Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 93


__ADS_3

Percakapan dengan Kakeknya meski telah lewat dua hari masih saja terngiang dalam benak Ayu. Jadwal kegiatannya di hotel yang amat lah padat tak sedikit pun mampu mengalihkan sejenak isi pikirannya.


Musim kawinan, begitu lah orang menyebutnya. Mereka beranggapan bulan ini ada bulan baik dalam mengadakan acara-acara besar yang tak lain dan tak bukan adalah pernikahan.


Sebagai asisten dalam tim Event Planner, Ayu diwajibkan untuk turun ke lapangan langsung. Meninjau tempat acara, merancang dan menghitung alat kelengkapan apa saja yang di butuhkan sebagaimana konsep yang diminta oleh para customer.


Kali ini acara yang Ayu handle bersama timnya akan diadakan di luar hotel sesuai pesanan tamu. Tepatnya berada di area out door.


Hal itu tadinya sedikit membuat Ayu bingung, tapi setelah mendengar penuturan ketua tim bahwa acara inti tetap diadakan di hotel Wijaya, Ayu baru paham. Sebab di area out door itu nantinya akan digunakan untuk pertunjukan band, lebih tepatnya band metal yang selain di peruntukan pada pasangan pengantin yang memiliki kecenderungan pada jenis musik itu, juga sebagai hiburan untuk tamu undangan dan juga bisa dinikmati untuk umum.


Memang ada-ada saja orang kaya, batin Ayu menanggapinya. Dan lagi-lagi inilah sebuah tantangan dalam setiap pekerjaan, tapi disitulah Ayu justru sangat menikmati bekerja di bidang ini.


"Heh heh heh... Taruh disitu!"


Perintah bar-bar itu serta merta membuat Ayu memutar langkah mencari orang yang tengah bersuara, karena dirinya merasa seperti mendengar suara yang tak asing. Dan ketika Ayu menemukan orang tersebut justru orang itu tengah tersebut tersenyum lebar ke arahnya.


Aneh memang, sejak dua hari belakangan setelah mengetahui bahwa Ayu adalah bagian dari keluarga Soraya, Kevin mengesampingkan sikap bossy-nya kepada Ayu. Malah Ayu sendiri yang merasa tak enak hati dengan karyawan lain, sebab merasa diperlakukan berbeda dari yang lain.


"Ngapain Bapak kesini? Disini panas," ujar Ayu yang tetap melakukan kegiatannya dalam mendesain panggung yang diperuntukkan untuk acara besok sore.


"Cuma mau ngingetin, ntar sore jangan lupa bersiap. Tapi tinggal beberapa jam lagi, jangan ambil lembur."


"Saya gak janji Pak, lagi pula masih ada jam kuliah," sahut Ayu menoleh sejenak pada Kevin.


"Bolos. Masalah ijin? Nanti biar kudatangi saja Soraya dan buat surat dikirim ke kampusmu."


Aku menghela napas, sejujurnya dia ingin pergi tapi alasan terbesarnya adalah tak enak hati dengan Kakeknya. Belum ada percakapan lagi setelah malam lusa yang lalu.


"Ngalamun?" Entah sejak kapan Kevin sudah beranjak dan berdiri tepat di hadapan Ayu sambil mengibaskan tangannya.


Melirik pada Kevin, Ayu pun berujar, "Saya gak ikut Pak."


Berdecak, Kevin pun mengambil alih barang dari tangan Ayu kemudian meletakkannya sembarangan dan berkata pada tim Event planner lain yang ada disitu, "Pinjam Ayu-nya, ada urusan sebentar."


Usai berujar tanpa menunggu tanggapan dari orang sekitar Kevin pun menarik lengan Ayu agar mengkutinya. Dia tak peduli saat Ayu mencoba menolaknya yang bahkan sampai berada di dalam mobil pun Ayu tetap memasang wajah cemberutnya.


"Ada masalah?"


Ayu justru menggeleng lalu memalingkan wajahnya ke sisi jendela mobil.


"Niatnya aku bawa kamu ke rumah calon mertua."


Sontak Ayu memutar kepalanya menatap tajam Kevin.


Dan menyebalkannya justru Kevin menyengir. "Kamu kan yang bilang sendiri naksir Akram. Berterimakasih lah atas kebaikanku, ini kesempatanmu buat bisa dekatin Akram." Kevin berdehem kemudian kembali bersuara, "Sudah kubilang gak salah kamu naksir Akram. Hidupnya lurus, terkesan lempeng. Kesehariannya cuma bekerja cari uang buat ngurus Ibunya. Kalau kamu mendapati dia kerja lebih ekstra kemarin-kemarin, itu artinya dia sedang berjuang untuk Ibunya. Gak mudah dan gak murah biaya yang Akram keluarkan untuk kesembuhan Ibunya. Sudah pasti pula dua tak punya waktu untuk dipakai bersenang-senang. Dan sampai disini kamu paham maksudku?"


Ayu yang dari tadi menyimak kata-kata Kevin justru menggeleng tak paham dan sontak malah Kevin yang merasa kesal sendiri. Berdecak, Kevin pun berujar, "Dia juga butuh untuk berbahagia. Kamu ngaku punya ketertarikan dengan Akram dan sekarang berjuanglah, mungkin ini adalah waktu yang tepat."


Sikap Ayu masih begitu datar begitu pun saat dia menanggapi ucapan Kevin tersebut. "Bapak yakin bawa saya kesana dalam kondisi seperti ini," sahut Ayu dengan sorot mata mengamati pakaian yang dia kenakan.


Kevin menarik sudut bibirnya. "Tentu saja tidak," sahutnya menekan lampu sein ke kiri untuk membelokkan mobilnya menuju departemen store terdekat.


Tiba di pusat perbelanjaan yang menyediakan pakaian wanita, tak hentinya Kevin dan Ayu berdebat akan pilihan mereka. Tentu karena selera mereka berbeda, dari mulai model pakaian, warna dan juga masalah harga.


"Warna itu terlalu mencolok Pak. Emang dipakai buat acara kondangan?"


"Yang itu belahan dadanya terlalu rendah. Gak!" tolak Ayu spontan.


"No! Itu terlalu pendek. Kalau dipakai saya yakin, buat berjongkok saja pantatnya akan kelihatan," kata Ayu begidik.


Berputar-putar berkeliling ke galeri satu berganti yang lain masih tetap tak menemukan barang yang cocok. "Gak ada banyak waktu, mau muter berapa lama lagi!" kata Kevin jengkel sambil melihat jam di pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Makanya kalau begitu saya saja yang pilih sendiri bahunya."


"Gak, pilihanmu pasti jelek," sahut Kevin cepat dengan mata mengedar mencari barang yang sekiranya cocok dan sesuai dengan selera sahabatnya, Akram. Karena yang tadi yang dia pilih sebenarnya apa yang menjadi kesukaannya.


"Sebenarnya simple saja Pak, ini kan juga bukan acara formal. Hanya acara syukuran penyambutan Ibunya Pak Akram yang baru saja balik dari luar negri dan tentu dalam kondisi membaik atas sakitnya."


"Hanya kamu bilang!" Kata Kevin menatap tajam pada Ayu. "Sudah aku bilang, bukan hanya acara syukuran tapi juga sekalian bertemu calon mertua," sambung Kevin yang membuat Ayu seketika terdiam.


"Apa-apaan sih Bapak ini," gumam Ayu mendengus disertai wajahnya yang terasa memanas.


"Ini, kuyakin Akram suka kamu memakainya," kata Kevin sambil menyodorkan satu dress dengan model potongan yang begitu sederhana serta warna yang cocok di pakai untuk kulit Ayu.


Pertama memegang pakaian itu, Ayu sudah merasa suka dengan bahan dan warnanya. Namun saat matanya tertuju pada bandrol harga yang tertera matanya sontak terbelalak.


"In—ini... "


"Gak usah banyak protes. Sana ganti bajumu di bilik kamar pas!" perintah Kevin yang langsung mendorong punggung Ayu masuk ke ruang ganti.


Tak butuh waktu yang lama Ayu mencoba pakaiannya dan ternyata pas di badan. Kevin yang sudah berteriak memangilnya pun membuat Ayu segera keluar dari kamar ganti.


"Cerewet banget sih! Baru juga di cobain. Saya ganti dulu pake bajuku tadi."


"Gak perlu. Pakai ini aja, bajumu tadi mana?" ucap Kevin tapi langsung saja masuk dalam ruang ganti dan mengambil baju milik Ayu.


"Sudah ayo ke kasir!" ucap Kevin yang tentu saja mendahului. Tapi menyadari Ayu yang masih berada di belakang, Kevin memutar langkah untuk kembali dan menghentikan langkahnya tepat di belakang tubuh Ayu.


"Apa yang Bapak lakukan!" tanya Ayu sedikit waspada, sebab Kevin tengah meraba pakaian belakangnya.


"Aku hanya ambil ini," ucap Kevin yang kemudian menunjukkan bandrol pakaian yang baru saja dilepasnya. "Ayo ikut, setelah ini kita ke salon," kata Kevin yang melanjutkan langkahnya menuju pada bagian kasir.


To be Continue


Percakapan dengan Kakeknya meski telah lewat dua hari masih saja terngiang dalam benak Ayu. Jadwal kegiatannya di hotel yang amat lah padat tak sedikit pun mampu mengalihkan sejenak isi pikirannya.


Musim kawinan, begitu lah orang menyebutnya. Mereka beranggapan bulan ini ada bulan baik dalam mengadakan acara-acara besar yang tak lain dan tak bukan adalah pernikahan.


Sebagai asisten dalam tim Event Planner, Ayu diwajibkan untuk turun ke lapangan langsung. Meninjau tempat acara, merancang dan menghitung alat kelengkapan apa saja yang di butuhkan sebagaimana konsep yang diminta oleh para customer.


Kali ini acara yang Ayu handle bersama timnya akan diadakan di luar hotel sesuai pesanan tamu. Tepatnya berada di area out door.


Hal itu tadinya sedikit membuat Ayu bingung, tapi setelah mendengar penuturan ketua tim bahwa acara inti tetap diadakan di hotel Wijaya, Ayu baru paham. Sebab di area out door itu nantinya akan digunakan untuk pertunjukan band, lebih tepatnya band metal yang selain di peruntukan pada pasangan pengantin yang memiliki kecenderungan pada jenis musik itu, juga sebagai hiburan untuk tamu undangan dan juga bisa dinikmati untuk umum.


Memang ada-ada saja orang kaya, batin Ayu menanggapinya. Dan lagi-lagi inilah sebuah tantangan dalam setiap pekerjaan, tapi disitulah Ayu justru sangat menikmati bekerja di bidang ini.


"Heh heh heh... Taruh disitu!"


Perintah bar-bar itu serta merta membuat Ayu memutar langkah mencari orang yang tengah bersuara, karena dirinya merasa seperti mendengar suara yang tak asing. Dan ketika Ayu menemukan orang tersebut justru orang itu tengah tersebut tersenyum lebar ke arahnya.


Aneh memang, sejak dua hari belakangan setelah mengetahui bahwa Ayu adalah bagian dari keluarga Soraya, Kevin mengesampingkan sikap bossy-nya kepada Ayu. Malah Ayu sendiri yang merasa tak enak hati dengan karyawan lain, sebab merasa diperlakukan berbeda dari yang lain.


"Ngapain Bapak kesini? Disini panas," ujar Ayu yang tetap melakukan kegiatannya dalam mendesain panggung yang diperuntukkan untuk acara besok sore.


"Cuma mau ngingetin, ntar sore jangan lupa bersiap. Tapi tinggal beberapa jam lagi, jangan ambil lembur."


"Saya gak janji Pak, lagi pula masih ada jam kuliah," sahut Ayu menoleh sejenak pada Kevin.


"Bolos. Masalah ijin? Nanti biar kudatangi saja Soraya dan buat surat dikirim ke kampusmu."


Aku menghela napas, sejujurnya dia ingin pergi tapi alasan terbesarnya adalah tak enak hati dengan Kakeknya. Belum ada percakapan lagi setelah malam lusa yang lalu.


"Ngalamun?" Entah sejak kapan Kevin sudah beranjak dan berdiri tepat di hadapan Ayu sambil mengibaskan tangannya.

__ADS_1


Melirik pada Kevin, Ayu pun berujar, "Saya gak ikut Pak."


Berdecak, Kevin pun mengambil alih barang dari tangan Ayu kemudian meletakkannya sembarangan dan berkata pada tim Event planner lain yang ada disitu, "Pinjam Ayu-nya, ada urusan sebentar."


Usai berujar tanpa menunggu tanggapan dari orang sekitar Kevin pun menarik lengan Ayu agar mengkutinya. Dia tak peduli saat Ayu mencoba menolaknya yang bahkan sampai berada di dalam mobil pun Ayu tetap memasang wajah cemberutnya.


"Ada masalah?"


Ayu justru menggeleng lalu memalingkan wajahnya ke sisi jendela mobil.


"Niatnya aku bawa kamu ke rumah calon mertua."


Sontak Ayu memutar kepalanya menatap tajam Kevin.


Dan menyebalkannya justru Kevin menyengir. "Kamu kan yang bilang sendiri naksir Akram. Berterimakasih lah atas kebaikanku, ini kesempatanmu buat bisa dekatin Akram." Kevin berdehem kemudian kembali bersuara, "Sudah kubilang gak salah kamu naksir Akram. Hidupnya lurus, terkesan lempeng. Kesehariannya cuma bekerja cari uang buat ngurus Ibunya. Kalau kamu mendapati dia kerja lebih ekstra kemarin-kemarin, itu artinya dia sedang berjuang untuk Ibunya. Gak mudah dan gak murah biaya yang Akram keluarkan untuk kesembuhan Ibunya. Sudah pasti pula dua tak punya waktu untuk dipakai bersenang-senang. Dan sampai disini kamu paham maksudku?"


Ayu yang dari tadi menyimak kata-kata Kevin justru menggeleng tak paham dan sontak malah Kevin yang merasa kesal sendiri. Berdecak, Kevin pun berujar, "Dia juga butuh untuk berbahagia. Kamu ngaku punya ketertarikan dengan Akram dan sekarang berjuanglah, mungkin ini adalah waktu yang tepat."


Sikap Ayu masih begitu datar begitu pun saat dia menanggapi ucapan Kevin tersebut. "Bapak yakin bawa saya kesana dalam kondisi seperti ini," sahut Ayu dengan sorot mata mengamati pakaian yang dia kenakan.


Kevin menarik sudut bibirnya. "Tentu saja tidak," sahutnya menekan lampu sein ke kiri untuk membelokkan mobilnya menuju departemen store terdekat.


Tiba di pusat perbelanjaan yang menyediakan pakaian wanita, tak hentinya Kevin dan Ayu berdebat akan pilihan mereka. Tentu karena selera mereka berbeda, dari mulai model pakaian, warna dan juga masalah harga.


"Warna itu terlalu mencolok Pak. Emang dipakai buat acara kondangan?"


"Yang itu belahan dadanya terlalu rendah. Gak!" tolak Ayu spontan.


"No! Itu terlalu pendek. Kalau dipakai saya yakin, buat berjongkok saja pantatnya akan kelihatan," kata Ayu begidik.


Berputar-putar berkeliling ke galeri satu berganti yang lain masih tetap tak menemukan barang yang cocok. "Gak ada banyak waktu, mau muter berapa lama lagi!" kata Kevin jengkel sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


"Makanya kalau begitu saya saja yang pilih sendiri bahunya."


"Gak, pilihanmu pasti jelek," sahut Kevin cepat dengan mata mengedar mencari barang yang sekiranya cocok dan sesuai dengan selera sahabatnya, Akram. Karena yang tadi yang dia pilih sebenarnya apa yang menjadi kesukaannya.


"Sebenarnya simple saja Pak, ini kan juga bukan acara formal. Hanya acara syukuran penyambutan Ibunya Pak Akram yang baru saja balik dari luar negri dan tentu dalam kondisi membaik atas sakitnya."


"Hanya kamu bilang!" Kata Kevin menatap tajam pada Ayu. "Sudah aku bilang, bukan hanya acara syukuran tapi juga sekalian bertemu calon mertua," sambung Kevin yang membuat Ayu seketika terdiam.


"Apa-apaan sih Bapak ini," gumam Ayu mendengus disertai wajahnya yang terasa memanas.


"Ini, kuyakin Akram suka kamu memakainya," kata Kevin sambil menyodorkan satu dress dengan model potongan yang begitu sederhana serta warna yang cocok di pakai untuk kulit Ayu.


Pertama memegang pakaian itu, Ayu sudah merasa suka dengan bahan dan warnanya. Namun saat matanya tertuju pada bandrol harga yang tertera matanya sontak terbelalak.


"In—ini... "


"Gak usah banyak protes. Sana ganti bajumu di bilik kamar pas!" perintah Kevin yang langsung mendorong punggung Ayu masuk ke ruang ganti.


Tak butuh waktu yang lama Ayu mencoba pakaiannya dan ternyata pas di badan. Kevin yang sudah berteriak memangilnya pun membuat Ayu segera keluar dari kamar ganti.


"Cerewet banget sih! Baru juga di cobain. Saya ganti dulu pake bajuku tadi."


"Gak perlu. Pakai ini aja, bajumu tadi mana?" ucap Kevin tapi langsung saja masuk dalam ruang ganti dan mengambil baju milik Ayu.


"Sudah ayo ke kasir!" ucap Kevin yang tentu saja mendahului. Tapi menyadari Ayu yang masih berada di belakang, Kevin memutar langkah untuk kembali dan menghentikan langkahnya tepat di belakang tubuh Ayu.


"Apa yang Bapak lakukan!" tanya Ayu sedikit waspada, sebab Kevin tengah meraba pakaian belakangnya.


"Aku hanya ambil ini," ucap Kevin yang kemudian menunjukkan bandrol pakaian yang baru saja dilepasnya. "Ayo ikut, setelah ini kita ke salon," kata Kevin yang melanjutkan langkahnya menuju pada bagian kasir.

__ADS_1


To be Continue


__ADS_2