Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 54


__ADS_3

Anggaran kebutuhan harian yang telah aku rinci dalam buku catatanku tak sesuai pada kenyataan yang ada. Belum satu bulan uangku telah menipis bahkan tak cukup sama sekali hanya untuk sekedar makan saja.


"Kemana aku harus berhutang?" gumamku lesu menenggelamkan kepalaku pada kaki yang kutekuk.


Gak mudah hidup di Jakarta, padahal niatanku pertama kali menginjakkan kaki disini adalah menggantungkan harapanku pada Ibukota ini, yang dengan harapan besar aku bisa memperoleh gelar juga profesi yang lebih layak untuk memperbaiki masa depanku nanti. Tapi saat ini yang ada aku layaknya orang yang sudah tak punya lagi pengharapan apa-apa, kecuali untuk makan dan ada tempat tinggal.


Aku juga telah menangguhkan biaya kosan pada Mbak Vina. Aku mengatakan padanya bahwa aku tak memiliki simpanan uang lagi, beruntung dia masih mentolerir, tapi esoknya lagi?


Rasanya aku sekarang kembali merasakan hal buntu. Aku berada disini justru merepotkan orang-orang di sekitarku, tak terkecuali dengan Rico. Dia masih selalu memberiku tumpangan untukku pergi ke hotel bila bertepatan saat jam kerja kami sama, juga pada saat berangkat dan pulang kuliah. Keterlaluannya lagi aku akhir-akhir ini bahkan sama sekali tak memberinya sedikit uang bensin.


"Lagi-lagi kamu murung," suara itu terdengar bersamaan dengan pintu kamar mandi yang terbuka. Mbak Vina nampak tengah mengeringkan rambutnya. Dia berjalan menuju pada meja rias mininya, tengah memakai rangkaian krim perawatan yang rutin dia pakai sehabis mandi juga jika dia beranjak memulai istirahat malam.


Dengan lesu aku memandangi aktivitasnya yang begitu piawai dalam mengurus diri. Dia amat sangat cantik walau tak memakai polesan make-up. Kulit bandannya nampak bersih, bila dibanding denganku sangat jauh perbedaannya.


Muka glowing, kulit mulus, badan porposional mendekati kata montok dan— rambut yang semerbak terhirup wangi walau aku berada pada jarak radius meter darinya. Sungguh dia cantik mirip sekali dengan artis-artis di televisi, atau mungkin saja bila dia mengajukan diri ikut seleksi pemilihan artis sepertinya bakal langsung diterima.

__ADS_1


"Ngapain kamu lihatin aku begitu?" tanya Mbak Vina dengan mata memincing. Aku telah hafal bagaimana dia bersikap, meski nada bicaranya tak enak didengar tapi dia tak bermaksud begitu. Dia berlaku begitu karena memang watak dan sejauh ini aku tinggal bersamanya, kami telah menjadi teman akrab.


Aku menggeleng. "Mbak cantik," sahutku yang tetap mengarahkan sorot mataku padanya.


"Aku memang cantik," ucapnya dengan percaya diri. "Sudah sejak dari lahir," imbuhnya.


Dan aku hanya menanggapinya dengan mencibirkan mulutku. "Percaya!" sahutku dengan nada malas.


"Tapi gak usah dilihatin gitu juga kali," protesnya dengan melempariku kapas bekas pakainya.


Dan aku yang memang tengah memperhatikannya pun menangkis bahkan menangkapnya lalu beralih melemparkan kapas bekas tadi masuk dalam keranjang sampah. "Yap straight!" seruku.


"Masalah uang lagi?" tebaknya karena aku tak kunjung bersuara.


Aku pun mengangguk. "Ternyata hidup di Ibu kota lebih kejam dari pada ikut ibu tiri," sahutku dengan nada mendesah.

__ADS_1


"Memang pernah ikut tinggal bersama ibu tiri?"


Sontak aku segera menggeleng. "Amit-amit deh Mbak!" kataku segera mengetuk keningku beralih pada menepuk-nepuk lantai. Lihat Bapak saja aku sudah gak sudi, apalagi untuk tinggal bersamanya atau pun tak bisa membayangkan juga bila harus dengan ibu tiri, gak itu gak mungkin dan tak kan terjadi, batinku.


Mbak Vina kian tertawa saja melihat tingkahku. Sementara Zahra yang tengah tertidur juga tak sedikit pun terganggu. Aku menghela panjang napasku lalu berujar, "Gimana kalau aku putus kuliah saja ya Mbak?"


Mbak Vina sontak menghentikan aktifitasnya. Dia no an terkejut sebab ini kali pertama aku mengatakan itu, padahal aku dulu sangat ngotot mempertahankan untuk tetap terus meneruskan pendidikan kuliahku yang tinggal setengah jalan lagi. Tapi menyadari posisi adikku yang tengah benar-benar butuh lebih dari aku, rasanya aku ingin memilih fokus untuk bekerja.


Bukan tanpa alasan, sebab Zahra yang berstatus anak berkebutuhan khusus tak cocok bila harus bersekolah di tempat yang sekarang. Baru kemarin aku menerima aduan darinya dan aku mendatangi pihak sekolah bahwa benar, Zahra telah menjadi korban bully disana.


"Zahra harus pindah sekolah Mbak," kataku yang kini menatap Zahra sendu. "Beberapa hari lalu dia mogok sekolah dan setelah kutanya apa sebabnya, ternyata teman-teman di kelasnya tak memberi perlakuan dengan baik," ucapku dengan mata memanas, air mataku meluruh begitu saja tanpa bisa kucegah.


"Walau begitu aku tetap memaksanya untuk masuk, dan mendatangi gurunya untuk bersikap lebih bijak lalu meminta agar memberi teguran pada murid-murid lain agar bisa bersikap baik sedikit pada Zahra. Tapi—," aku mulai terisak, susah sekali untuk menelan gumpalan saliva di tenggorokanku. "Tapi aku tetap aja gak tahu apa yang terjadi disana. Aku gak tahu, hingga— sikap Zahra sudah mulai berubah, dia tambah diam dan sering sekali emosi bila di rumah. Aku ingin sekali menutup mata, tapi— tapi rasanya gak bisa. Bagaimana keadaan dia, Zahra tetap adikku. Sudah selayaknya aku melindungi dia, menariknya dari—dari...."


Sungguh, aku sungguh tak bisa lagi menahan tangisku. Aku tak tahu Mbak Vina telah berada di sampingku, dia menariku untuk memelukku di tengah tangis yang tak bisa kutahan.

__ADS_1


Aku sedemikian rapuh ini, dalam hati aku menjerit, menyuarakan bahwa aku sudah gak sanggup menjalani kehidupan ini. Tapi Tuhan nyatanya selalu saja mengulurkan tangan-Nya lewat orang-orang terpilihnya seperti Mbak Vina yang telah meringankan bebanku dalam aku menjalani hidup disini, terlepas dari profesinya yang sungguh tak aku sukai.


To be Continue


__ADS_2