
"Aku nyariin Mbak," ucap Ayu mengadukan apa yang terjadi dulu.
"Pasti kamu juga mengalami masa-masa yang sulit saat kutinggal."
Iya, tapi dalam hatinya meyakini apa yang telah dilaluinya mungkin tak ada apa-apa bila dibandingkan dengan Vina. Ayu kemudian menunduk dalam, menggigit bibir bawahnya kuat mengangguki ucapan Vina.
"Tapi aku senang melihatmu yang sekarang," ucap Vina menangkup sisi wajah Ayu. "Kamu lebih cantik bila dibandingkan denganku."
Ayu mengangkat wajahnya menatap Vina yang kini tersenyum ke arahnya dan Ayu tak mampu lagi berkata apa-apa selain berucap kata, "Terimakasih" yang diulang-ulangnya sambil memeluk Vina.
Terimakasih untuk segala kebaikan di saat dulu dirinya pernah menjalani kehidupan susah dan bahkan menerimanya untuk tinggal bersama tanpa adanya syarat.
Akram memang sengaja kini meninggalkan mereka berdua di dalam kamar. Hatinya terasa menghangat ketika melihat Vina bisa berinteraksi. Setidaknya dengan mendatangkan seorang teman, harapan Akram— Vina mampu terhibur dalam keterbatasan, akan belenggu kesakitan yang kian menggerogoti tubuhnya walau hingga entah kapan sakit itu akan berakhir.
***
Beberapa jam telah berlalu. Di luar langit telah gelap. Ayu juga telah pulang sejak sekitar dua jam yang lalu, tentunya diantarkan oleh Akram untuk sampai ke apartemen tempat wanita itu tinggal. Juga Ayu sempat berpesan bahwa dia esok akan mampir untuk datang lagi berkunjung menemui Vina.
Sungguh tak sedikitpun Akram menemukan rasa keterberatan di wajah Ayu, ketika Ayu berkata akan kembali bertandang. Dan justru yang didapatinya sorot mata Ayu menampakkan binar bahagia ketika mengungkapkan rasa terimakasihnya pada Akram sebab dipertemukannya dengan Vina.
Bahkan sampai saat ini Akram dibuat bertanya-tanya entah kebaikan apa yang dilakukan Vina dahulu hingga mampu membuat dua wanita itu terlihat begitu dekat.
Bila dilihat kini sorot mata Akram terfokus pada acara televisi yang tengah ditontonnya, tapi tentu saja itu tidak. Karena isi fikiran dengan apa yang dilihatnya sangat bertolak belakang.
Dari tadi dia ingin sekali pergi ke kamar Vina, sesekali arah pandangannya tertuju pada pintu kamar yang berada di sudut ruangan. Dengan hati bertanya-tanya sedang apa Vina di dalam sana.
Namun kini diliriknya bocah kecil yang begitu nyaman merebahkan diri di atas tubuhnya. Mata bocah kecil itu masih nampak bening pertanda belum mengantuk, dan menengok ke arah jam dinding— waktu telah menunjukkan pukul setengah delapan malam.
"Nagita belum mengantuk?" tanya Akram sambil mengusap puncak kepala bocah kecil itu dan dibalasi dengan gelengan kepala.
Akram pun kemudian memijat pangkal hidungnya, sebenarnya dia merasa amat sangat lelah.
__ADS_1
"Bapak kalau ingin istirahat, biar saya saja yang jaga Non Nagita," ucap Santi yang paham bahwa Akram dalam kondisi lelah.
"Gak usah Mbak biar saya yang jagain Nagita saja. Mbak bisa langsung istirahat. Biar malam ini Nagita tidur sama saya," ujar Akram dan tentu dengan tanpa bantahan.
Santi pun segera beranjak berpamit untuk beristirahat lebih dulu, karena memang sudah menjadi kebiasaan bila Akram datang berkunjung Nagita pasti dalam penjagaannya.
"Pa— yiat ikusnya lali-lali," ucap Nagita mendongak menatap Akram sejenak dengan tangan menunjuk pada layar televisi yang menampilkan tayangan kartun tom and jerry.
"Nagita masih asyik ya lihat TV?" sahut Akram sedikit bergerak meregangkan tubuhnya yang terasa pegal, yang tanpa sedikitpun merubah posisi Nagita yang terlentang nyaman di atas badannya.
Menggeleng-gelengkan kepala lagi-lagi tangan Nagita menunjuk televisi.
"Yiat ikus, Pa—" ujar Nagita memberitahu sebab kali ini Akram berpura-pura memejamkan mata.
"Pa—" panggilnya lagi dengan suara lebih tinggi sebab Akram masih tak menanggapi.
Berbalik badan, Nagita kemudian merangkak naik lagi di atas dada Akram. Mengamati lama wajah Papanya kemudian menepuk-nepuk pipi Akram berusaha membangunkan.
"Papa antuk?" tanyanya.
Nagita terdiam sesaat hingga akhirnya mengangguk. Dalam hati Akram merasa senang usahanya berhasil. Meraih remote televisi, dirinya pun kini menutup salurannya.
"Kita tidur sama Mama ya?" ucap Akram saat sudah bangkit dari duduknya, membawa Nagita dalam gendongan.
Namun anak itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ita tidur cama Papa," ujarnya mengulaikan kepala di bahu Akram.
"Iya tapi sama Mama juga," bujuk Akram lagi saat sudah sampai di depan pintu kamar Vina.
Anak itu tak membantah ucapan Akram, dan langsung saja kini dirinya mengetuk pintu dua kali sebelum akhirnya membukanya.
Sedikit terkejut saat tak menemukan Vina dalam kamar, bergegas dirinya masuk dan kini mulai mendengar bunyi gemericik air dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
Buru-buru Akram menurunkan Nagita dari gendongannya di atas kasur. Lalu melangkah lebar menuju kamar mandi untuk mengetuk-ngetuk pintu di hadapannya yang tentu dalam keadaan panik, Akram juga menyuarakan memanggil nama Vina dengan nada suara tinggi.
"Al— Kamu ada di dalam? Alvina buka pintunya!" seru Akram beberapa kali hingga pintu terkuak.
"Apaan sih berisik banget!" ucap Vina kesal.
Dilihatnya tubuh Vina masih terbalut handuk.
"Ka—kamu mandi?" tanya Akram bersamaan dengan ketakutannya akan pikirannya yang tidak-tidak. Dia takut jika terjadi sesuatu yang buruk dengan wanita di hadapannya.
"Iya, aku gerah. Tubuhku lengket," ucap Vina yang hendak beranjak melewati tempat Akram berdiri, ingin mengambil pakaian ganti yang telah disiapkan di atas ranjang.
"Kamu sakit kenapa harus memaksakan diri!" tegas Akram menghentikan langkah Vina dengan menahan bahu wanita itu
Tapi yang terjadi Vina justru menanggapi Akram dengan tersenyum kecut. "Mau diapakan lagi, beginilah kondisiku."
"Tapi kamu butuh penjagaan, bisa jadi kalau kamu banyak bergerak tanpa pengawasan akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," ucap Akram menyuarakan kekhawatirannya. "Gak ada pilihan lain. Aku akan bawa kamu pulang. Dengan begitu aku bisa jaga kamu."
Menggeleng, tangan Vina menepis lengan Akram. "Jangan memaksaku!" tegasnya lalu berjalan melewati Akram.
Sorot mata Akram masih menatap tubuh kurus yang diamatinya yang makin hari makin ringkih dari hari ke hari. Hingga selesai Vina mengenakan pakaian di hadapannya pun, Akram seperti kehabisan akal untuk membujuk wanita itu.
"Kalau kamu tetap menolak, aku yang akan memilih untuk tinggal disini," ucap Akram pada akhirnya.
Vina berdecih kemudian hendak naik ke atas ranjang, tapi Akram keburu mencegahnya.
"Sebenarnya apa yang kamu harapkan dari wanita macam sepertiku? Membalas cintamu, begitu? Bullshit! Sampai aku mati pun, aku tak akan mau membalasmu. Itu jawabanku. Sudah cukup aku menjawabnya, jadi kamu bisa pergi dan lanjutkan hidupmu," ujar Vina yang mungkin terdengar tak berperasaan.
"Kenapa, apa aku tak layak?" sahut Akram cepat. "Jawab dan lihat aku, Al!" tegasnya menyoroti mata Vina.
Menarik sudut bibirnya, Vina menangkap manik mata Akram dan berujar, "Bukan kamu yang tak layak, tapi aku yang tak tahu diri jika dengan senang hati me—"
__ADS_1
Seketika kini ucapan Vina terhenti, sebab tertelan oleh bibir Akram yang telah lebih dulu bersarang dan membungkam semua kata-kata penolakan yang ditujukan kepada lelaki itu.
To be Continue