh ke arah jam dinding. "Kira-kira dua puluh menit saya mandi dan keramas. Kenapa?" sambungnya lalu sorot matanya mengarah pada meja dapur. "Belum juga masak?"


Ayu menggeleng. "Bingung mau buatin Bapak makanan apa," sahut Ayu meringis. Dengan gerak cepat dia meraih ponselnya di atas lantai dan tentu dengan segera dia bangkit untuk memperlihatkan ponselnya pada Kevin.


"Tadi saya berinisiatif cari menu makanan apa yang biasa Bapak makan, tapi keburu Bapak muncul," jelas Ayu mengulurkan ponselnya.


Kevin mengernyit, dengan jarak yang sudah dekat Kevin memiringkan kepalanya menatap pada layar ponsel. Tak lama matanya mendelik menatap Ayu. "Jadi dari tadi di dapur cuma mikirin menu apa yang cocok untuk saya makan?"


Meringis, Ayu pun menyahuti dengan anggukan kaku di kepala.


"Dasar!" ucap Kevin menoyor pelan kepala Ayu.


"Keburu laper, ya udah sana masak mie instan," perintah Kevin membuat Ayu terbengong.


"Mie instan Pak?" tanya Ayu ragu.


"Hemmm," sahut Kevin dengan nada kesal. Tapi justru tangannya bergerak mengambil panci untuk mengisinya dengan air dari dispenser.


"Memang apa yang kamu pikirkan dengan kehidupan saya?" tanya Kevin kala menghidupkan kompor yang diteruskan dengan kegiatannya mengambil persediaan mie instan dalam lemari kabinet.


"Saya pikir makanan yang Bapak makan tidak sama seperti kami," sahut Ayu masih berdiri di tempat yang tadi. Tangannya menggenggam erat ponsel, tapi matanya mengamati tiap kegiatan yang Kevin lakukan.

__ADS_1


"Bukankah kita sama-sama manusia, pada dasarnya apa yang dimakan sama saja," sahut Kevin menoleh ke arah Ayu sejenak.


"Tapi—," ucapan Ayu terpotong sebab Kevin menyela.


"Mungkin kamu mengira orang-orang kaya itu selalu makan enak dan tentu saja identik dengan kemewahan. Itu benar. Dan asal kamu tahu itulah cara kami dalam menghabiskan uang, tapi— kami juga diajarkan untuk melipatgandakannya."


Kening Ayu berkerut bingung. "Melipatgandakan?"


Kevin kembali menoleh pada Ayu, sudut bibirnya terangkat. "Ternyata kamu begitu polos. Ambilkan dulu telur di dalam kulkas," ucap Kevin memberi perintah.


Ayu pun sigap mengambil apa yang Kevin suruh lalu menyerahkannya. Hingga makanan siap tersaji di depan mereka berdua, Kevin kembali bersuara, "Melipatgandakan dalam artian bekerja keras, mengembangkan usaha, atau bila perlu menciptakan lapangan kerja baru."


Ayu mengangguk-anggukan kepalanya. "Bukankah yang saya dengar Bapak adalah pewaris dari Wijaya Grup?"


Kevin seketika menghentikan kunyahannya. "Hmm," sahutnya yang lalu menelan makanannya.


"Dan gak masalah makan mie instan?"


Pertanyaan polos yang meluncur dari bibir Ayu sontak membuat Kevin tersedak. "Pertanyaan macam apa itu?" Kevin berucap sambil menormalkan suaranya.


Kevin masih berusaha mengatur napasnya. "Mungkin benar makan mie instan bikin orang cepat mati," gumam Kevin akibat tersedak tadi.


"Apa Pak?" sahut Ayu yang tak begitu paham dengan apa yang diucapkan Kevin.


Menggeleng. "Gak. Lalu kamu sendiri gak makan?" ucap Kevin yang melihat pada makanan di depan Ayu yang belum tersentuh.


Ayu pun mulai mengambil sendok dan menyantap makanannya dengan Kevin yang mengatakan, "Banyak cara lain untuk menghabiskan uang. Makan mie instan ini adalah alternatif sebab perut saya tadi sudah lapar tapi kamu tak kunjung buatin saya makanan."


Menunduk sambil menyeruput mie-nya, Ayu menahan senyum malu. "Kalau tahu begini dari tadi saya aja yang masakin Pak," sahutnya mengangkat kepala dan meringis.


"Udah terlanjur kenyang," sahut Kevin lalu menandaskan kuah mienya.


"Lalu cara Bapak untuk menghabiskan uang?"

__ADS_1


Kevin yang baru saja menyandarkan punggungnya pada kursi menyahut ringan ucapan Ayu. "Bersenang-senang."


Ayu menggeleng. "Bersenang-senang?"


"Hmmm. Ke Bar, liburan dan yang utama bersenang-senang dengan wanita."


Deg. Kunyahan Ayu terhenti. Matanya menatap lurus pada Kevin.


Kevin menarik sudut bibirnya. "Seperti dulu yang pernah kamu lihat di kantorku."


Ayu seperti merasa kehilangan orientasinya. Otaknya memutar kejadian dulu. Kejadian dimana saat dirinya menangkap basah Kevin tengah bercumbu dengan sekertarisnya.


"Jadi yang saya lihat itu sungguhan Pak. Bukankah Bapak belum menikah?" pertanyaan Ayu terdengar sulit terucap.


Kevin mengangguk. Tak ada rasa malu atau tak enak hati untuk mengakuinya, hal itu membuat Ayu seketika dilanda syok. sebab yang dirinya tahu kejadian seperti itu hanya berlaku pada orang-orang yang telah menikah.


"Teruskan makanmu," perintah Kevin atas keterbengongan Ayu.


"Hey, ada apa dengan wajahmu? Apa kamu berfikir aku akan melakukan tindakan itu padamu?" kata Kevin menggoda sebab Ayu masih nampak dengan wajah pias.


"Tentu. Apalagi saya tinggal disini tanpa alasan. Maksudnya bisa jadi Bapak meminta imbalan," sahut Ayu waspada.


Tapi yang terjadi justru Kevin tertawa terbahak. "Aissst... Saya gak akan memaksa lawan main saya. Pure semua atas dasar suka sama suka. Kalau adanya pemaksaan itu sudah dalam tindak kriminal," jelas Kevin.


"Tapi itu bukankah sama saja Pak. Bapak melakukan itu tanpa adanya pernikahan. Dan dalam agama saya itu disebut Zina," sahut Ayu merendahkan nada bicaranya di ujung kalimat.


Senyum di bibir Kevin perlahan memudar, berganti dengan senyum masam. Jelas dia tahu dan telah melanggar norma agama. Tapi kegiatan haram itu seolah menjadi kebiasaannya, dan dia adalah pewaris gen dari ayahnya. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.


"Lalu apa pendapat kamu tentang saya?" tiba-tiba Kevin bertanya demikian. Pertanyaan itu tentu spontan terucap dari mulutnya.


"Tentang Bapak orang kaya?"


Kevin menggeleng. "Tentang perlakuan saya yang menyimpang dari norma agama. Berzina. Saya mau tanya, jika saja kamu dihadapkan dengan lelaki yang kaya raya, mampu memenuhi segala kebutuhanmu sedangkan lelaki itu sendiri telah beberapa kali berzina dengan perempuan lain. Apa kamu masih tetap akan menerimanya?"

__ADS_1


Ayu terdiam, dan membuat Kevin kembali bersuara, "Jawab saja sesuai dengan kata hatimu. Saya cuma ingin mendengar pendapatmu."


Tembusin 300like ya, ntar aku tambah lagi. 1000kata lebih lho di part ini


__ADS_2