Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 53


__ADS_3

Aku kian kuat meremas jemariku, berdiri sudah merapat pada tembok dan menggigit bibir bawahku. Dalam hati tak hentinya aku merapalkan doa agar orang-orang di luaran sana tak menemukanku.


Hingga terdengar suara bantingan pintu yang amat kasar, kalau kuingat aku masuk pada bilik toilet di angka nomor tiga. Aku pun memejamkan mataku erat. Dan sebentar lagi!


Aku tak bisa membayangkannya namun hingga kudengar suara seseorang yang amat kukenal mampu membuatku sedikit tersentak dan lalu perlahan aku membuka mata juga menajamkan telinga.


"Laporan yang kuminta apa sudah dikerjakan?" Suara itu terdengar penuh interupsi.


"Bapak—Maaf anda disini. Sebentar lagi Pak," sahut suara lelaki yang tadi terdengar sedikit gugup.


"Taruh di meja kerja saya dan harus selesai sebelum jam makan siang."


"Secepat itu Pak," sahut laki-laki tadi terdengar terkejut dan protes.


"Laporan kerja kalian akan saya cek hari ini juga sebab besok saya bertugas ke luar kota."

__ADS_1


"Baik Pak kalau begitu."


Usai percakapan tadi yang kudengar sekarang hanya lah sahutan dari orang yang aku kenal, begitu tegas dan dingin. Namun setelahnya aku menjadi sedikit bergidik ngeri sebab kali ini yang terdengar adalah suara percikan air yang benar-benar membuatku geli.


Mukaku seketika memanas, aku tak lagi bisa membayangkan diriku sudah seperti apa wujudnya. Walau aku tak melihatnya secara langsung tapi aku tetap menutup mata dan wajahku rapat.


Astaga, bagaimana bisa jadi begini. Aku tak bisa membayangkan kalau benar-benar ada orang lain yang menangkap basah aku disini. Aku sudah layaknya seseorang yang bertindak di luar nalar, terjebak dalam kamar mandi pria dan mendengar mereka sedang melakukan aktivitas yang benar-benar tak bisa aku bayangkan.


"Tidak-tidak," gumamku dalam hati dan dengan kuat aku menggelengkan kepala.


Aku pun mulai membuka mata dan memasang telinga memastikan derap langkah mereka menjauh. Dan setelah benar-benar menghilang dalam radius waktu, barulah aku perlahan membuka slot pintu. Melongokkan kepalaku dengan memastikan keadaan di sekitar.


Napas kelegaan aku hembuskan. Dengan memastikan lagi tak adanya orang di dalam toilet ini aku pun segera cepat keluar dengan berjalan masih mengendap. Berharap agar suara hak sepatuku tak menimbulkan suara.


Dalam langkahku berulang kali aku berucap syukur sebab tak ketahuan, serta senyumku perlahan sedikit terbit tak bisa membayangkan bila tadi tak ada Pak Akram. Mungkin saja nasibku akan...

__ADS_1


Ah segera aku mengenyahkan pikiran itu, yang terpenting aku telah selamat, batinku.


"Kamu dari mana saja?" Kanaya telah berdiri di hadapanku. "Aku tadi kan sudah bilang tunggu dulu, tapi kamu malah seenaknya kabur."


"Bukan saya ti—," protesku seketika terhenti sebab Kanaya lebih dulu mengudarakan tangan kanannya, memberi kode padaku agar aku berhenti bicara.


"Aku mentolerir kesalahanmu, sekarang ikuti aku," ucapnya yang lebih dulu berbalik berjalan mendahuluiku.


Aku sungguh merasa geram. Ucapanku yang merupakan kata pembelaan justru tak dianggapnya, padahal salah sendiri dia yang membuatku pada posisi tadi.


"Kenapa masih berdiri disitu, apa kamu tuli?"


Astaga. Dia berbalik hanya mengucapkan kata itu, jika saja aku tak bergantung pada pekerjaan ini, mungkin aku telah melemparkan salah satu sepatu yang kupakai ke arah kepalanya.


Argggghhhhhh

__ADS_1


To be Continue


__ADS_2